Senin, 29 Desember 2008

IT'S MOTHERS DAY


I Love You Mom



Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan perayaan hari ibu. Aku bahkan hampir lupa kapan perayaan hari ibu itu. Hingga kemudian aku ditugaskan untuk menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan perayaan hari ibu. Ada dua kegiatan yang harus aku laksanakan, pertama sebuah seminar tentang perempuan yang mampu memberi inspirasi bagi lingkungannya yang akan menghadirkan ibu gubernur dan sejumlah tokoh perempuan. Meskipun sempat terkendala berkali-kali bahkan hingga menit-menit terakhir Alhamdulillah akhirnya kegiatan itu terlaksana juga dengan baik. Kegiatan kedua adalah perayaan hari ibu di sebuah mal dipusat kota Pekanbaru yang menyajikan berbagai acara hiburan untuk ibu dan anak serta kunjungan dari seorang artis ibu kota. Acara itu pun berlangsung dengan semarak dihadiri oleh ratusan warga kota Pekanbaru. Minggu itu benar-benar merupakan minggu yang sibuk untukku.


Seperti yang selalu terjadi, pesta berakhir begitu cepat. Kemeriahan itu pun susut begitu saja. Segala kesibukan, hingar-bingar, hiruk-pikuk dan gelak-tawa pada akhirnya bermuara dikesunyian belaka. Tidak peduli betapa berat dan panjangnya perjuangan menciptakan pesta tersebut. Yang tersisa hanya lah sampah dan setangkup kenangan yang sepenuhnya jadi milik masa lalu. Aku kembali keduniaku. Sendiri dalam sunyi dan malam yang selalu kelam. Hingga kemudian aku terseret pada satu rasa yang begitu lekat dan dalam. Rasa rindu yang menyayat ruang kalbuku. Begitu dahsyatnya hingga aku merasa seakan terdampar sendirian disatu negeri asing yang tak pernah kudatangi. Aku merinding. Aku nelangsa. Aku berkutat dalam perasaan yang luar biasa hebatnya ....


Jika kemudian dunia mengajarkan kita untuk selalu memuliakan seorang ibu, bahkan hingga menempatkan syorga berada dibawah telapak kaki ibu, bagiku itu merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dipersoalkan lagi. Mengingat kita yang diciptakan dari hasrat cintanya, lalu dirawat, dijaga dan dimanja sejak kita masih berupa janin belaka hingga kemudian kita tumbuh menjadi seorang manusia sempurna. Entah berapa kali ia mengorbankan keinginannya, kesenangannya, kebutuhannya bahkan jiwa-raganya hanya demi kita anak-anaknya. Bahkan setelah kita begitu durhaka mengkhianati kasih-sayangnya seperti hujaman belati carut-marut diwajahnya namun seorang ibu akan selalu menghabiskan sebanyak mungkin waktu untuk mendoakan segala yang terbaik untuk anak-anaknya. Mulai saat ini jika ada yang datang padaku dan bertanya tentang cinta maka cinta yang sejati hanya lah cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Cinta yang sama agungnya dengan cinta Tuhan kepada makhluk-makhluknya. Cinta yang begitu ikhlas dan suci tak ternoda ....


Mama, ... aku terkenang dengan perempuan itu. Wanita sederhana dan selalu sederhana dalam hidupnya. Sejak kecil ia telah hidup dengan ibu tiri dan telah merasakan begitu banyak kesengsaraan. Ia tetap bersyukur meskipun hanya bersuamikan seorang pegawai rendahan dengan penghasilan yang bahkan selalu kekurangan. Ia bahkan ikut menafkahi kami anak-anaknya dengan menjahit pakaian tetangga, membuka kedai kecil didepan rumah, bahkan menjual lontong dan kue kering yang selalu dipersiapkannya dimalam buta. Tapi dia tidak pernah lelah. Dia tidak pernah resah. Dia juga tidak pernah mengeluh. Justru kami yang selalu rewel mempersoalkan segala kekurangan itu hingga membuatnya harus bekerja lebih keras dan lebih giat lagi. Mama seperti lentera yang harus menerangi gelap malam sendirian dan berjuang untuk bisa tetap menyala diantara desau angin malam yang dingin dan basah.


Mengenang Mama membuatku jadi begitu emosional. Insya Allah aku bisa menanggung luka sepedih apapun jika setan paling terkutuk dari dasar neraka mencelakaiku dengan cakar-cakarnya. Namun aku bisa dengan mudah luruh dalam derai air mata hanya karena mengenang perempuan itu. Aku tidak pernah tahu apakah dia pernah bahagia. Yang aku tahu ia sudah menderita sejak masa kecilnya. Bahkan ketika aku tumbuh jadi seorang remaja aku juga ikut menyakitinya. Aku melakukan banyak hal yang membuat hatinya terluka dan lara. Aku mencari kesenanganku dalam uraian air matanya. Aku bahkan pernah meninggalkannya begitu saja hanya karena ingin mencumbui kesombonganku semata. Namun selalu terbukti dan tidak pernah tidak bahwa perempuan yang sama yang selalu aku panggil Mama itu selalu saja jadi malaikat pelindungku. Saat luka berdarah-darah memenuhi tubuhku, saat kemunafikan dunia akhirnya menghukumku, saat nafasku pun tingal satu-satu, saat itu lah dia hadir merentangkan kedua sayapnya dan memelukku dengan penuh cinta. Seketika tanpa diminta dia hadir membentengiku dengan kenyamanan. Meskipun untuk itu dia justru harus mengorbankan dirinya. Ah, ... sejauh mana pun aku pergi, sebanyak apapun manusia yang aku temui, rasanya tidak akan pernah ada kasih-sayang seindah itu. Ya TUHAN yang maha berkuasa jika Engkau berkenan izinkan kelak aku membuatnya bahagia! Meskipun aku yakin itu itu tidak akan pernah bisa mencicil sedikit pun hutang-hutangku kepadanya ......



In The End of 2008

Minggu, 28 Desember 2008

REFLECTION



Back To Work ...



Aku tercenung cukup lama menyadari betapa ramahnya Pekanbaru menyambutku kali ini. Hanya dalam hitungan hari saja aku sudah diterima bekerja disebuah perusahaan media yang cukup ternama. Pekerjaan yang aku sukai. Kebetulan aku memang memiliki bakat dan minat yang besar dibisnis media. Rasanya aku telah menghabiskan separuh dari masa mudaku sebagai seorang pekerja media. So, ketika kali ini aku harus kembali kedunia yang sama aku merasa jeda waktu yang sempat terlepas selama ini seakan tertebus kembali. Ya, aku jadi begitu exciting. Aku mulai bersemangat.


Sebagian orang berpendapat pekerjaan sebagai seorang penyiar radio atau wartawan koran adalah pekerjaan yang cukup bergengsi. Penyiar radio dan wartawan koran selama ini sering diidentifikasi sebagai sosok anak muda yang pintar, serba tahu dan punya banyak teman. Aku pernah jadi penyiar radio dan juga pernah jadi wartawan koran. Aku pernah merasa cukup dihargai karena profesiku itu. Aku pernah benar-benar menikmatinya. Hingga kemudian hidup menuntut lebih dari sekedar kesenangan dan kepuasan batin. Hidup butuh lebih dari sekedar eksistensi dan idealisme. Hidup memaksaku untuk melihat realitas yang ada. Ketika itu lah pekerjaan sebagai penyiar radio atau pun wartawan koran seperti kehilangan citranya dimataku dan dimata orang-orang disekitarku. Status sebagai seorang pekerja media kemudian menjadi sesuatu yang amat sangat biasa. Bahkan pada saat-saat tertentu bisa jadi terasa sebagai beban. Apalagi pada saat calon mertua mulai bertanya tentang penghasilan ....


Tidak bisa dipungkiri maraknya industri media didaerah, baik media elektronik maupun media cetak, sering tidak disertai dengan perencanaan dan penyelenggaraan bisnis yang baik. Akibatnya pekerjaan sebagai pekerja media seperti kehilangan auranya. Jika sebelumnya jadi pekerja media itu harus pintar maka sekarang pintar saja ternyata tidak cukup. Untuk bisa bertahan hidup layak ditengah hantaman tuntutan ekonomi seorang pekerja media tidak lagi bisa hanya sekedar pintar tapi harus pintar-pintar. Sebuah guyonan yang sangat umum dikalangan pekerja media didaerah. Menggelikan sekaligus menyedihkan. Tapi demikian lah kenyataannya. Bahwa banyak diantara mereka yang masih harus gali lobang tutup lobang untuk kehidupan sehari-hari mereka, itu lah kenyataannya. Bahwa banyak diantara mereka yang masih harus hidup sangat sederhana dirumah kontrakan atau nebeng dirumah mertua, itu lah kenyataannya. Bahwa mereka tetap harus bekerja dibawah tekanan dan target yang ketat, itu lah kenyataannya. Jadi, selalu ada alasan jika banyak diantara mereka yang kemudian memilih cara lain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Bahkan dengan cara yang tidak seharusnya dilakukan sebagai seorang pekerja media. Sebuah ironi tapi sulit untuk dipungkiri.


Hal lain yang aku saksikan didunia media adalah tradisi yang tidak menguntungkan antara bidang produksi dan bidang bisnis. Selalu ada ego sektoral yang membuat sesuatu yang sederhana menjadi begitu rumit. Meskipun masing-masing sadar bahwa mereka bekerja demi kebesaran nama yang sama. Hal ini mungkin disebabkan perpektif yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan. Bidang produksi dalam hal ini rekan-rekan redaksi biasa memandang masalah secara idealis sementara rekan-rekan dibisnis cenderung lebih pragmatis. Redaksi berpikir tentang apa yang bisa mereka berikan sementara bisnis berpikir tentang apa yang mereka bisa dapatkan. Keduanya memiliki landasan kepentingan yang sama kuatnya. Tentu saja akan sangat menyenangkan bila kedua bidang itu bisa saling memahami dan memilih untuk saling mendukung satu sama lain. Jika saja itu terjadi maka mereka akan menjadi sebuah kekuatan yang solid dan saling melengkapi.


Jika kemudian aku merasa tetap berminat bekerja diindustri media tentu bukan karena semua kenyataan itu. Aku tidak terlalu khawatir jika harus menemukan tekanan yang demikian kuat, tuntutan yang begitu tinggi dan hiruk-pikuk kepentingan yang selalu tumpang-tindih. Aku pernah mengalaminya dan alhamdulillah aku bisa bertahan. Jikapun kali ini tantangannya akan lebih dahsyat maka aku akan menguji diriku seberapa jauh aku bisa bertahan. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Segala sesuatu yang diniatkan dan dilaksanakan dengan baik sejatinya akan membuahkan hasil yang baik pula. Aku mungkin seorang yang cukup moderat dan berpikiran terbuka terhadap berbagai hal namun aku relatif masih cenderung konservatif terhadap nilai-nilai. Aku selalu merasa bahwa aku telah terlahir dengan sesuatu yang ada didalam diriku. Sesuatu yang disebut dengan berkah, pemberian, bakat atau apapun istilahnya, yang harus aku eksplorasi seoptimal mungkin sebagai bekal dalam mengarungi kehidupanku selanjutnya. Jika memang dibisnis media lah semua itu bisa aku wujudkan lalu kenapa tidak? Jalan ini adalah jalan yang aku mau. Jalan yang aku pilih dan telah dipilihkan untukku. Jalan ini akan senantiasa terang dan lapang jika saja aku bisa jadi seorang yang ikhlas dan penuh dengan rasa syukur ....




In The End Of 2008

Sabtu, 27 Desember 2008

NEO PROLOG Part Two



VINI, VIDI, VICI ....


Pekat malam menyambut kedatanganku di Pekanbaru. Aku memilih untuk turun dipinggir jalan Tuanku Tambusai dimana aku pernah menghabiskan banyak waktu sebelumnya. Sebenarnya ada cukup banyak teman yang bisa aku datangi tapi malam ini terlalu larut untuk bertamu. Setidaknya aku harus menunggu pagi untuk mengganggu kenyamanan istirahat mereka. So, aku tidak punya banyak pilihan, aku harus menghabiskan sisa malam ini dipinggir jalan itu.


Ah, rasanya seperti deja vu. Aku seperti melakoni adegan yang sama seperti apa yang dulu pernah aku lakukan. Nyaris sepuluh tahun yang lalu. Ketika pertama kali aku mendatangi kota itu. Hanya saja dulu aku memasuki kota itu bersama seorang sahabat yang sangat aku hormati. Kami adalah dua remaja belia yang bertekad akan menjadi perantau-perantau tangguh yang hanya akan kembali pulang dengan membawa nama besar. Kota Pekanbaru belum lah sehebat saat ini. Kota Pekanbaru masih sebuah kota yang tengah menggeliat membentuk dirinya. Saat itu sama sekali tidak ada kekawatiran apa-apa untuk menjadikannya sebagai sebuah medan perjuangan. Rasanya kami cukup memiliki bekal untuk bisa ikut berperang mempertaruhkan kehidupan kami disana.


Hanya saja kami keliru. Bahkan setelah begitu banyak musim berganti kami masih menemukan diri kami berkeliaran dipinggir jalan. Menjadi bagian dari kelompok orang yang berputar-putar ditempat yang sama, mengkais keping-keping kecil rupiah dan semakin jauh terseret pada ketidakpastian. Setiap kali kami mencoba untuk membangun harap setiap kali pula kami menemukan langkah kami justru semakin jauh dari apa yang kami harapkan. Akhirnya sang sahabat menyerah dan memilih untuk kembali pulang. Sementara aku meneruskan perang itu sendirian. Meskipun sebagian jiwaku sudah hampir mati terbunuh.


Menarik mengenang masa lalu. Selalu ada sesuatu yang membuat kita tertegun, tersenyum dan merasa miris. Tapi hidup memang berjalan kedepan. Waktu tidak pernah sedetik pun menunggu. Terlalu lama berdiam hanya akan membuat kita semakin jauh ketinggalan. Masa lalu dengan segala pesonanya tidak lebih dari sekedar bagian dari kehidupan yang telah jadi kenangan. Sesuatu yang pantas untuk dipelajari namun tentu bukan untuk ditangisi. Bukankah dunia telah tercipta sangat lama, selama itu pula telah terkubur berjuta-juta sejarah kehidupan manusia? Aku sadar begitu banyak dan begitu berat perjuangan yang harus aku hadapi nanti. Tapi pada akhirnya hidup memang menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Bahkan ketika kita tidak memilih pun itu sudah merupakan sebuah pilihan. Dan setiap pilihan tentu akan melahirkan resiko ....


Bissmillahi rahmanni rahim, seiring dengan menyingsingnya fajar dibalik belantara beton kota Pekanbaru yang katanya bertuah itu aku mulai menapaki jalan yang aku yakini. Insya Allah jalan ini adalah jalan yang diberkahi, jalan menuju kemasa depan yang lebih baik. Jawaban dari semua doa dan kerinduan yang selama ini aku panjatkan tanpa jemu. Ya, semoga aku diberikan kekuatan, kemampuan dan kesempatan untuk mewujudkan apapun yang jadi mimpi2, cita2 dan cintaku. Semoga aku selalu dilindungi! Semoga aku selalu diberkati! Amien!



In The End Of 2008

Rabu, 17 Desember 2008

NEO PROLOG Part One





Apa Kabar Pekanbaru ... ?


Perjalanan menuju Pekanbaru seperti perjalanan menuju kemasa lalu. Meskipun hanya selang dua tahun sejak aku meninggalkan kota itu namun ada banyak hal yang membekas dalam dibenak dan batinku. Mungkin karena jeda waktu yang tidak terlalu lama itu pula kenapa bekas-bekas itu masih kuat terasa.


Terus-terang aku tidak pernah berharap akan kembali lagi ke Pekanbaru. Aku telah datang kepadanya dengan segala kemudaanku nyaris sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu aku begitu berharap akan ada sedikit keberuntungan yang akan merubah nasib burukku. Hari kehari, musimpun berganti, aku berjuang keras membunuh rasa frustasi dan bayangan setan yang selalu saja setia mengikuti. Tapi aku tidak pernah memilih untuk diam apalagi sampai berhenti. Dengan suluh yang semakin redup, pandangan semakin kabur dan tubuh yang semakin lesu aku tetap saja melangkah menyusuri jalan-jalan kecil yang panjang dan berliku. Tidak peduli jika harus jatuh, tersesat atau bahkan terjebak pada sesuatu yang tidak pernah aku inginkan. Kenyataannya aku masih saja terus melangkah. Membiarkan seluruh tubuhku penuh dengan tetesan keringat, darah dan air mata. Jika memang demikian lah harga yang harus aku bayar untuk sampai dinegeri yang begitu aku rindukan maka aku akan membayar semahal apapun itu.


Adalah pada suatu ketika, aku tidak lagi yakin dengan apa yang aku temukan. Dengan sedikit sentuhan yang romantis dan sentimental, Setan menghujamkan cakarnya tepat dijantungku. Begitu cepat, begitu hebat, hingga aku nyaris tidak menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah tersungkur dalam rasa pedih yang nyaris tak tertahankan. Ternyata Bidadari yang terlihat begitu indah dan terkesan begitu hangat adalah Setan yang terkutuk. Dia telah menuntaskan dendamnya kepadaku. Justru disaat aku mulai menapak jalan terang kenegeri yang selama ini aku dambakan. Ketika itu aku merasa telah kalah dengan sangat sempurna. Perjalanan panjang dan melelahkan yang selama ini telah aku tempuh akhirnya bermuara pada kesia-siaan belaka. Aku hanya menunggu detik-detik saja menjelang ajalku jika aku tidak segera memutuskan untuk kembali pulang kembali kekota asalku. Saat itu lah aku berjanji aku tidak akan kembali ke Pekanbaru, kota yang telah menaklukkanku dan menjadikanku seorang pecundang yang sejati.


Hampir subuh ketika mobil sewa yang aku tumpangi mulai memasuki Pekanbaru. Barisan pertokoan, lampu-lampu jalan, papan reklame dan warung tenda yang bertebaran, terkesan seperti sebuah parade penyambutan yang sendu. Ada sensasi yang berbeda yang aku rasakan. Ada gairah yang sulit untuk kukatakan. Seakan aku datang kesana untuk pertamakalinya. Memagut setangkup asa yang berkejaran dengan begitu banyak pertanyaan. Hmmm, Apa kabar, Pekanbaru? Aku datang kembali kepadamu! Mungkinkah kali ini aku akan mampu memetik bintang dilangitmu? Satu hal yang pasti aku telah banyak belajar dari masa lalu. Aku telah banyak meratap untuk itu. Kini saatnya aku menebus semua kekeliruan itu. Aku berjanji, sesaat saja setelah aku menyentuh lagi tanahmu maka aku akan segera berlari sejauh yang aku mampu, mengejar lagi semua mimpi-mimpiku yang sempat kau rebut .....


In The End Of 2008


Jumat, 22 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : MEMORY KANTONG PLASTIK

MEMORY KANTONG PLASTIK


Ini cerita ketika saya masih sangat belia. Sekian tahun yang silam. Ketika itu sekolah diliburkan. Karena seminggu lagi lebaran. Tiga orang teman datang mengajak saya jalan-jalan ke Bukittinggi. Sebenarnya saya ada rencana akan membantu Bapak beres-beres rumah. Meskipun rumah kami kecil mungil dapatnya juga nyicil. Sama seperti kebanyakkan rumah perumnas tipe sangat sederhana yang dindingnya terbuat dari batako, lantainya semen dan atapnya seng dengan pekarangan hanya sejengkal dari selokan. Ada pun begitu kami selalu melakukan segala yang terbaik setiap kali menjelang lebaran. Ya, meskipun hanya sekedar mengecat pagar dan merapikan tanaman. Setidaknya ada suasana yang sedikit berbeda dari hari-hari biasa. Sedikit lebih bersih dan lebih nyaman.

Karena teman-teman begitu bersemangat akhirnya saya terima juga ajakan jalan-jalan itu. Kebetulan salah-seorang teman berkesempatan membawa mobil abangnya. Jadilah sore itu kami keluyuran sampai ke Bukittinggi. Tiga setengah jam berkeliling rasanya puas juga. Hampir setiap sudut kota wisata itu kami kunjungi. Menyaksikan panorama alam, menikmati suasana nyaman serta berintermesso dengan sejumlah cewek yang kami temukan. Hh, dasar anak sekolahan.

Sebelum pulang teman-teman sekalian mau belanja pakaian untuk lebaran. Saya nggak tahu apakah itu juga bagian dari rencana karena tidak pernah disinggung sebelumnya. Tapi sayang juga jalan-jalan sampai sejauh itu kalau nggak sempat belanja-belanja. Bukittinggi memang terkenal sebagai pusat konveksi dan gudangnya pakaian dari product-product terbaik. Ketika itu saya hanya bisa menyaksikan betapa teman-teman saya begitu gembira keluar-masuk toko memilih dan mencoba berbagai jenis pakaian dari merek ternama. Terus-terang ketika itu saya juga berselera sekali ingin membeli pakaian baru untuk lebaran. Tapi saya tidak membawa uang yang cukup dan memang saya tidak pernah diberi bekal uang yang cukup untuk belanja-belanja menjelang lebaran. Rasanya sedih juga. Tapi saya berusaha keras untuk tidak menampilkan kesedihan saya itu. Saya berusaha untuk tetap mengikuti kegembiraan mereka setiap kali mereka keluar dari kamar pas dan meminta pendapat saya tentang pakaian yang mereka coba. Gimana bagus nggak, Nic? Saya mengangguk-angguk sambil memberikan sedikit komentar. Lalu membiarkan mereka kembali asik memilih yang lain. Hingga kemudian mereka mengakhiri petualangan mereka itu dengan membawa beberapa kantong belanjaan

Saya hanyut dalam gelombang perasaan yang beragam. Rasanya seperti timbul-tenggelam dalam kebingungan. Setelah saya periksa ternyata saya masih punya beberapa lembar sepuluh ribuan dikantong saya. Tapi tentu saja itu tidak cukup bahkan membeli separuh saja dari pakaian seperti mereka. Pada suatu ketika kami beristirahat disebuah rumah makan dipasar wisata yang biasa juga disebut sebagai pasar aua tajungkang. Dari jendelanya saya melihat satu sudut pasar yang mempejualbelikan pakaian-pakaian bekas yang biasanya diselundupkan secara ilegal dari negara-negara tetangga. Tidak tahan ingin memiliki pakaian baru untuk lebaran diam-diam saya permisi dan bergegas kesana. Untung teman-teman saya juga sedang asik bercanda ria hingga tidak terlalu memperhatikan saya pergi kemana. Sepertinya mereka percaya saja ketika saya katakan saya ingin menemui saudara saya yang berjualan didekat sana.

So, demikianlah, saya bergabung dengan sejumlah orang mengaduk-aduk tumpukan pakaian bekas yang ada disana. Tempat itu hanya sebuah los kecil yang sempit dan pengap. Tentu saja tidak dilengkapi dengan pendingin udara seperti toko-toko pakaian sebelumnya. Tapi bukan itu saja yang membuat saya banjir dengan keringat juga karena aktifitas memilah pakaian itu cukup menguras tenaga. Disamping saya juga deg-degan jika sewaktu-waktu ada teman yang memergoki saya berada disana. Please God, jangan sampai! Saya bisa mati berdiri karena harus menanggung malu. Syukurlah, setelah hampir setengah jam berkutat dengan tumpukan pakaian itu, akhirnya saya berhasil membawa pulang satu lembar celana dan satu lembar kemeja yang kondisinya masih cukup bagus. Saya tidak peduli pakaian kusut itu bekas dipakai siapa. Apakah pemilik lamanya seorang yang bisa menjaga kebersihan atau tidak. Setidaknya saya bisa ganti penampilan lebaran kali ini. Meskipun hanya dengan pakaian bekas.

Tapi ternyata masalahnya tidak cukup sampai disana. Sepanjang perjalanan pulang saya terpaksa berbohong dengan seribu satu alasan setiap kali ada teman-teman yang bertanya isi kantong kresek yang saya bawa. Bahkan saya harus mati-matian menahan teman-teman saya yang iseng ingin mengintip apa yang tersembunyi didalam kantong plastik hitam itu. Untungnya pakaian-pakaian itu sempat dibungkus dengan kertas koran sebelumnya. Hingga alasan saya mengatakan bahwa itu cuma barang titipan untuk Bapak tetap berlaku hingga kami kembali pulang. Sesampai dirumah tidak terbayangkan betapa leganya hati saya. Sampai-sampai saya ketiduran dengan masih memeluk kantong plastik hitam itu. Segala yang bisa saya miliki untuk lebaran kali ini ...

Sekian tahun berlalu, hidup telah mengajari saya tentang banyak hal. Seperti pepatah mengatakan, Alam takambang jadi guru. Tidak terbayangkan betapa seringnya saya dihadapkan pada dilema seperti itu. Ketika saya harus berperang melawan perasaan segan, takut, malu, gengsi, sedih yang semuanya berangkat dari kenyataan yang membuat saya rendah diri. Sepertinya hidup tidak lagi punya tempat bagi siapapun yang terkurung dalam perasaan rendah diri. Sibuk mengasihani diri sendiri dan menyalahkan semua orang atas derita yang kita alami. Apalagi jika sampai frustasi lalu dengan alasan nasib kemudian menggadaikan martabat dan harga diri asal bisa menjadi seperti yang kita ingini.

Saya menjalani perang panjang hanya untuk bisa mengalahkan perasaan inferior didalam diri saya. Tapi saya percaya sesuatu yang diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Pengalaman telah membuat saya hidup dengan kekuatan yang berbeda. Bahkan sekarang saya sudah tidak peduli lagi jika harus berhadapan dengan siapapun. Apakah mereka pejabat tinggi, pengusaha sukses, orang terkenal, orang pintar, didepan saya mereka adalah sama. Saya selalu siap jika harus berdiskusi dan berdialog dengan mereka kapan saja dan dimana saja. Bukan kah Tuhan telah menciptakan kita dengan cara yang sama dan memberkati kita hidup dengan bagian-bagian yang berbeda. Tentu saja setiap kita akan dimintakn pertanggungjawaban atas bagian kita masing-masing. Syukurlah, bagian saya didunia ini tidak terlalu banyak jadi pertanggungjawabannya pun tentunya tidak terlalu berat. Lalu, bagaimana dengan anda?

Nico Surya , Padang - Februari 2008



Kamis, 14 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : NIKMAT YANG DIPERSOALKAN

NIKMAT YANG DIPERSOALKAN

Seorang teman lama menemui saya suatu ketika. Kebetulan ia sedang dalam perjalanan kerja dan berkesempatan untuk mengunjungi saya. Namun ia sangat terkejut ketika mendapati saya sudah sedemikian tambur padahal baru satu setengah tahun sejak pertemuan kami terakhi. Ada dua hal yang disampaikan teman saya ketika itu, pertama ia menganggap saya sudah sukses dan bahagia. Kedua ia menilai penampilan saya terlihat jauh lebih tua dan lebih buruk.

Terus-terang saya memang sedang bermasalah dengan berat badan. Akhir-akhir ini berat badan saya melonjak hingga tiga-empat kilo. Saya jadi terlihat gemuk, gendut dan tambun. Tapi bukan berarti saya telah menjadi seorang yang sukses dan bahagia. Jika ukuran sukses dan bahagia adalah seorang yang punya banyak uang dan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Saya jelas bukan bagian dari orang sukses itu. Saya hanya seorang pemuda biasa dengan penghasilan seadanya. Bahkan hidup saya jauh lebih sederhana dari sebelum-sebelumnya yang cenderung lebih ekstravaganza. Hanya saja sekarang saya merasa lebih menikmati hidup dan kehidupan saya dengan segala keterbatasan-keterbatasannya. Jika itu ukuran sukses dan bahagia, ya, saya memang sedang sukses dan bahagia.

Soal penampilan saya yang katanya terlihat lebih tua dan lebih buruk, siapapun tentunya tidak akan suka dengan keadaan itu. Termasuk saya. So, pasca obrolan dengan teman lama itu saya mulai sibuk memikirkan cara praktis dan mudah mengembalikan kondisi tubuh saya seperti semula. Cara paling masuk akal tentulah dengan sering berolah raga dan mengatur pola makan. Sayangnya sejak dahulu kala saya termasuk orang yang sangat enggan berolahraga. Meskipun saya bisa bercerita panjang lebar tentang Real Madrid Tim sepak bola favorit saya atau Casey Stoner pembalap pujaan saya. Tapi bukan berarti saya tertarik untuk mencoba menjadi seperti mereka. Adalah seorang teman yang kebetulan memiliki Gym pribadi dirumahnya, kami sepakat untuk latihan dua kali seminggu dan kesepakatan itu pun hanya bertahan selama dua minggu. Bahkan setiap kali pertemuan waktu efektif saya berolahraga paling hanya setengah jam saja. Itu pun sudah cukup membuat saya tersengal-sengal dan banjir dengan keringat. Walhasil setiap kali habis olahraga saya selalu melampiaskannya dengan tidur sepuas-puasnya. Tentu saja hal itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa terhadap tumpukan lemak ditubuh saya ....

Selanjutnya saya lebih fokus pada pengaturan pola makan. Ternyata mengatur nafsu makan ini sama saja beratnya dengan berolahraga. Malah terkadang terasa jauh lebih berat. Jika sebelumnya saya bebas saja menyantap apapun yang saya temukan. Sekarang saya harus pandai-pandai menahan diri. Susah-payah saya berlagak tidak kenal lagi dengan semua pedagang gerobak yang sering lewat didepan rumah saya. Meskipun beberapa diantara mereka yang mungkin karena ketidaktahuannya masih saja berhenti dan bersorak-sorak didepan pagar rumah saya berharap saya akan keluar dengan membawa sebuah mangkok kosong seperti biasa. Belakangan saya juga sering merasa amat sangat bersalah ketika harus berbohong dengan berbagai macam alasan menolak suguhan sarapan lontong pecel buatan Ibu yang tentunya sudah mempersiapkan itu sejak pagi buta atau ketika ada teman, rekan kerja atau bahkan salah-satu relasi yang dengan segala kegembiraannya mengajak saya hang out sekalian makan siang diluar.

Pernah suatu ketika seorang gadis manis yang sepertinya sedang terbius oleh pesona saya hingga kemudian kasmaran tak tertahankan mengajak saya makan malam disebuah restoran yang cukup ternama. Kebetulan ia sedang ulang tahun dan ingin mentraktir saya. Ia bahkan sengaja memilih restoran yang menyajikan menu favorit saya. Entah ia dapat informasi dari infotainment yang mana pula. Sialnya sebelum itu saya terlanjur menepati jadwal makan sore saya. Menurut aturan pola makan saya seharusnya saya tidak makan apa-apa lagi hingga esok pagi. Duh, Anda bisa bayangkan betapa beratnya perang batin yang harus saya hadapi ketika itu. Duduk menemani seorang gadis yang sedang bahagia, entah karena sedang ulang tahun entah karena sedang jatuh cinta, Tepat didepan kami bergelimpangan makanan dan minuman enak kesukaan saya. Aromanya berebutan seakan hendak mencakar-cakar pikiran saya. Ya, ya ... kadang cinta itu memang kejam tapi saya tidak menyangka akan sampai sekejam itu ....

Entahlah, Lama-lama saya mulai merasa tidak nyaman lagi dengan hidup saya. Hanya untuk bisa sedikit lebih langsing saja agar terlihat keren dan awet muda saya terpaksa harus mengecewakan diri saya sendiri, mengecewakan orang-orang baik disekitar saya, saya bahkan terpaksa harus kehilangan begitu saja moment-moment terindah dalam kehidupan saya yang seharusnya bisa saya nikmati bersama-sama dengan mereka. Tidak jarang saya jadi begitu senewen merasa tiba-tiba seakan menjelma jadi seorang agen rahasia yang sedang dalam misi penyamaran yang harus hidup dengan segudang kebohongan dan tega melihat orang-orang lain kecewa. Lama saya menimbang-nimbang, duduk sendirian saat malam larut dalam keheningan dan angin yang bertiup perlahan-lahan, sementara disana langit bertabur dengan bintang dan sepotong bulan muda yang terlihat kusam. Tiba-tiba saya mendapat wangsit untuk segera menjadi nabi em, maksud saya segera menghentikan omong-kosong itu.

Saya sudah terbiasa tampil apa-adanya lalu kenapa saya harus belingsatan hanya karena seorang teman tidak suka dengan penampilan saya sekarang? Toh menjadi gemuk itu bukan sebuah kesalahan dan sama-sekali bukan dosa. Menikmati rejeki yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita jsutru adalah bentuk dari rasa syukur yang nyata. Selagi masih sehat dan tidak berlebihan kenapa harus dipersoalkan? Saya jadi ingat betapa selang sekian tahun yang lalu saya juga pernah begitu uring-uringan karena masalah berat badan. Betapa dulu pola makan saya benar-benar berantakan. Maklum ketika itu saya hanyalah seorang perantauan yang kerja serabutan. Ya, Kalau ada rejeki saya bisa makan enak. Tapi seringnya justru makan seadanya bahkan lebih sering lagi hanya makan mie instan saja. Itu pun kadang harus ditunda-tunda dulu sampai benar-benar lapar. Hm, Ingatkah engkau kepada embun pagi yang bersahaja yang menemani sebelum cahaya .....


Nico Surya, Padang, Februari 2008





Minggu, 10 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : SWEET CHILD O'MINE

SWEET CHILD O’MINE

Pada banyak kesempatan saya selalu dengan rasa penuh bangga bercerita pada teman-teman dekat saya betapa saya sangat mencintai masa kecil saya yang menurut saya sangat lah indah tiada tara. Setiap kali saya bercerita maka saya akan selalu merasa begitu bersemangat dan biasanya sulit untuk berhenti. Meskipun pada akhirnya saya tetap saja merasa hampa karena masa lalu itu telah terlalu jauh tertinggal dan tak mungkin lagi untuk ditemukan kembali.

Adalah sebuah desa yang begitu indah dan sejuk dengan nuansa alam perbukitan, lembah, sungai dan sawah yang terhampar luas berjenjang-jenjang. Kami menempati sebuah rumah kayu berbentuk rumah panggung dengan atap bergonjong layaknya rumah adat minangkabau yang banyak ditemukan didaerah-daerah. Setiap pagi hari saat kampung kami masih diliputi kabut embun dan sinar matahari masih samar-samar Ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan berupa lontong atau bubur kacang hijau untuk Bapak yang akan berangkat kerja dan saya yang akan pergi sekolah. Saya sekolah disebuah SD Inpres atau isntruksi presiden yang pada saat itu banyak dibangun didaerah-daerah. Sekolah saya terletak dipuncak bukit hingga untuk bisa sampai kesana setiap hari saya harus melewati jalan berliku sepanjang hampir lima kilometer. Tapi biasanya kami lebih suka mengambil jalan pintas melalui dinding bukit yang terjal yang bisa menyingkat jarak hampir separuhnya. Hanya saja kalau sedang musim hujan kami sering tergelincir dan sampai disekolah dengan seragam yang penuh dengan lumpur. Tapi tidak seorang pun diantara kami yang disuruh pulang karena kotor sebab sebagian dari para guru pun sering sampai disekolah dalam keadaan berlumpur. Sekolah kami juga dilengkapi dengan sebuah kantin yang dikelola oleh keluarga penjaga sekolah. Jajanan kesukaan saya ketika itu adalah kerupuk dari ubi yang lebar berbentuk bulat pipih yang dilapisi kuah sate dan ditaburi mie putih. Saya harus membuka mulut saya lebar-lebar setiap kali akan memakan kerupuk itu agar mulut saya tidak belepotan dengan kuah sate. Hmm, lezat.

Siang sepulang sekolah saya biasanya menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman disebuah kebun yang dipenuhi dengan pohon-pohon jati. Saya suka main perang-perangan dengan menggunakan pelepah pisang sebagai senjata dan daun bunga liar sebagai topi. Kadang-kadang kami nekat main hingga kepematang-pematang sawah. Kami berlarian dengan lincah meskipun ukuran pematang itu sangatlah kecil. Kami sering nonkrong lama-lama dipondok mungil ditengah sawah sambil menyelesaikan pe-er. Sesekali kami mengusir burung-burung punai yang ingin merusak padi dengan menggerak-gerakkan orang-orangan sawah. Ketika senja datang menjelang kami berebutan naik kepedati petani yang hendak pulang. Pedati itu ditarik seekor sapi yang jalannya amat lah pelan. Sebelum pulang kerumah kami singgah disebuah tempat pemandian berupa aliran sungai yang dibuatkan beberapa pancuran. Airnya sejuk sekali. Sesampai dirumah biasanya saya menemukan Ibu tengah menyuapi adik-adik sementara Bapak sibuk menyalakan lampu petromaks. Maklum ketika itu kampung kami memang belum dialiri listrik. Hingga untuk penerangan malam kami harus menggunakan lampu teplok dan lampu petromaks yang selalu dikerubuti laron-laron. Berhubung dulu belum ada televisi maka sejak maghrib saya sudah meninggalkan rumah menuju surau yang terletak disatu sudut kampung. Disana sudah menunggu teman-temanku yang lain yang juga mengenakan sarung, peci dan membawa buku juz amma. Kami selalu berebutan untuk menabuh beduk dan memekikkan adzan ketika waktu shalat tiba. Usai shalat Isya kami belajar mengaji dengan seorang ustad yang waktu itu begitu kami hormati. Pengajian itu berlangsung hampir setiap malam dan biasanya baru selesai menjelang tengah malam. Bahkan tidak jarang kemudian kami sekalian saja menginap disurau bersama teman-teman yang lain. Tapi biasanya disana kami jadi susah tidur karena asik bercanda dan bercerita. Kami baru bisa tidur setelah benar-benar kecapean. Hingga kemudian waktunya shalat subuh tiba. Kami pun tidak lagi berebut menabuh beduk atau meneriakkan azan karena semuanya masih pada ngantuk. Usai shalat subuh berjamah baru kemudian kami pulang kerumah masing-masing dan bersiap untuk kesekolah.

Pada saat-saat tertentu, ketika saya sedang sendirian, bosan dengan segala rutinitas hidup yang menyebalkan serta sedang ingin jeda dari semua kemunafikan dunia, saya sering hanyut dalam fragmentasi kehidupan masa lalu khususnya masa kecil saya itu. Betapa saya begitu merindukannya. Amat sangat merindukannya. Begitu rindunya hingga kadang-kadang saya ingin mengoyak kembali tabir waktu dan kembali seperti dulu. Ketika saya masih seorang bocah kecil yang bebas berlari, bermain, tertawa, menari bahkan menangis sesuka hati. Ketika semuanya hanyalah apa yang kita rasakan dan apa yang kita nikmati. Ketika semuanya masih begitu luhur, tulus dan sederhana sekali. Namun kenyataannya sekarang semua itu sudah jadi sesuatu yang mahal bahkan nyaris mustahil. Sekarang semua itu hanya mimpi. Dongeng penghantar tidur yang tak lagi memiliki arti. Hanya kenangan .....

Nico Surya , Padang, Februari 2008







CATATAN NICO SURYA : AKU CINTA KAU dan DIA

AKU CINTA KAU dan DIA

Saya punya teman namanya sebut saja Rudi. Pertama saya mengenalnya Rudi hanyalah seorang sarjana yang kerja serabutan. Tapi saya melihat ada kemauan yang keras didirinya untuk menjadi seorang pekerja professional. So, kebetulan waktu itu saya juga sedang berada dalam posisi yang cukup strategis dan punya cukup jaringan kerja maka saya merekomendasikan dia untuk bekerja disalah-satu perusahaan keuangan. Awalnya Rudi menolak karena merasa bekerja sebagai seorang marketing bukanlah pekerjaan idamannya. Ia juga merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang sarjana tekhnik. Namun setelah aku yakinkan bahwa ini adalah peluang untuk memulai sesuatu yang besar maka ia pun mau mencobanya. Setelah tentunya butuh waktu untuk belajar dan membiasakan diri dengan profesi barunya itu akhirnya Rudi mulai bisa mengoptimalkan kemampuannya. Terbukti ia mulai bisa menyelesaikan setiap tugas yang dibebankan kepadanya.

Suatu ketika Rudi dapat tawaran baru dengan iming-iming pendapatan dan fasilitas yang lebih baik dari yang didapatkannya saat itu. Sebagai seorang pekerja muda yang sedang giat-giatnya mengejar kemapanan maka Rudi pun tidak menyia-nyiakan peluang emas itu. Ia kemudian memutuskan untuk jadi seorang pekerja ganda. Tentu saja dengan demikian potensi pendapatannya akan bertambah dua kali lipat bahkan lebih. Tapi beban tugas dan tanggung jawab yang harus dia tanggung juga melonjak drastic. Apalagi Rudi melakukan hal itu secara diam-diam alias tanpa seizin dari perusahaan-perusahaan dimana ia bekerja.

Bulan-bulan pertama semuanya masih bisa atasi. Meskipun untuk itu Rudi harus pintar-pintar membagi waktu dan pintar-pintar mencari alasan jika sewaktu-waktu keberadaannya dipertanyakan. Namun lama-lama Rudi merasa jengah juga karena hari-harinya tidak pernah lepas dari kebohongan. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu masing-masing perusahaan menambah beban tugasnya hingga ia pun semakin kerepotan untuk membagi waktu, tenaga dan pikirannya. Bahkan semakin kesini semakin banyak tugas yang tidak terlaksanakan dengan baik. Seperti pepatah lama mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Rudi pun tidak bisa mengelak ketika tiba-tiba ia dipergoki tengah melakukan pekerjaan lain saat harus mengerjakan tugas penting dari perusahaan. Akhirnya Rudi pun harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan salah-satu dari pekerjaannya. Rudi kemudian mencoba focus dengan pekerjaan lainnya. Hanya saja ternyata pekerjaan itu tidak senyaman pekerjaannya semula. Meskipun dari pekerjaan itu ia mendapatkan lebih tapi ia sama-sekali tidak menemukan suasana kebatinan yang bisa membuat ia bekerja dengan semangat dan suka cita.

Ternyata pekerjaan itu sama saja dengan pacaran. Setiap kita punya klasifikasi pekerjaan atau pacar idaman masing-masing. Namun tidak serta merta kita bisa mendapatkan pekerjaan dan pacar seperti yang kita inginkan. Seringkali kita justru dipertemukan dengan pekerjaan dan pacar yang jauh berbeda dari apa yang selama ini kita idam-idamkan. Hingga kemudian kita harus lebih banyak sengsara daripada bahagia. Tapi hakikatnya dalam pekerjaan atau pun pacaran sama-sama dibutuhkan keseriusan dan kemauan untuk saling memahami. Jika pekerjaan atau pacaran dijalani sekedar iseng atau coba-coba maka kita pasti akan tetap memiliki kecenderungan untuk selingkuh alias mendua. Kita juga akan tetap memiliki kecenderungan untuk tergoda pada sesuatu yang terlihat lebih menarik.

Jadi pekerjaan itu sama saja seperti pacaran. Sebaiknya dalam memilih pekerjaan atau pun memilih pacar kita tidak melulu melihat dari kesannya atau kemasannya saja. Sesuatu yang terlihat bagus belum tentu baik untuk kita. Seperti halnya pacaran dalam pekerjaan kita juga bisa putus berkali-kali karena sudah tidak ada lagi kecocokan. Hingga kemudian kita dipertemukan dengan sesuatu yang memang sudah jadi bagian dari takdir hidup kita. So, pada akhirnya saya ingin mengatakan bekerja lah dengan penuh cinta, ketulusan dan keikhlasan semoga pekerjaan itu akan membawa kebahagiaan untuk kita hingga kemudian maut memisahkan … Amien


Nico Surya, Padang, Februari 2008



CATATAN NICO SURYA : ANTARA AKU dan SI TUKANG CUKUR


ANTARA AKU DAN SI TUKANG CUKUR

Ini adalah sebuah kisah yang terjadi disatu bagian masa lalu saya. Sebuah kisah yang mungkin terkesan biasa dan sederhana. Namun setidaknya saya telah belajar sesuatu dari peristiwa itu. Mudah-mudahan kisah ini juga bias memberi inspirasi kepada Anda semua.

Alkisah pada suatu ketika saya bubaran kerja agak telat karena harus menyelesaikan laporan bulanan yang harus saya pertanggungjawabkan esok pagi. Sementara saya juga berkepentingan untuk memperbaiki penampilan saya agar tidak terkesan kacau saat rapat perusahaan nanti. Berhubung malam sudah mulai larut. Saya tidak punya banyak pilihan bahkan untuk sekedar potong rambut. Akhirnya saya memutuskan untuk potong rambut dimana saja tempat pangkas rambut yang masih buka. Setelah menyusuri seperempat wajah kota akhirnya saya menemukan juga sebuah tempat pangkas yang masih buka. Sebuah tempat yang sangat sederhana dengan sejumlah potongan kaca dan poster model rambut jaman beheula. Sama seperti kebanyakan tempat potong rambut yang biasa kita temukan dipinggir-pinggir jalan. Kebetulan Si tukang cukur juga sedang bermalas-malas sambil menyaksikan tayangan televise 14 incinya yang parker disalah-satu sudut ruangan. Setelah berbasa-basi sebentar saya langsung saja memintanya merapikan rambut saya yang sudah mulai panjang dan awut-awutan.

Seperti biasa sambil melaksanakan tugasnya si Tukang Cukur mengajak ngobrol dengan satu-dua pertanyaan yang tentunya saya tanggapi sebagaimana mestinya. Namun pada menit-menit selanjutnya si Tukang Cukur mulai menarik obrolan itu semakin dekat dengan kehidupan pribadinya. Berawal dari biaya hidup yang semakin tinggi sementara penghasilannya masih jauh dari memadai. Sementara ia tidak punya sumber penghasilan lain selain menjadi tukang cukur. Itu pun masih harus dibagi dengan si pemilik tempat. Lama-lama obrolan itu lebih terkesan seperti curahan hati alias curhat. Tapi saya tetap mendengarkannya. Apalagi yang bias saya dengarkan saat suasana malam itu mulai sepi sementara kepala saya masih dalam genggamannya. Meskipun pada awalnya saya sempat dibuat terkantuk-kantuk mendengarkan kisahnya namun pada akhirnya saya justru jadi tertarik dan berusaha memancingnya untuk bercerita lebih banyak lagi.

Si Tukang Cukur yang ternyata masih sedikit lebih muda dari saya, meskipun tentunya saya sendiri juga masih cukup muda, ternyata punya latar belakang yang cukup memadai. Setidaknya ia menyandang predikat sarjana muda dari sebuah akademi swasta yang tidak terlalu ternama. Awalnya ia telah mencoba untuk mencari pekerjaan yang sesuai namun setiap lamaran yang ia kirimkan selalu berakhir dengan tanda-tanya sebesar dunia. Pernah sekali ia bekerja sebagai tenaga marketing disebuah penerbitan buku namun karena pengalaman dan bakat bisnisnya yang sangat terbatas ia sering gagal mencapai target yang ditetapkan perusahaan hingga komisi yang ia dapatkan pun tidak lebih dari sekedar uang transport. Sementara sepeda motor yang terlanjur ia kredit dengan DP ringan akhirnya harus beralih tangan alias over credit. Masalah ternyata tidak selesai sampai disana. Pacar yang dinikahinya setahun setelah diwisuda itu melahirkan putra mereka yang pertama. Namun karena kurangnya biaya persalinan mereka terpaksa meminjam pada saudara yang pada akhirnya justru memicu sikap-sikap yang tidak simpatik dan melecehkan. Tidak tahan dengan semua tekanan dan sindiran itu mereka memutuskan untuk merantau kekota hingga kemudian ia hidup sebagai tukang cukur.

Terus-terang saya tidak tahu kenapa si Tukang cukur itu mau begitu terbuka bercerita kepada saya. Saya juga tidak yakin dia akan menceritakan kehidupan pribadinya itu pada setiap orang yang bercukur padanya. Yang saya tahu ia begitu senang bisa menceritakan masalahnya kepada saya. Meskipun saya tidak memberikan solusi apa-apa menanggapi masalahnya itu tapi sepertinya ia cukup senang saya telah mendengarkannya. Bahkan ketika saya selesai bercukur dan menyerahkan selembar sepuluh ribuan diluar dugaan si Tukang cukur justru menolaknya. Saya tahu meskipun hanya sepuluh ribu tapi ia sangat membutuhkan itu. Tapi ada yang sepertinya saya kurang tahu ketika itu bahwa ia sedang butuh didengarkan. Kebutuhan yang tidak mengenal status dan strata social. Saya yakin dan percaya semua kita pernah merasa butuh untuk benar-benar didengarkan. Hingga ketika ada seseorang yang mau mendengarkan kita sepertinya sebagian dari beban yang sedang kita tanggung seakan berkurang. Dan itu cukup membuat kita merasa sedikit lebih nyaman.

Jika setiap orang memiliki kecenderungan untuk ingin didengarkan maka kita bisa saja dekat dengan siapapun yang kita inginkan jika kita bisa jadi seorang pendengar yang baik. Demikian lah kenapa banyak orang sukses mengatakan bahwa menjadi seorang pembicara yang baik sama pentingnya dengan jadi seorang pendengar yang baik. Dengan menjadi seorang pendengar yang baik dan sungguh-sungguh maka kita berkesempatan untuk dekat secara emosional dengan orang-orang disekitar kita. So, meskipun berat sepertinya tidak ada salahnya jika kita mulai belajar untuk bisa mendengarkan.

Nico Surya, Padang, Fabruari 2008

CATATAN NICO SURYA : SEDIH TAK BERUJUNG

CATATAN NICO SURYA : SEDIH TAK BERUJUNG

Pada suatu ketika yang sangat tidak terduga, setelah menjadi seorang lajang esmud cukup lama, tiba-tiba saya kembali terperangkap dalam perasaan kasmaran yang luar biasa. Pada saat itu saya merasakan sesuatu yang telah lama saya lupakan. Sesuatu yang sangat pribadi dan istimewa. Ya, saya jatuh cinta. Entah bagaimana semua itu bisa terjadi. Tapi itu terjadi. Tiba-tiba saja saya merasa terpengaruh dan mulai ketergantungan akan dirinya. Saya merasa begitu terikat secara emosional kepadanya. Orientasi hidup saya pun mulai bergeser terfokus hanya untuk menyenangkannya. Sebisa mungkin membuat dia selalu gembira. Rasanya pesta sehebat apapun tidak akan mampu membuat saya bahagia lebih dari menyaksikan senyum dan candanya. Untuk itu saya merelakan setiap tetesan keringat, darah dan air mata saya semata-mata demi untuk kesenangannya. Apa saja yang ia inginkan. Bahkan apa saja yang tidak ia katakan. Meskipun ia sendiri lebih menganggap sikap dan perhatian saya itu sekedar intermezzo belaka. Tapi bagi saya, bisa melakukan sesuatu untuknya saja telah cukup membuat saya merasa begitu berarti. Demikian lah kenapa semua orang didunia seakan sepakat mengatakan Love is Blind. Demikian juga kenapa orang-orang didunia tidak protes ketika ada yang mengatakan cinta itu something stupid.

Sialnya, kemelut perasaan yang tidak menentu itu justru terjadi disaat saya sedang menapaki tangga karir yang cukup strategis. Jika saja saya bisa menyelesaikan ujian itu dengan baik maka promosi jabatan yang jauh lebih prestisius sudah pasti saya dapatkan. Namun apa daya tenaga, pikiran dan perasaan saya terlanjur habis hanya untuk mengurusi sang pujaan hati. Kinerja saya jadi menurun, performance saya juga memburuk, saya gagal menjaga citra saya sebagai seorang pekerja profesional. Hingga akhirnya saya pun terpental jatuh dari tangga karir yang telah saya upayakan dengan susah-payah. Lalu apa yang saya temukan kemudian, hidup baru yang carut-marut dan penuh dengan ketidakpastian. Saya harus kembali memulai perjuangan saya dari titik nol. Sementara syurga yang tadinya begitu saya yakini perlahan tapi pasti memudar jadi sebentuk bayangan yang samar bahkan nyaris hilang dari pandangan. Gadis itu pergi begitu saja menciptakan syurganya sendiri bersama seorang bajingan lain. Ia meninggalkan saya justru disaat saya sedang benar-benar membutuhkannya sebagai tempat saya bersandar dan berbagi atas semua kegundahan yang tengah saya alami. Hingga saya harus menghadapi keterpurukan itu sendiri .....

And the story goes .... Mantan kekasih datang menyampaikan rasa sesalnya sekaligus meminta restu akan rencana pernikahannya. Entah dengan bajingan mana pula. Aku mencoba untuk tidak peduli. Namun rasa sakit itu masih ada, luka itu masih basah, amarah itu pun masih belum sepenuhnya reda. Ternyata sulit, amat sangat sulit, untuk dapat sembuh dari luka karena cinta. Rasa sakit karena patah hati. Pedihnya dikhianati. Meskipun saya pernah berkata bahwa rasa sayang saya kepadanya jauh lebih kuat dari rasa sakit yang harus saya derita ....

Susah-payah saya berijtihad untuk dapat menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Namun sifat manusiawi saya membuat saya sulit untuk bisa memaafkannya. Bahkan saat-saat menjelang hari bahagianya saya masih timbul-tenggelam dalam gejolak perasaan yang tidak menentu. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk tetap memaafkannya. Meskipun saya tetap tidak menghadiri pesta pernikahannya. Saya juga mendoakan segala yang terbaik untuknya. Semoga pernikahan ini adalah jalan menuju kebahagiaan hidup yang dicita-citakannya. Bukankah hakikat dari cinta itu adalah membuat seseorang yang kita cintai senantiasa hidup dalam kebahagiaan. Jika itu jalannya untuk bahagia lalu apa lagi yang harus saya persoalkan?

MP, Memaafkan atau tidak memang menjadi hak masing-masing kita. Kita boleh memaafkan atau tidak setiap orang yang pernah menyakiti kita. Seperti orang lain yang juga boleh memaafkan atau tidak kesalahan-kesalahan kita. Namun memberi maaf atas kekhilafan orang lain nilainya tetap jauh lebih utama daripada menyimpan dendam kesumat yang hanya akan membebani hidup kita selamanya. Toh kita sendiri juga bukan manusia sempurna yang bebas dari kesalahan-kesalahan dimasa silam. Memaafkan menjadi sesuatu yang amat sulit dilakukan selagi kita memandang setiap persoalan hanya dari sudut pandang kepentingan kita saja. Kita yang merasa teraniaya, merasa tersakiti, pihak yang dikorbankan dan merasa pantas untuk dikasihani. Padahal bisa saja kita sengaja atau tidak juga berperan menyebabkan semua kesalahan itu terjadi .....

Adalah penting untuk selalu berpegang pada sejarah agar kita tidak memandang masa depan seperti seorang yang buta. Namun sejarah hanya layak untuk dijadikan cerminan dan pelajaran bukan untuk dijadikan sebagai sesal yang berkepanjangan. Saya rasa jika Tuhan dengan segala kekuasaannya telah mempertemukan kita dalam silahturahmi yang baik lalu apa pula hak kita mengakhiri silahturahmi itu dengan cara yang buruk. Biarlah silahturahmi itu tetap baik atas apapun yang telah terjadi. Toh diantara sekian hal buruk yang kita alami saya percaya ada banyak mungkin jauh lebih banyak hal baik yang pernah kita nikmati. Bahkan mungkin jika bukan karena kesalahan itu kita tidak dapat memandang hidup dari sisi yang berbeda. Memandang masa depan dari sisi yang semestinya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap persoalan yang kita temukan. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang ikhlas dan bersyukur .....


Nico Surya, Padang Januari 2008

Selasa, 15 Januari 2008

- KIAMAT SUDAH DEKAT -

KIAMAT SUDAH DEKAT
By Nico Surya



Judul sinetron garapan Dedi Mizwar ini pernah popular sekali selang beberapa waktu lalu. Begitu populernya sampai-sampai keluarga President RI Susilo Bambang Yodhoyono pun menggemarinya. Bahkan dalam berbagai kesempatan Dedi sering diperlakukan dengan sangat hormat oleh masyarakat yang ia temui hanya karena perannya sebagai kiyai disinetron itu. Meskipun judulnya terkesan cukup bombastis namun sebenarnya sinetron itu tidak lah setragis dan sedramatis yang dibayangkan. Seperti kebanyakan karya Dedi Mizwar lainnya sinetron ini lebih merupakan sebuah sinetron drama komedi yang mengangkat potret kehidupan social masyarakat kita.

Mungkin sudah agak basi membahas sinetron itu setelah sekian tahun berlalu. Tapi judulnya masih relevan untuk kita renungkan. Kiamat Sudah Dekat. Kebanyakkan umat manusia yang memiliki agama dan keyakinan akan Tuhan mempercayai adanya hari terakhir atau kiamat. Bahkan dalam agama-agama yang memiliki pengikut terbesar didunia seperti Kristen, Islam dan Yahudi diajarkan tentang tanda-tanda alam menjelang datangnya kiamat. Diantaranya semakin sulit membedakan antara pria dan wanita karena mereka terlihat sama saja. Emansipasi salah-kaprah, keseteraan gender salah-kaprah, hak asasi manusia salah-kaprah. Tanda lainnya semakin panasnya dunia hingga matahari terasa seakan-akan sejengkal diatas kepala kita. Global Warming, Menipisnya lapisan ozon, perubahan iklim. Munculnya Lucifer atau Dajjal, makhluk turunan iblis dan manusia bermata satu yang memiliki kemampuan tipu daya luar biasa. Makhluk itu barangkali belum muncul tapi pahamnya sudah sngat terasa dalam kehidupan kita. Lahir dan berkembangnya neo jahiliyah yang menyebabkan nilai-nilai menjadi tergeser oleh banyak alasan Bahwa sesuatu yang baik terlihat buruk. Orang rajin ke Mesjid jadi aneh, orang pakai sorban atau jilbab dianggap asing, orang poligami jadi salah sementara selingkuh malah jadi budaya, zina dan maksiat jadi sesuatu yang biasa. Pornografi, pornoaksi dan pornografitti malah disukai karena alasan hak asasi dan kebebasan berekspresi. Bukankah Kiamat Sudah Dekat?

Merenung sendiri dipenghujung hari menyaksikan alam bersuka ria membuat hatiku semakin risau saja. Setelah kemarin panas terik membakar kulit lalu hujan turun rintik-rintik sesaat tenang tiba-tiba angin bertiup kencang bukan kepalang untuk kemudian kembali panas, hujan, …. Hh, benarkah kiamat sudah dekat? Musibah yang hilir-mudik membawa ketakutan, kecemasan dan perasaan yang sangat tidak nyaman. Disana banjir, disini kemarau, disana lumpur, disini gempa, disana air laut pasang, jangan-jangan tsunami pula? Lalu apa lagi urgensinya konferensi tingkat tinggi PBB tentang perubahan iklim yang berlangsung di Bali? Jika negara-negara didunia ini masih sibuk mementingkan diri mereka sendiri. Jika unsure bisnis masih saja dianggap jauh lebih penting dari keselamatan lingkungan ini. Jika hal-hal tentang keselamatan dunia hanya jadi tanggung-jawab negara-negara kecil sementara para raksasa itu lebih suka berpesta dengan ambisi-ambisi mereka jadi Tuhan kecil yang bisa mengatur dunia seperti yang mereka suka sepanjang hari bersorak tentang hak asasi manusia, tentang terorisme, tentang demokrasi, tentang prularisme, tentang sekularisme …. Negeriku, paru-paru dunia yang lupa diri, hutannya habis untuk bisnis, malingnya kabur entah kemana sementara pemerintahnya seperti orang sekarat digerogoti korupsi, keserakahan dan kemunafikan yang semakin kronis dari hari kehari ….. Apakah kita sedang menunggu kiamat yang semakin dekat saat dunia hancur oleh bencana akibat ulah kita sendiri? Naudzubillah Min Zalik!

Padang, 15 Januari 2008

KETIKA NICO PATAH HATI


KETIKA NICO PATAH HATI
Oleh Nico Surya



Adalah sejarah yang telah membuktikan betapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa jadi lumpuh dalam seketika karena dibangun dengan pola konglomerasi yang sarat dengan unsur-unsur korupsi, kolusi dan nepotisme. Negara besar yang dibangun dengan tetesan darah dan penderitaan panjang ini pun hampir saja bangkrut. Hampir saja tergadai kebandar-bandar kapitalis dunia. Untung lah saja masih ada kesadaran kaum muda kita untuk kembali berjuang menyelamatkan masa depan bangsa. Mereka bergerak dari kampus-kampusnya, membawa luka dan kepedihan ibu-bapaknya, rakyat Indonesia, untuk kemudian bersatu menjadi gelombang pergerakkan yang solid dan utuh. Segala ketakutan yang mengukung selama berpuluh-puluh tahun akhirnya runtuh juga dalam satu kata “ Reformasi”.

Nyaris sepuluh tahun setelah lonceng reformasi itu berdentang telah pula banyak kebebasan yang kita dapatkan. Meskipun terkadang jadi boomerang karena letupan euphoria kebebasan salah-kaprah. Salah-satu dari amanat reformasi yang masih jadi sorotan hingga saat ini adalah penegakan supremasi hukum, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme termasuk mengadili mantan president soeharto beserta kroni-kroninya. Namun sayang seribu sayang, pak tua sudah terlalu tua hingga jadi pelupa. Hanya saja, sejarah tentunya tidak akan pernah lupa. Ternyata memang tidak lah mudah untuk mengurai benang yang terlanjur kusut-masai. Tidak lah mudah menyembuhan penyakit yang terlanjur akut. Tidak juga mudah mengikis budaya yang terlanjur jadi tabiat. Korupsi, kolusi dan nepotisme ternyata masih saja terjadi disetiap bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Keserakahan itu kini menjelma dalam berbagai rupa. Jika dulu korupsi, kolusi dan nepotisme masih jadi monopoli orang-orang tertentu sekarang sudah semakin merata hingga kelingkungan-lingkungan terkecil sekalipun. Seorang pegawai rendah dikantor lurah atau petugas jaga disamsat bahkan merasa bodoh jika tidak ikut memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk sekedar menambah penghasilan meskipun dengan memakan riba ….

Sementara hukum yang diharapkan bisa jadi panglima dinegeri ini masih saja sempoyongan kesana-kemari. Seperti makhluk yang setengah teller. Terkadang bahkan seperti penari kuda lumping yang entah kemasukkan apa jingkrak-jingkrak tidak jelas. Sekian banyak kasus korupsi yang terungkap sekian banyak pula yang mengendap. Sebagian terus bergulir dengan proses yang hilir-mudik, carut-marut dan bertele-tele. Lalu kita, rakyat Indonesia pemilik sah negeri ini disuguhi dengan kenyataan-kenyataan yang menyakitkan. Menteri Hukum dan HAM bergantian terindikasi kasus korupsi. Pimpinan Komisi Pemberantas Korupsi bahkan ada yang jadi tersangka korupsi. Sementara seorang oknum Jenderal polisi juga diduga korupsi. Calon hakim agung kemudian dianggap korupsi. Belum lagi oknum-oknum Hakim dan jaksa didaerah yang ikut-ikut korupsi. Gubernur, Bupati, walikota serta anggota DPRD hingga muncul pula istilah korupsi berjamaah. Sementara kaum opportunis yang kenyang makan uang rakyat tenang-tenang saja di Macau atau Singapura tanpa tersentuh hukum sedikit pun. Alhasil republic Indonesia yang kita cintai ini nyaris tidak pernah punya prestasi apa-apa selain bertahan sebagai Negara terkorup didunia. Entahlah apa sebenarnya yang jadi masalah, apakah persoalan hukum kita atau perangkat hukum kita atau penegak hukum kita atau justru ketiga-tiganya ….

Tentunya kita tidak menginginkan suatu saat nanti dipagi buta saat kita lelap dalam mimpi sayup-sayup terdengar suara pengumunan dari mesjid yang mengatakan … “ Cek .. Cek … Hallo …. Ehem, … Innalillahi wa inalillahi rojiun … Telah berpulang ke Rahmatullah supremasi hukum dinegeri kita … karena telah uzur dan lanjut usia … hidup sejak zaman colonial Belanda …. Mohon segala kesalahan dan kekhilafan beliau semasa hidup dapat dimaafkan …. Terima kasih …“

Padang, 15 Januari 2008

FROM PADANG WITH LOVE

FROM PADANG WITH LOVE
by : Nico Surya

Ini kisah fiktif tentang seorang pemuda
bernama Ujang Palangkin. Meskipun
namanya terkesan aneh tapi Ujang
Palangkin merupakan sosok seorang anak
nagari yang sangat menjunjung nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam
filosofi Padang Kota Tercinta Kujaga
dan Kubela. Hari kehari Ujang Palangkin
selalu menyibukkan dirinya mengikuti
informasi tentang perkembangan kota.
Bahkan jika sehari terlewatkan karena
sesuatu dan lain hal maka Ujang
Palangkin pun akan tunggang-tunggik
mencari tahu apa yang telah terjadi.
Tidak ada sedikit pun tentang kota
Padang yang lepas dari pengetahuannya.
Mulai dari rendahnya kinerja aparat
pemerintahan yang menyebabkan turunnya
pencapaian target PAD hingga kota
Padang yang sekali lagi dianugerahi
penghargaan tingkat nasional karena
dianggap memiliki system drainase
terbaik. Meskipun terancam gagal
mempertahankan Adipura justru karena
drainase yang buruk. Bahkan jika
seandainya Ujang Palangkin
berkesempatan berdialog langsung dengan
Walikota Padang maka ia pasti akan
memaksa sang Walikota batanggang
samalam suntuak mendengarkan seribu
satu keluhan, kritikan dan gagasannya.
Semua karena Ujang Palangkin sangat
mencintai Kota Padang jauh melebihi
cintanya pada Upiak Banun, gadis
pujaannya yang telah lama pergi
merantau kenegeri orang karena sejak
lulus kuliah dan jadi sarjana ekonomi
tidak juga kunjung dapat pekerjaan
dikota Padang. Padahal Upiak Banun
termasuk satu diantara ratusan gadis
lainnya yang rajin bagaluntun puntun
dikantor pos dan di kantor disnaker
untuk mencari lowongan pekerjaan. Namun
apa daya rejekinya memang ada dinegeri
orang. Maka dapat dibayangkan betapa
sedihnya Ujang Palangkin melepas
kepergian gadis sibiran tulangnya
diterminal bis bingkuang yang lengang
dan mulai lapuk dimakan waktu. Ketika
itu hanya ada dia, hatinya yang luka
dan seekor jawi yang digembalakan
penduduk disekitar termina itu yang
katanya terminal termegah disumatera .

Bekerja sebagai seorang tenaga
marketing disebuah perusahaan otomotif
abal-abal telah membuat Upiak Banun
menjelma jadi seorang gadis metropolis
yang sok melek tekhnologi dan sok gaul.
Ujang Palangkin hampir pingsan demi
melihat foto yang dikirimkan Upiak
Banun dengan wajahnya yang penuh bedak,
mascara, rambut pirang seperti
terpanggang matahari serta pakaian
ketat yang menyembulkan kemolekkan
tubuhnya dari mulai bagian paling atas
hingga kebagian paling bawah. Setiap
kali menelpon pun Upiak Banun asik
berciloteh tentang gaya hidupnya yang
extravaganza, dengan sesekali diselingi
istilah-istilah ala selebriti ibu kota.
Capeek deeh …. Pernah sekali Upiak
Banun mengajak Ujang Palangkin bervideo
call dengan fasilitas 3G agar kangennya
bisa lebih terobati namun Ujang
Palangkin terpaksa berdusta karena
handphonenya memang hanya bisa untuk
menelpon dan berkirim pesan saja.
Akhirnya Ujang Palangkin lebih suka
melimpahkan segenap perhatiannya pada
perkembangan kota Padang yang ia cintai
daripada mengurusi si buah hati yang
justru membuatnya semakin makan hati.

Suatu ketika Ujang Palangkin begitu
bersemangat setelah mendengar program
dialog interaktif di Radio Pronews FM.
Kebetulan pagi itu sedang mengangkat
topic tentang kota Padang kedepan.
Acara itu dibawakan oleh presenter
kondang idolanya Nico surya dengan
pembicara dari pemerintah kota Padang.
Saking bersemangatnya Ujang Palangkin
pun ingin ikut berinteraksi
menyampaikan gagasan-gagasannya yang
selama ini hanya jadi perbincangan
orang-orang dilapau One Winar saja.
Namun sayang untung tak dapat diraih
malang tak dapat ditolak pulsanya yang
tinggal tujuh ribu seratus lima puluh
rupiah itu ternyata sudah habis masa
aktifnya. Dengan berat hati terpaksa
Ujang Palangkin manggut-manggut didepan
pesawat radio yang telah turun temurun
hingga lima generasi itu. Hingga acara
itu selesai Ujang Palangkin tidak
sekalipun keluar dari kamarnya.

Sekali keluar Ujang Palangkin langsung
berkoar tentang program-program
pemerintah untuk menjadikan kota Padang
sebagai salah-satu pusat ekonomi,
industri dan niaga di Sumatera. Ia
bercerita tentang rencana pemerintah
melakukan revitalisasi pelabuhan teluk
bayur, pembangunan terowongan di bungus
teluk kabung, pembangunan jalan dua
arah di By Pass, Peremajaan pasar-pasar
tradisional jadi pasar semi modern,
optimalisasi terminal bis bingkuang,
pembangunan sentra niaga penggrosiran
disekitar terminal, pemindahan kantor-
kantor pemerintahan serta pembangunan
pusat layanan terpadu, pembangunan
jalan layang ke Bandara Minangkabau,
pembangunan ring road sepanjang pantai
padang, pembangunan sentra wisata
bahari dengan berbagai fasilitas
seperti hotel, resort, restoran,
pertokoan, apartemen dan wahana bermain
keluarga dipantai muaro. Namun emaknya
yang baru saja pulang dari berbelanja
dipasar raya hanya diam saja. Wajahnya
yang mulai menua tampak basah dengan
keringat. Terbayang dibenaknya harga
kebutuhan harian yang mulai naik lagi.
Suasana pasar raya yang sumpek, panas,
bau dan becek. Angkutan kota yang
hangar-bingar dengan dentuman musik
yang membuatnya sakit kepala. Tumpang-
tindih tidak beraturan. Bahkan dalam
perjalanan pulang sopirnya yang masih
ingusan berkali-kali hampir tabrakan
karena lampu merah banyak yang tidak
berfungsi. Belum lagi perjalanan
mereka terpaksa melambat karena
dihadang oleh genangan air sisa hujan
semalam karena drainase yang buruk.
Banyaknya parkir liar hampir
disepanjang pinggir jalan. Namun PAD
tetap saja kurang Pengemis, Anank
jalanan. Pengangguran, kemisikinan Kota
ini punya banyak masalah yang tak
kunjung terselesaikan sementara kita
masih asik bermimpi lalu keletihan
menunggu mimpi itu jadi nyata …

Ujang tidak berpatah arang ia masih
terus saja berciloteh tentang negeri
impian yang baru saja ia dengar. Ia pun
bersiap untuk menggelar mimbar bebas
dilapau one Winar. Ini pesan yang harus
disampaikan. Semua harus tahu. Tentang
rencana indah kota Padang kedepan.
Meskipun terdengar seperti alunan rabab
pasisia ditengah malam buta sayup-sayup
dibawa oleh angin laut yang basah
sementara kita lelap tertidur …..

Padang, New Year 2008 ......