Jumat, 22 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : MEMORY KANTONG PLASTIK

MEMORY KANTONG PLASTIK


Ini cerita ketika saya masih sangat belia. Sekian tahun yang silam. Ketika itu sekolah diliburkan. Karena seminggu lagi lebaran. Tiga orang teman datang mengajak saya jalan-jalan ke Bukittinggi. Sebenarnya saya ada rencana akan membantu Bapak beres-beres rumah. Meskipun rumah kami kecil mungil dapatnya juga nyicil. Sama seperti kebanyakkan rumah perumnas tipe sangat sederhana yang dindingnya terbuat dari batako, lantainya semen dan atapnya seng dengan pekarangan hanya sejengkal dari selokan. Ada pun begitu kami selalu melakukan segala yang terbaik setiap kali menjelang lebaran. Ya, meskipun hanya sekedar mengecat pagar dan merapikan tanaman. Setidaknya ada suasana yang sedikit berbeda dari hari-hari biasa. Sedikit lebih bersih dan lebih nyaman.

Karena teman-teman begitu bersemangat akhirnya saya terima juga ajakan jalan-jalan itu. Kebetulan salah-seorang teman berkesempatan membawa mobil abangnya. Jadilah sore itu kami keluyuran sampai ke Bukittinggi. Tiga setengah jam berkeliling rasanya puas juga. Hampir setiap sudut kota wisata itu kami kunjungi. Menyaksikan panorama alam, menikmati suasana nyaman serta berintermesso dengan sejumlah cewek yang kami temukan. Hh, dasar anak sekolahan.

Sebelum pulang teman-teman sekalian mau belanja pakaian untuk lebaran. Saya nggak tahu apakah itu juga bagian dari rencana karena tidak pernah disinggung sebelumnya. Tapi sayang juga jalan-jalan sampai sejauh itu kalau nggak sempat belanja-belanja. Bukittinggi memang terkenal sebagai pusat konveksi dan gudangnya pakaian dari product-product terbaik. Ketika itu saya hanya bisa menyaksikan betapa teman-teman saya begitu gembira keluar-masuk toko memilih dan mencoba berbagai jenis pakaian dari merek ternama. Terus-terang ketika itu saya juga berselera sekali ingin membeli pakaian baru untuk lebaran. Tapi saya tidak membawa uang yang cukup dan memang saya tidak pernah diberi bekal uang yang cukup untuk belanja-belanja menjelang lebaran. Rasanya sedih juga. Tapi saya berusaha keras untuk tidak menampilkan kesedihan saya itu. Saya berusaha untuk tetap mengikuti kegembiraan mereka setiap kali mereka keluar dari kamar pas dan meminta pendapat saya tentang pakaian yang mereka coba. Gimana bagus nggak, Nic? Saya mengangguk-angguk sambil memberikan sedikit komentar. Lalu membiarkan mereka kembali asik memilih yang lain. Hingga kemudian mereka mengakhiri petualangan mereka itu dengan membawa beberapa kantong belanjaan

Saya hanyut dalam gelombang perasaan yang beragam. Rasanya seperti timbul-tenggelam dalam kebingungan. Setelah saya periksa ternyata saya masih punya beberapa lembar sepuluh ribuan dikantong saya. Tapi tentu saja itu tidak cukup bahkan membeli separuh saja dari pakaian seperti mereka. Pada suatu ketika kami beristirahat disebuah rumah makan dipasar wisata yang biasa juga disebut sebagai pasar aua tajungkang. Dari jendelanya saya melihat satu sudut pasar yang mempejualbelikan pakaian-pakaian bekas yang biasanya diselundupkan secara ilegal dari negara-negara tetangga. Tidak tahan ingin memiliki pakaian baru untuk lebaran diam-diam saya permisi dan bergegas kesana. Untung teman-teman saya juga sedang asik bercanda ria hingga tidak terlalu memperhatikan saya pergi kemana. Sepertinya mereka percaya saja ketika saya katakan saya ingin menemui saudara saya yang berjualan didekat sana.

So, demikianlah, saya bergabung dengan sejumlah orang mengaduk-aduk tumpukan pakaian bekas yang ada disana. Tempat itu hanya sebuah los kecil yang sempit dan pengap. Tentu saja tidak dilengkapi dengan pendingin udara seperti toko-toko pakaian sebelumnya. Tapi bukan itu saja yang membuat saya banjir dengan keringat juga karena aktifitas memilah pakaian itu cukup menguras tenaga. Disamping saya juga deg-degan jika sewaktu-waktu ada teman yang memergoki saya berada disana. Please God, jangan sampai! Saya bisa mati berdiri karena harus menanggung malu. Syukurlah, setelah hampir setengah jam berkutat dengan tumpukan pakaian itu, akhirnya saya berhasil membawa pulang satu lembar celana dan satu lembar kemeja yang kondisinya masih cukup bagus. Saya tidak peduli pakaian kusut itu bekas dipakai siapa. Apakah pemilik lamanya seorang yang bisa menjaga kebersihan atau tidak. Setidaknya saya bisa ganti penampilan lebaran kali ini. Meskipun hanya dengan pakaian bekas.

Tapi ternyata masalahnya tidak cukup sampai disana. Sepanjang perjalanan pulang saya terpaksa berbohong dengan seribu satu alasan setiap kali ada teman-teman yang bertanya isi kantong kresek yang saya bawa. Bahkan saya harus mati-matian menahan teman-teman saya yang iseng ingin mengintip apa yang tersembunyi didalam kantong plastik hitam itu. Untungnya pakaian-pakaian itu sempat dibungkus dengan kertas koran sebelumnya. Hingga alasan saya mengatakan bahwa itu cuma barang titipan untuk Bapak tetap berlaku hingga kami kembali pulang. Sesampai dirumah tidak terbayangkan betapa leganya hati saya. Sampai-sampai saya ketiduran dengan masih memeluk kantong plastik hitam itu. Segala yang bisa saya miliki untuk lebaran kali ini ...

Sekian tahun berlalu, hidup telah mengajari saya tentang banyak hal. Seperti pepatah mengatakan, Alam takambang jadi guru. Tidak terbayangkan betapa seringnya saya dihadapkan pada dilema seperti itu. Ketika saya harus berperang melawan perasaan segan, takut, malu, gengsi, sedih yang semuanya berangkat dari kenyataan yang membuat saya rendah diri. Sepertinya hidup tidak lagi punya tempat bagi siapapun yang terkurung dalam perasaan rendah diri. Sibuk mengasihani diri sendiri dan menyalahkan semua orang atas derita yang kita alami. Apalagi jika sampai frustasi lalu dengan alasan nasib kemudian menggadaikan martabat dan harga diri asal bisa menjadi seperti yang kita ingini.

Saya menjalani perang panjang hanya untuk bisa mengalahkan perasaan inferior didalam diri saya. Tapi saya percaya sesuatu yang diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Pengalaman telah membuat saya hidup dengan kekuatan yang berbeda. Bahkan sekarang saya sudah tidak peduli lagi jika harus berhadapan dengan siapapun. Apakah mereka pejabat tinggi, pengusaha sukses, orang terkenal, orang pintar, didepan saya mereka adalah sama. Saya selalu siap jika harus berdiskusi dan berdialog dengan mereka kapan saja dan dimana saja. Bukan kah Tuhan telah menciptakan kita dengan cara yang sama dan memberkati kita hidup dengan bagian-bagian yang berbeda. Tentu saja setiap kita akan dimintakn pertanggungjawaban atas bagian kita masing-masing. Syukurlah, bagian saya didunia ini tidak terlalu banyak jadi pertanggungjawabannya pun tentunya tidak terlalu berat. Lalu, bagaimana dengan anda?

Nico Surya , Padang - Februari 2008



Tidak ada komentar: