Jumat, 22 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : MEMORY KANTONG PLASTIK

MEMORY KANTONG PLASTIK


Ini cerita ketika saya masih sangat belia. Sekian tahun yang silam. Ketika itu sekolah diliburkan. Karena seminggu lagi lebaran. Tiga orang teman datang mengajak saya jalan-jalan ke Bukittinggi. Sebenarnya saya ada rencana akan membantu Bapak beres-beres rumah. Meskipun rumah kami kecil mungil dapatnya juga nyicil. Sama seperti kebanyakkan rumah perumnas tipe sangat sederhana yang dindingnya terbuat dari batako, lantainya semen dan atapnya seng dengan pekarangan hanya sejengkal dari selokan. Ada pun begitu kami selalu melakukan segala yang terbaik setiap kali menjelang lebaran. Ya, meskipun hanya sekedar mengecat pagar dan merapikan tanaman. Setidaknya ada suasana yang sedikit berbeda dari hari-hari biasa. Sedikit lebih bersih dan lebih nyaman.

Karena teman-teman begitu bersemangat akhirnya saya terima juga ajakan jalan-jalan itu. Kebetulan salah-seorang teman berkesempatan membawa mobil abangnya. Jadilah sore itu kami keluyuran sampai ke Bukittinggi. Tiga setengah jam berkeliling rasanya puas juga. Hampir setiap sudut kota wisata itu kami kunjungi. Menyaksikan panorama alam, menikmati suasana nyaman serta berintermesso dengan sejumlah cewek yang kami temukan. Hh, dasar anak sekolahan.

Sebelum pulang teman-teman sekalian mau belanja pakaian untuk lebaran. Saya nggak tahu apakah itu juga bagian dari rencana karena tidak pernah disinggung sebelumnya. Tapi sayang juga jalan-jalan sampai sejauh itu kalau nggak sempat belanja-belanja. Bukittinggi memang terkenal sebagai pusat konveksi dan gudangnya pakaian dari product-product terbaik. Ketika itu saya hanya bisa menyaksikan betapa teman-teman saya begitu gembira keluar-masuk toko memilih dan mencoba berbagai jenis pakaian dari merek ternama. Terus-terang ketika itu saya juga berselera sekali ingin membeli pakaian baru untuk lebaran. Tapi saya tidak membawa uang yang cukup dan memang saya tidak pernah diberi bekal uang yang cukup untuk belanja-belanja menjelang lebaran. Rasanya sedih juga. Tapi saya berusaha keras untuk tidak menampilkan kesedihan saya itu. Saya berusaha untuk tetap mengikuti kegembiraan mereka setiap kali mereka keluar dari kamar pas dan meminta pendapat saya tentang pakaian yang mereka coba. Gimana bagus nggak, Nic? Saya mengangguk-angguk sambil memberikan sedikit komentar. Lalu membiarkan mereka kembali asik memilih yang lain. Hingga kemudian mereka mengakhiri petualangan mereka itu dengan membawa beberapa kantong belanjaan

Saya hanyut dalam gelombang perasaan yang beragam. Rasanya seperti timbul-tenggelam dalam kebingungan. Setelah saya periksa ternyata saya masih punya beberapa lembar sepuluh ribuan dikantong saya. Tapi tentu saja itu tidak cukup bahkan membeli separuh saja dari pakaian seperti mereka. Pada suatu ketika kami beristirahat disebuah rumah makan dipasar wisata yang biasa juga disebut sebagai pasar aua tajungkang. Dari jendelanya saya melihat satu sudut pasar yang mempejualbelikan pakaian-pakaian bekas yang biasanya diselundupkan secara ilegal dari negara-negara tetangga. Tidak tahan ingin memiliki pakaian baru untuk lebaran diam-diam saya permisi dan bergegas kesana. Untung teman-teman saya juga sedang asik bercanda ria hingga tidak terlalu memperhatikan saya pergi kemana. Sepertinya mereka percaya saja ketika saya katakan saya ingin menemui saudara saya yang berjualan didekat sana.

So, demikianlah, saya bergabung dengan sejumlah orang mengaduk-aduk tumpukan pakaian bekas yang ada disana. Tempat itu hanya sebuah los kecil yang sempit dan pengap. Tentu saja tidak dilengkapi dengan pendingin udara seperti toko-toko pakaian sebelumnya. Tapi bukan itu saja yang membuat saya banjir dengan keringat juga karena aktifitas memilah pakaian itu cukup menguras tenaga. Disamping saya juga deg-degan jika sewaktu-waktu ada teman yang memergoki saya berada disana. Please God, jangan sampai! Saya bisa mati berdiri karena harus menanggung malu. Syukurlah, setelah hampir setengah jam berkutat dengan tumpukan pakaian itu, akhirnya saya berhasil membawa pulang satu lembar celana dan satu lembar kemeja yang kondisinya masih cukup bagus. Saya tidak peduli pakaian kusut itu bekas dipakai siapa. Apakah pemilik lamanya seorang yang bisa menjaga kebersihan atau tidak. Setidaknya saya bisa ganti penampilan lebaran kali ini. Meskipun hanya dengan pakaian bekas.

Tapi ternyata masalahnya tidak cukup sampai disana. Sepanjang perjalanan pulang saya terpaksa berbohong dengan seribu satu alasan setiap kali ada teman-teman yang bertanya isi kantong kresek yang saya bawa. Bahkan saya harus mati-matian menahan teman-teman saya yang iseng ingin mengintip apa yang tersembunyi didalam kantong plastik hitam itu. Untungnya pakaian-pakaian itu sempat dibungkus dengan kertas koran sebelumnya. Hingga alasan saya mengatakan bahwa itu cuma barang titipan untuk Bapak tetap berlaku hingga kami kembali pulang. Sesampai dirumah tidak terbayangkan betapa leganya hati saya. Sampai-sampai saya ketiduran dengan masih memeluk kantong plastik hitam itu. Segala yang bisa saya miliki untuk lebaran kali ini ...

Sekian tahun berlalu, hidup telah mengajari saya tentang banyak hal. Seperti pepatah mengatakan, Alam takambang jadi guru. Tidak terbayangkan betapa seringnya saya dihadapkan pada dilema seperti itu. Ketika saya harus berperang melawan perasaan segan, takut, malu, gengsi, sedih yang semuanya berangkat dari kenyataan yang membuat saya rendah diri. Sepertinya hidup tidak lagi punya tempat bagi siapapun yang terkurung dalam perasaan rendah diri. Sibuk mengasihani diri sendiri dan menyalahkan semua orang atas derita yang kita alami. Apalagi jika sampai frustasi lalu dengan alasan nasib kemudian menggadaikan martabat dan harga diri asal bisa menjadi seperti yang kita ingini.

Saya menjalani perang panjang hanya untuk bisa mengalahkan perasaan inferior didalam diri saya. Tapi saya percaya sesuatu yang diusahakan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Pengalaman telah membuat saya hidup dengan kekuatan yang berbeda. Bahkan sekarang saya sudah tidak peduli lagi jika harus berhadapan dengan siapapun. Apakah mereka pejabat tinggi, pengusaha sukses, orang terkenal, orang pintar, didepan saya mereka adalah sama. Saya selalu siap jika harus berdiskusi dan berdialog dengan mereka kapan saja dan dimana saja. Bukan kah Tuhan telah menciptakan kita dengan cara yang sama dan memberkati kita hidup dengan bagian-bagian yang berbeda. Tentu saja setiap kita akan dimintakn pertanggungjawaban atas bagian kita masing-masing. Syukurlah, bagian saya didunia ini tidak terlalu banyak jadi pertanggungjawabannya pun tentunya tidak terlalu berat. Lalu, bagaimana dengan anda?

Nico Surya , Padang - Februari 2008



Kamis, 14 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : NIKMAT YANG DIPERSOALKAN

NIKMAT YANG DIPERSOALKAN

Seorang teman lama menemui saya suatu ketika. Kebetulan ia sedang dalam perjalanan kerja dan berkesempatan untuk mengunjungi saya. Namun ia sangat terkejut ketika mendapati saya sudah sedemikian tambur padahal baru satu setengah tahun sejak pertemuan kami terakhi. Ada dua hal yang disampaikan teman saya ketika itu, pertama ia menganggap saya sudah sukses dan bahagia. Kedua ia menilai penampilan saya terlihat jauh lebih tua dan lebih buruk.

Terus-terang saya memang sedang bermasalah dengan berat badan. Akhir-akhir ini berat badan saya melonjak hingga tiga-empat kilo. Saya jadi terlihat gemuk, gendut dan tambun. Tapi bukan berarti saya telah menjadi seorang yang sukses dan bahagia. Jika ukuran sukses dan bahagia adalah seorang yang punya banyak uang dan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Saya jelas bukan bagian dari orang sukses itu. Saya hanya seorang pemuda biasa dengan penghasilan seadanya. Bahkan hidup saya jauh lebih sederhana dari sebelum-sebelumnya yang cenderung lebih ekstravaganza. Hanya saja sekarang saya merasa lebih menikmati hidup dan kehidupan saya dengan segala keterbatasan-keterbatasannya. Jika itu ukuran sukses dan bahagia, ya, saya memang sedang sukses dan bahagia.

Soal penampilan saya yang katanya terlihat lebih tua dan lebih buruk, siapapun tentunya tidak akan suka dengan keadaan itu. Termasuk saya. So, pasca obrolan dengan teman lama itu saya mulai sibuk memikirkan cara praktis dan mudah mengembalikan kondisi tubuh saya seperti semula. Cara paling masuk akal tentulah dengan sering berolah raga dan mengatur pola makan. Sayangnya sejak dahulu kala saya termasuk orang yang sangat enggan berolahraga. Meskipun saya bisa bercerita panjang lebar tentang Real Madrid Tim sepak bola favorit saya atau Casey Stoner pembalap pujaan saya. Tapi bukan berarti saya tertarik untuk mencoba menjadi seperti mereka. Adalah seorang teman yang kebetulan memiliki Gym pribadi dirumahnya, kami sepakat untuk latihan dua kali seminggu dan kesepakatan itu pun hanya bertahan selama dua minggu. Bahkan setiap kali pertemuan waktu efektif saya berolahraga paling hanya setengah jam saja. Itu pun sudah cukup membuat saya tersengal-sengal dan banjir dengan keringat. Walhasil setiap kali habis olahraga saya selalu melampiaskannya dengan tidur sepuas-puasnya. Tentu saja hal itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa terhadap tumpukan lemak ditubuh saya ....

Selanjutnya saya lebih fokus pada pengaturan pola makan. Ternyata mengatur nafsu makan ini sama saja beratnya dengan berolahraga. Malah terkadang terasa jauh lebih berat. Jika sebelumnya saya bebas saja menyantap apapun yang saya temukan. Sekarang saya harus pandai-pandai menahan diri. Susah-payah saya berlagak tidak kenal lagi dengan semua pedagang gerobak yang sering lewat didepan rumah saya. Meskipun beberapa diantara mereka yang mungkin karena ketidaktahuannya masih saja berhenti dan bersorak-sorak didepan pagar rumah saya berharap saya akan keluar dengan membawa sebuah mangkok kosong seperti biasa. Belakangan saya juga sering merasa amat sangat bersalah ketika harus berbohong dengan berbagai macam alasan menolak suguhan sarapan lontong pecel buatan Ibu yang tentunya sudah mempersiapkan itu sejak pagi buta atau ketika ada teman, rekan kerja atau bahkan salah-satu relasi yang dengan segala kegembiraannya mengajak saya hang out sekalian makan siang diluar.

Pernah suatu ketika seorang gadis manis yang sepertinya sedang terbius oleh pesona saya hingga kemudian kasmaran tak tertahankan mengajak saya makan malam disebuah restoran yang cukup ternama. Kebetulan ia sedang ulang tahun dan ingin mentraktir saya. Ia bahkan sengaja memilih restoran yang menyajikan menu favorit saya. Entah ia dapat informasi dari infotainment yang mana pula. Sialnya sebelum itu saya terlanjur menepati jadwal makan sore saya. Menurut aturan pola makan saya seharusnya saya tidak makan apa-apa lagi hingga esok pagi. Duh, Anda bisa bayangkan betapa beratnya perang batin yang harus saya hadapi ketika itu. Duduk menemani seorang gadis yang sedang bahagia, entah karena sedang ulang tahun entah karena sedang jatuh cinta, Tepat didepan kami bergelimpangan makanan dan minuman enak kesukaan saya. Aromanya berebutan seakan hendak mencakar-cakar pikiran saya. Ya, ya ... kadang cinta itu memang kejam tapi saya tidak menyangka akan sampai sekejam itu ....

Entahlah, Lama-lama saya mulai merasa tidak nyaman lagi dengan hidup saya. Hanya untuk bisa sedikit lebih langsing saja agar terlihat keren dan awet muda saya terpaksa harus mengecewakan diri saya sendiri, mengecewakan orang-orang baik disekitar saya, saya bahkan terpaksa harus kehilangan begitu saja moment-moment terindah dalam kehidupan saya yang seharusnya bisa saya nikmati bersama-sama dengan mereka. Tidak jarang saya jadi begitu senewen merasa tiba-tiba seakan menjelma jadi seorang agen rahasia yang sedang dalam misi penyamaran yang harus hidup dengan segudang kebohongan dan tega melihat orang-orang lain kecewa. Lama saya menimbang-nimbang, duduk sendirian saat malam larut dalam keheningan dan angin yang bertiup perlahan-lahan, sementara disana langit bertabur dengan bintang dan sepotong bulan muda yang terlihat kusam. Tiba-tiba saya mendapat wangsit untuk segera menjadi nabi em, maksud saya segera menghentikan omong-kosong itu.

Saya sudah terbiasa tampil apa-adanya lalu kenapa saya harus belingsatan hanya karena seorang teman tidak suka dengan penampilan saya sekarang? Toh menjadi gemuk itu bukan sebuah kesalahan dan sama-sekali bukan dosa. Menikmati rejeki yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita jsutru adalah bentuk dari rasa syukur yang nyata. Selagi masih sehat dan tidak berlebihan kenapa harus dipersoalkan? Saya jadi ingat betapa selang sekian tahun yang lalu saya juga pernah begitu uring-uringan karena masalah berat badan. Betapa dulu pola makan saya benar-benar berantakan. Maklum ketika itu saya hanyalah seorang perantauan yang kerja serabutan. Ya, Kalau ada rejeki saya bisa makan enak. Tapi seringnya justru makan seadanya bahkan lebih sering lagi hanya makan mie instan saja. Itu pun kadang harus ditunda-tunda dulu sampai benar-benar lapar. Hm, Ingatkah engkau kepada embun pagi yang bersahaja yang menemani sebelum cahaya .....


Nico Surya, Padang, Februari 2008





Minggu, 10 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : SWEET CHILD O'MINE

SWEET CHILD O’MINE

Pada banyak kesempatan saya selalu dengan rasa penuh bangga bercerita pada teman-teman dekat saya betapa saya sangat mencintai masa kecil saya yang menurut saya sangat lah indah tiada tara. Setiap kali saya bercerita maka saya akan selalu merasa begitu bersemangat dan biasanya sulit untuk berhenti. Meskipun pada akhirnya saya tetap saja merasa hampa karena masa lalu itu telah terlalu jauh tertinggal dan tak mungkin lagi untuk ditemukan kembali.

Adalah sebuah desa yang begitu indah dan sejuk dengan nuansa alam perbukitan, lembah, sungai dan sawah yang terhampar luas berjenjang-jenjang. Kami menempati sebuah rumah kayu berbentuk rumah panggung dengan atap bergonjong layaknya rumah adat minangkabau yang banyak ditemukan didaerah-daerah. Setiap pagi hari saat kampung kami masih diliputi kabut embun dan sinar matahari masih samar-samar Ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan berupa lontong atau bubur kacang hijau untuk Bapak yang akan berangkat kerja dan saya yang akan pergi sekolah. Saya sekolah disebuah SD Inpres atau isntruksi presiden yang pada saat itu banyak dibangun didaerah-daerah. Sekolah saya terletak dipuncak bukit hingga untuk bisa sampai kesana setiap hari saya harus melewati jalan berliku sepanjang hampir lima kilometer. Tapi biasanya kami lebih suka mengambil jalan pintas melalui dinding bukit yang terjal yang bisa menyingkat jarak hampir separuhnya. Hanya saja kalau sedang musim hujan kami sering tergelincir dan sampai disekolah dengan seragam yang penuh dengan lumpur. Tapi tidak seorang pun diantara kami yang disuruh pulang karena kotor sebab sebagian dari para guru pun sering sampai disekolah dalam keadaan berlumpur. Sekolah kami juga dilengkapi dengan sebuah kantin yang dikelola oleh keluarga penjaga sekolah. Jajanan kesukaan saya ketika itu adalah kerupuk dari ubi yang lebar berbentuk bulat pipih yang dilapisi kuah sate dan ditaburi mie putih. Saya harus membuka mulut saya lebar-lebar setiap kali akan memakan kerupuk itu agar mulut saya tidak belepotan dengan kuah sate. Hmm, lezat.

Siang sepulang sekolah saya biasanya menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman disebuah kebun yang dipenuhi dengan pohon-pohon jati. Saya suka main perang-perangan dengan menggunakan pelepah pisang sebagai senjata dan daun bunga liar sebagai topi. Kadang-kadang kami nekat main hingga kepematang-pematang sawah. Kami berlarian dengan lincah meskipun ukuran pematang itu sangatlah kecil. Kami sering nonkrong lama-lama dipondok mungil ditengah sawah sambil menyelesaikan pe-er. Sesekali kami mengusir burung-burung punai yang ingin merusak padi dengan menggerak-gerakkan orang-orangan sawah. Ketika senja datang menjelang kami berebutan naik kepedati petani yang hendak pulang. Pedati itu ditarik seekor sapi yang jalannya amat lah pelan. Sebelum pulang kerumah kami singgah disebuah tempat pemandian berupa aliran sungai yang dibuatkan beberapa pancuran. Airnya sejuk sekali. Sesampai dirumah biasanya saya menemukan Ibu tengah menyuapi adik-adik sementara Bapak sibuk menyalakan lampu petromaks. Maklum ketika itu kampung kami memang belum dialiri listrik. Hingga untuk penerangan malam kami harus menggunakan lampu teplok dan lampu petromaks yang selalu dikerubuti laron-laron. Berhubung dulu belum ada televisi maka sejak maghrib saya sudah meninggalkan rumah menuju surau yang terletak disatu sudut kampung. Disana sudah menunggu teman-temanku yang lain yang juga mengenakan sarung, peci dan membawa buku juz amma. Kami selalu berebutan untuk menabuh beduk dan memekikkan adzan ketika waktu shalat tiba. Usai shalat Isya kami belajar mengaji dengan seorang ustad yang waktu itu begitu kami hormati. Pengajian itu berlangsung hampir setiap malam dan biasanya baru selesai menjelang tengah malam. Bahkan tidak jarang kemudian kami sekalian saja menginap disurau bersama teman-teman yang lain. Tapi biasanya disana kami jadi susah tidur karena asik bercanda dan bercerita. Kami baru bisa tidur setelah benar-benar kecapean. Hingga kemudian waktunya shalat subuh tiba. Kami pun tidak lagi berebut menabuh beduk atau meneriakkan azan karena semuanya masih pada ngantuk. Usai shalat subuh berjamah baru kemudian kami pulang kerumah masing-masing dan bersiap untuk kesekolah.

Pada saat-saat tertentu, ketika saya sedang sendirian, bosan dengan segala rutinitas hidup yang menyebalkan serta sedang ingin jeda dari semua kemunafikan dunia, saya sering hanyut dalam fragmentasi kehidupan masa lalu khususnya masa kecil saya itu. Betapa saya begitu merindukannya. Amat sangat merindukannya. Begitu rindunya hingga kadang-kadang saya ingin mengoyak kembali tabir waktu dan kembali seperti dulu. Ketika saya masih seorang bocah kecil yang bebas berlari, bermain, tertawa, menari bahkan menangis sesuka hati. Ketika semuanya hanyalah apa yang kita rasakan dan apa yang kita nikmati. Ketika semuanya masih begitu luhur, tulus dan sederhana sekali. Namun kenyataannya sekarang semua itu sudah jadi sesuatu yang mahal bahkan nyaris mustahil. Sekarang semua itu hanya mimpi. Dongeng penghantar tidur yang tak lagi memiliki arti. Hanya kenangan .....

Nico Surya , Padang, Februari 2008







CATATAN NICO SURYA : AKU CINTA KAU dan DIA

AKU CINTA KAU dan DIA

Saya punya teman namanya sebut saja Rudi. Pertama saya mengenalnya Rudi hanyalah seorang sarjana yang kerja serabutan. Tapi saya melihat ada kemauan yang keras didirinya untuk menjadi seorang pekerja professional. So, kebetulan waktu itu saya juga sedang berada dalam posisi yang cukup strategis dan punya cukup jaringan kerja maka saya merekomendasikan dia untuk bekerja disalah-satu perusahaan keuangan. Awalnya Rudi menolak karena merasa bekerja sebagai seorang marketing bukanlah pekerjaan idamannya. Ia juga merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang sarjana tekhnik. Namun setelah aku yakinkan bahwa ini adalah peluang untuk memulai sesuatu yang besar maka ia pun mau mencobanya. Setelah tentunya butuh waktu untuk belajar dan membiasakan diri dengan profesi barunya itu akhirnya Rudi mulai bisa mengoptimalkan kemampuannya. Terbukti ia mulai bisa menyelesaikan setiap tugas yang dibebankan kepadanya.

Suatu ketika Rudi dapat tawaran baru dengan iming-iming pendapatan dan fasilitas yang lebih baik dari yang didapatkannya saat itu. Sebagai seorang pekerja muda yang sedang giat-giatnya mengejar kemapanan maka Rudi pun tidak menyia-nyiakan peluang emas itu. Ia kemudian memutuskan untuk jadi seorang pekerja ganda. Tentu saja dengan demikian potensi pendapatannya akan bertambah dua kali lipat bahkan lebih. Tapi beban tugas dan tanggung jawab yang harus dia tanggung juga melonjak drastic. Apalagi Rudi melakukan hal itu secara diam-diam alias tanpa seizin dari perusahaan-perusahaan dimana ia bekerja.

Bulan-bulan pertama semuanya masih bisa atasi. Meskipun untuk itu Rudi harus pintar-pintar membagi waktu dan pintar-pintar mencari alasan jika sewaktu-waktu keberadaannya dipertanyakan. Namun lama-lama Rudi merasa jengah juga karena hari-harinya tidak pernah lepas dari kebohongan. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu masing-masing perusahaan menambah beban tugasnya hingga ia pun semakin kerepotan untuk membagi waktu, tenaga dan pikirannya. Bahkan semakin kesini semakin banyak tugas yang tidak terlaksanakan dengan baik. Seperti pepatah lama mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Rudi pun tidak bisa mengelak ketika tiba-tiba ia dipergoki tengah melakukan pekerjaan lain saat harus mengerjakan tugas penting dari perusahaan. Akhirnya Rudi pun harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan salah-satu dari pekerjaannya. Rudi kemudian mencoba focus dengan pekerjaan lainnya. Hanya saja ternyata pekerjaan itu tidak senyaman pekerjaannya semula. Meskipun dari pekerjaan itu ia mendapatkan lebih tapi ia sama-sekali tidak menemukan suasana kebatinan yang bisa membuat ia bekerja dengan semangat dan suka cita.

Ternyata pekerjaan itu sama saja dengan pacaran. Setiap kita punya klasifikasi pekerjaan atau pacar idaman masing-masing. Namun tidak serta merta kita bisa mendapatkan pekerjaan dan pacar seperti yang kita inginkan. Seringkali kita justru dipertemukan dengan pekerjaan dan pacar yang jauh berbeda dari apa yang selama ini kita idam-idamkan. Hingga kemudian kita harus lebih banyak sengsara daripada bahagia. Tapi hakikatnya dalam pekerjaan atau pun pacaran sama-sama dibutuhkan keseriusan dan kemauan untuk saling memahami. Jika pekerjaan atau pacaran dijalani sekedar iseng atau coba-coba maka kita pasti akan tetap memiliki kecenderungan untuk selingkuh alias mendua. Kita juga akan tetap memiliki kecenderungan untuk tergoda pada sesuatu yang terlihat lebih menarik.

Jadi pekerjaan itu sama saja seperti pacaran. Sebaiknya dalam memilih pekerjaan atau pun memilih pacar kita tidak melulu melihat dari kesannya atau kemasannya saja. Sesuatu yang terlihat bagus belum tentu baik untuk kita. Seperti halnya pacaran dalam pekerjaan kita juga bisa putus berkali-kali karena sudah tidak ada lagi kecocokan. Hingga kemudian kita dipertemukan dengan sesuatu yang memang sudah jadi bagian dari takdir hidup kita. So, pada akhirnya saya ingin mengatakan bekerja lah dengan penuh cinta, ketulusan dan keikhlasan semoga pekerjaan itu akan membawa kebahagiaan untuk kita hingga kemudian maut memisahkan … Amien


Nico Surya, Padang, Februari 2008



CATATAN NICO SURYA : ANTARA AKU dan SI TUKANG CUKUR


ANTARA AKU DAN SI TUKANG CUKUR

Ini adalah sebuah kisah yang terjadi disatu bagian masa lalu saya. Sebuah kisah yang mungkin terkesan biasa dan sederhana. Namun setidaknya saya telah belajar sesuatu dari peristiwa itu. Mudah-mudahan kisah ini juga bias memberi inspirasi kepada Anda semua.

Alkisah pada suatu ketika saya bubaran kerja agak telat karena harus menyelesaikan laporan bulanan yang harus saya pertanggungjawabkan esok pagi. Sementara saya juga berkepentingan untuk memperbaiki penampilan saya agar tidak terkesan kacau saat rapat perusahaan nanti. Berhubung malam sudah mulai larut. Saya tidak punya banyak pilihan bahkan untuk sekedar potong rambut. Akhirnya saya memutuskan untuk potong rambut dimana saja tempat pangkas rambut yang masih buka. Setelah menyusuri seperempat wajah kota akhirnya saya menemukan juga sebuah tempat pangkas yang masih buka. Sebuah tempat yang sangat sederhana dengan sejumlah potongan kaca dan poster model rambut jaman beheula. Sama seperti kebanyakan tempat potong rambut yang biasa kita temukan dipinggir-pinggir jalan. Kebetulan Si tukang cukur juga sedang bermalas-malas sambil menyaksikan tayangan televise 14 incinya yang parker disalah-satu sudut ruangan. Setelah berbasa-basi sebentar saya langsung saja memintanya merapikan rambut saya yang sudah mulai panjang dan awut-awutan.

Seperti biasa sambil melaksanakan tugasnya si Tukang Cukur mengajak ngobrol dengan satu-dua pertanyaan yang tentunya saya tanggapi sebagaimana mestinya. Namun pada menit-menit selanjutnya si Tukang Cukur mulai menarik obrolan itu semakin dekat dengan kehidupan pribadinya. Berawal dari biaya hidup yang semakin tinggi sementara penghasilannya masih jauh dari memadai. Sementara ia tidak punya sumber penghasilan lain selain menjadi tukang cukur. Itu pun masih harus dibagi dengan si pemilik tempat. Lama-lama obrolan itu lebih terkesan seperti curahan hati alias curhat. Tapi saya tetap mendengarkannya. Apalagi yang bias saya dengarkan saat suasana malam itu mulai sepi sementara kepala saya masih dalam genggamannya. Meskipun pada awalnya saya sempat dibuat terkantuk-kantuk mendengarkan kisahnya namun pada akhirnya saya justru jadi tertarik dan berusaha memancingnya untuk bercerita lebih banyak lagi.

Si Tukang Cukur yang ternyata masih sedikit lebih muda dari saya, meskipun tentunya saya sendiri juga masih cukup muda, ternyata punya latar belakang yang cukup memadai. Setidaknya ia menyandang predikat sarjana muda dari sebuah akademi swasta yang tidak terlalu ternama. Awalnya ia telah mencoba untuk mencari pekerjaan yang sesuai namun setiap lamaran yang ia kirimkan selalu berakhir dengan tanda-tanya sebesar dunia. Pernah sekali ia bekerja sebagai tenaga marketing disebuah penerbitan buku namun karena pengalaman dan bakat bisnisnya yang sangat terbatas ia sering gagal mencapai target yang ditetapkan perusahaan hingga komisi yang ia dapatkan pun tidak lebih dari sekedar uang transport. Sementara sepeda motor yang terlanjur ia kredit dengan DP ringan akhirnya harus beralih tangan alias over credit. Masalah ternyata tidak selesai sampai disana. Pacar yang dinikahinya setahun setelah diwisuda itu melahirkan putra mereka yang pertama. Namun karena kurangnya biaya persalinan mereka terpaksa meminjam pada saudara yang pada akhirnya justru memicu sikap-sikap yang tidak simpatik dan melecehkan. Tidak tahan dengan semua tekanan dan sindiran itu mereka memutuskan untuk merantau kekota hingga kemudian ia hidup sebagai tukang cukur.

Terus-terang saya tidak tahu kenapa si Tukang cukur itu mau begitu terbuka bercerita kepada saya. Saya juga tidak yakin dia akan menceritakan kehidupan pribadinya itu pada setiap orang yang bercukur padanya. Yang saya tahu ia begitu senang bisa menceritakan masalahnya kepada saya. Meskipun saya tidak memberikan solusi apa-apa menanggapi masalahnya itu tapi sepertinya ia cukup senang saya telah mendengarkannya. Bahkan ketika saya selesai bercukur dan menyerahkan selembar sepuluh ribuan diluar dugaan si Tukang cukur justru menolaknya. Saya tahu meskipun hanya sepuluh ribu tapi ia sangat membutuhkan itu. Tapi ada yang sepertinya saya kurang tahu ketika itu bahwa ia sedang butuh didengarkan. Kebutuhan yang tidak mengenal status dan strata social. Saya yakin dan percaya semua kita pernah merasa butuh untuk benar-benar didengarkan. Hingga ketika ada seseorang yang mau mendengarkan kita sepertinya sebagian dari beban yang sedang kita tanggung seakan berkurang. Dan itu cukup membuat kita merasa sedikit lebih nyaman.

Jika setiap orang memiliki kecenderungan untuk ingin didengarkan maka kita bisa saja dekat dengan siapapun yang kita inginkan jika kita bisa jadi seorang pendengar yang baik. Demikian lah kenapa banyak orang sukses mengatakan bahwa menjadi seorang pembicara yang baik sama pentingnya dengan jadi seorang pendengar yang baik. Dengan menjadi seorang pendengar yang baik dan sungguh-sungguh maka kita berkesempatan untuk dekat secara emosional dengan orang-orang disekitar kita. So, meskipun berat sepertinya tidak ada salahnya jika kita mulai belajar untuk bisa mendengarkan.

Nico Surya, Padang, Fabruari 2008

CATATAN NICO SURYA : SEDIH TAK BERUJUNG

CATATAN NICO SURYA : SEDIH TAK BERUJUNG

Pada suatu ketika yang sangat tidak terduga, setelah menjadi seorang lajang esmud cukup lama, tiba-tiba saya kembali terperangkap dalam perasaan kasmaran yang luar biasa. Pada saat itu saya merasakan sesuatu yang telah lama saya lupakan. Sesuatu yang sangat pribadi dan istimewa. Ya, saya jatuh cinta. Entah bagaimana semua itu bisa terjadi. Tapi itu terjadi. Tiba-tiba saja saya merasa terpengaruh dan mulai ketergantungan akan dirinya. Saya merasa begitu terikat secara emosional kepadanya. Orientasi hidup saya pun mulai bergeser terfokus hanya untuk menyenangkannya. Sebisa mungkin membuat dia selalu gembira. Rasanya pesta sehebat apapun tidak akan mampu membuat saya bahagia lebih dari menyaksikan senyum dan candanya. Untuk itu saya merelakan setiap tetesan keringat, darah dan air mata saya semata-mata demi untuk kesenangannya. Apa saja yang ia inginkan. Bahkan apa saja yang tidak ia katakan. Meskipun ia sendiri lebih menganggap sikap dan perhatian saya itu sekedar intermezzo belaka. Tapi bagi saya, bisa melakukan sesuatu untuknya saja telah cukup membuat saya merasa begitu berarti. Demikian lah kenapa semua orang didunia seakan sepakat mengatakan Love is Blind. Demikian juga kenapa orang-orang didunia tidak protes ketika ada yang mengatakan cinta itu something stupid.

Sialnya, kemelut perasaan yang tidak menentu itu justru terjadi disaat saya sedang menapaki tangga karir yang cukup strategis. Jika saja saya bisa menyelesaikan ujian itu dengan baik maka promosi jabatan yang jauh lebih prestisius sudah pasti saya dapatkan. Namun apa daya tenaga, pikiran dan perasaan saya terlanjur habis hanya untuk mengurusi sang pujaan hati. Kinerja saya jadi menurun, performance saya juga memburuk, saya gagal menjaga citra saya sebagai seorang pekerja profesional. Hingga akhirnya saya pun terpental jatuh dari tangga karir yang telah saya upayakan dengan susah-payah. Lalu apa yang saya temukan kemudian, hidup baru yang carut-marut dan penuh dengan ketidakpastian. Saya harus kembali memulai perjuangan saya dari titik nol. Sementara syurga yang tadinya begitu saya yakini perlahan tapi pasti memudar jadi sebentuk bayangan yang samar bahkan nyaris hilang dari pandangan. Gadis itu pergi begitu saja menciptakan syurganya sendiri bersama seorang bajingan lain. Ia meninggalkan saya justru disaat saya sedang benar-benar membutuhkannya sebagai tempat saya bersandar dan berbagi atas semua kegundahan yang tengah saya alami. Hingga saya harus menghadapi keterpurukan itu sendiri .....

And the story goes .... Mantan kekasih datang menyampaikan rasa sesalnya sekaligus meminta restu akan rencana pernikahannya. Entah dengan bajingan mana pula. Aku mencoba untuk tidak peduli. Namun rasa sakit itu masih ada, luka itu masih basah, amarah itu pun masih belum sepenuhnya reda. Ternyata sulit, amat sangat sulit, untuk dapat sembuh dari luka karena cinta. Rasa sakit karena patah hati. Pedihnya dikhianati. Meskipun saya pernah berkata bahwa rasa sayang saya kepadanya jauh lebih kuat dari rasa sakit yang harus saya derita ....

Susah-payah saya berijtihad untuk dapat menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Namun sifat manusiawi saya membuat saya sulit untuk bisa memaafkannya. Bahkan saat-saat menjelang hari bahagianya saya masih timbul-tenggelam dalam gejolak perasaan yang tidak menentu. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk tetap memaafkannya. Meskipun saya tetap tidak menghadiri pesta pernikahannya. Saya juga mendoakan segala yang terbaik untuknya. Semoga pernikahan ini adalah jalan menuju kebahagiaan hidup yang dicita-citakannya. Bukankah hakikat dari cinta itu adalah membuat seseorang yang kita cintai senantiasa hidup dalam kebahagiaan. Jika itu jalannya untuk bahagia lalu apa lagi yang harus saya persoalkan?

MP, Memaafkan atau tidak memang menjadi hak masing-masing kita. Kita boleh memaafkan atau tidak setiap orang yang pernah menyakiti kita. Seperti orang lain yang juga boleh memaafkan atau tidak kesalahan-kesalahan kita. Namun memberi maaf atas kekhilafan orang lain nilainya tetap jauh lebih utama daripada menyimpan dendam kesumat yang hanya akan membebani hidup kita selamanya. Toh kita sendiri juga bukan manusia sempurna yang bebas dari kesalahan-kesalahan dimasa silam. Memaafkan menjadi sesuatu yang amat sulit dilakukan selagi kita memandang setiap persoalan hanya dari sudut pandang kepentingan kita saja. Kita yang merasa teraniaya, merasa tersakiti, pihak yang dikorbankan dan merasa pantas untuk dikasihani. Padahal bisa saja kita sengaja atau tidak juga berperan menyebabkan semua kesalahan itu terjadi .....

Adalah penting untuk selalu berpegang pada sejarah agar kita tidak memandang masa depan seperti seorang yang buta. Namun sejarah hanya layak untuk dijadikan cerminan dan pelajaran bukan untuk dijadikan sebagai sesal yang berkepanjangan. Saya rasa jika Tuhan dengan segala kekuasaannya telah mempertemukan kita dalam silahturahmi yang baik lalu apa pula hak kita mengakhiri silahturahmi itu dengan cara yang buruk. Biarlah silahturahmi itu tetap baik atas apapun yang telah terjadi. Toh diantara sekian hal buruk yang kita alami saya percaya ada banyak mungkin jauh lebih banyak hal baik yang pernah kita nikmati. Bahkan mungkin jika bukan karena kesalahan itu kita tidak dapat memandang hidup dari sisi yang berbeda. Memandang masa depan dari sisi yang semestinya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap persoalan yang kita temukan. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang ikhlas dan bersyukur .....


Nico Surya, Padang Januari 2008