Minggu, 10 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : SEDIH TAK BERUJUNG

CATATAN NICO SURYA : SEDIH TAK BERUJUNG

Pada suatu ketika yang sangat tidak terduga, setelah menjadi seorang lajang esmud cukup lama, tiba-tiba saya kembali terperangkap dalam perasaan kasmaran yang luar biasa. Pada saat itu saya merasakan sesuatu yang telah lama saya lupakan. Sesuatu yang sangat pribadi dan istimewa. Ya, saya jatuh cinta. Entah bagaimana semua itu bisa terjadi. Tapi itu terjadi. Tiba-tiba saja saya merasa terpengaruh dan mulai ketergantungan akan dirinya. Saya merasa begitu terikat secara emosional kepadanya. Orientasi hidup saya pun mulai bergeser terfokus hanya untuk menyenangkannya. Sebisa mungkin membuat dia selalu gembira. Rasanya pesta sehebat apapun tidak akan mampu membuat saya bahagia lebih dari menyaksikan senyum dan candanya. Untuk itu saya merelakan setiap tetesan keringat, darah dan air mata saya semata-mata demi untuk kesenangannya. Apa saja yang ia inginkan. Bahkan apa saja yang tidak ia katakan. Meskipun ia sendiri lebih menganggap sikap dan perhatian saya itu sekedar intermezzo belaka. Tapi bagi saya, bisa melakukan sesuatu untuknya saja telah cukup membuat saya merasa begitu berarti. Demikian lah kenapa semua orang didunia seakan sepakat mengatakan Love is Blind. Demikian juga kenapa orang-orang didunia tidak protes ketika ada yang mengatakan cinta itu something stupid.

Sialnya, kemelut perasaan yang tidak menentu itu justru terjadi disaat saya sedang menapaki tangga karir yang cukup strategis. Jika saja saya bisa menyelesaikan ujian itu dengan baik maka promosi jabatan yang jauh lebih prestisius sudah pasti saya dapatkan. Namun apa daya tenaga, pikiran dan perasaan saya terlanjur habis hanya untuk mengurusi sang pujaan hati. Kinerja saya jadi menurun, performance saya juga memburuk, saya gagal menjaga citra saya sebagai seorang pekerja profesional. Hingga akhirnya saya pun terpental jatuh dari tangga karir yang telah saya upayakan dengan susah-payah. Lalu apa yang saya temukan kemudian, hidup baru yang carut-marut dan penuh dengan ketidakpastian. Saya harus kembali memulai perjuangan saya dari titik nol. Sementara syurga yang tadinya begitu saya yakini perlahan tapi pasti memudar jadi sebentuk bayangan yang samar bahkan nyaris hilang dari pandangan. Gadis itu pergi begitu saja menciptakan syurganya sendiri bersama seorang bajingan lain. Ia meninggalkan saya justru disaat saya sedang benar-benar membutuhkannya sebagai tempat saya bersandar dan berbagi atas semua kegundahan yang tengah saya alami. Hingga saya harus menghadapi keterpurukan itu sendiri .....

And the story goes .... Mantan kekasih datang menyampaikan rasa sesalnya sekaligus meminta restu akan rencana pernikahannya. Entah dengan bajingan mana pula. Aku mencoba untuk tidak peduli. Namun rasa sakit itu masih ada, luka itu masih basah, amarah itu pun masih belum sepenuhnya reda. Ternyata sulit, amat sangat sulit, untuk dapat sembuh dari luka karena cinta. Rasa sakit karena patah hati. Pedihnya dikhianati. Meskipun saya pernah berkata bahwa rasa sayang saya kepadanya jauh lebih kuat dari rasa sakit yang harus saya derita ....

Susah-payah saya berijtihad untuk dapat menerima kenyataan itu dengan ikhlas. Namun sifat manusiawi saya membuat saya sulit untuk bisa memaafkannya. Bahkan saat-saat menjelang hari bahagianya saya masih timbul-tenggelam dalam gejolak perasaan yang tidak menentu. Hingga kemudian, saya memutuskan untuk tetap memaafkannya. Meskipun saya tetap tidak menghadiri pesta pernikahannya. Saya juga mendoakan segala yang terbaik untuknya. Semoga pernikahan ini adalah jalan menuju kebahagiaan hidup yang dicita-citakannya. Bukankah hakikat dari cinta itu adalah membuat seseorang yang kita cintai senantiasa hidup dalam kebahagiaan. Jika itu jalannya untuk bahagia lalu apa lagi yang harus saya persoalkan?

MP, Memaafkan atau tidak memang menjadi hak masing-masing kita. Kita boleh memaafkan atau tidak setiap orang yang pernah menyakiti kita. Seperti orang lain yang juga boleh memaafkan atau tidak kesalahan-kesalahan kita. Namun memberi maaf atas kekhilafan orang lain nilainya tetap jauh lebih utama daripada menyimpan dendam kesumat yang hanya akan membebani hidup kita selamanya. Toh kita sendiri juga bukan manusia sempurna yang bebas dari kesalahan-kesalahan dimasa silam. Memaafkan menjadi sesuatu yang amat sulit dilakukan selagi kita memandang setiap persoalan hanya dari sudut pandang kepentingan kita saja. Kita yang merasa teraniaya, merasa tersakiti, pihak yang dikorbankan dan merasa pantas untuk dikasihani. Padahal bisa saja kita sengaja atau tidak juga berperan menyebabkan semua kesalahan itu terjadi .....

Adalah penting untuk selalu berpegang pada sejarah agar kita tidak memandang masa depan seperti seorang yang buta. Namun sejarah hanya layak untuk dijadikan cerminan dan pelajaran bukan untuk dijadikan sebagai sesal yang berkepanjangan. Saya rasa jika Tuhan dengan segala kekuasaannya telah mempertemukan kita dalam silahturahmi yang baik lalu apa pula hak kita mengakhiri silahturahmi itu dengan cara yang buruk. Biarlah silahturahmi itu tetap baik atas apapun yang telah terjadi. Toh diantara sekian hal buruk yang kita alami saya percaya ada banyak mungkin jauh lebih banyak hal baik yang pernah kita nikmati. Bahkan mungkin jika bukan karena kesalahan itu kita tidak dapat memandang hidup dari sisi yang berbeda. Memandang masa depan dari sisi yang semestinya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari setiap persoalan yang kita temukan. Semoga kita bisa menjadi orang-orang yang ikhlas dan bersyukur .....


Nico Surya, Padang Januari 2008

Tidak ada komentar: