Seorang teman lama menemui saya suatu ketika. Kebetulan ia sedang dalam perjalanan kerja dan berkesempatan untuk mengunjungi saya. Namun ia sangat terkejut ketika mendapati saya sudah sedemikian tambur padahal baru satu setengah tahun sejak pertemuan kami terakhi. Ada dua hal yang disampaikan teman saya ketika itu, pertama ia menganggap saya sudah sukses dan bahagia. Kedua ia menilai penampilan saya terlihat jauh lebih tua dan lebih buruk.
Terus-terang saya memang sedang bermasalah dengan berat badan. Akhir-akhir ini berat badan saya melonjak hingga tiga-empat kilo. Saya jadi terlihat gemuk, gendut dan tambun. Tapi bukan berarti saya telah menjadi seorang yang sukses dan bahagia. Jika ukuran sukses dan bahagia adalah seorang yang punya banyak uang dan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Saya jelas bukan bagian dari orang sukses itu. Saya hanya seorang pemuda biasa dengan penghasilan seadanya. Bahkan hidup saya jauh lebih sederhana dari sebelum-sebelumnya yang cenderung lebih ekstravaganza. Hanya saja sekarang saya merasa lebih menikmati hidup dan kehidupan saya dengan segala keterbatasan-keterbatasannya. Jika itu ukuran sukses dan bahagia, ya, saya memang sedang sukses dan bahagia.
Soal penampilan saya yang katanya terlihat lebih tua dan lebih buruk, siapapun tentunya tidak akan suka dengan keadaan itu. Termasuk saya. So, pasca obrolan dengan teman lama itu saya mulai sibuk memikirkan cara praktis dan mudah mengembalikan kondisi tubuh saya seperti semula. Cara paling masuk akal tentulah dengan sering berolah raga dan mengatur pola makan. Sayangnya sejak dahulu kala saya termasuk orang yang sangat enggan berolahraga. Meskipun saya bisa bercerita panjang lebar tentang Real Madrid Tim sepak bola favorit saya atau Casey Stoner pembalap pujaan saya. Tapi bukan berarti saya tertarik untuk mencoba menjadi seperti mereka. Adalah seorang teman yang kebetulan memiliki Gym pribadi dirumahnya, kami sepakat untuk latihan dua kali seminggu dan kesepakatan itu pun hanya bertahan selama dua minggu. Bahkan setiap kali pertemuan waktu efektif saya berolahraga paling hanya setengah jam saja. Itu pun sudah cukup membuat saya tersengal-sengal dan banjir dengan keringat. Walhasil setiap kali habis olahraga saya selalu melampiaskannya dengan tidur sepuas-puasnya. Tentu saja hal itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa terhadap tumpukan lemak ditubuh saya ....
Selanjutnya saya lebih fokus pada pengaturan pola makan. Ternyata mengatur nafsu makan ini sama saja beratnya dengan berolahraga. Malah terkadang terasa jauh lebih berat. Jika sebelumnya saya bebas saja menyantap apapun yang saya temukan. Sekarang saya harus pandai-pandai menahan diri. Susah-payah saya berlagak tidak kenal lagi dengan semua pedagang gerobak yang sering lewat didepan rumah saya. Meskipun beberapa diantara mereka yang mungkin karena ketidaktahuannya masih saja berhenti dan bersorak-sorak didepan pagar rumah saya berharap saya akan keluar dengan membawa sebuah mangkok kosong seperti biasa. Belakangan saya juga sering merasa amat sangat bersalah ketika harus berbohong dengan berbagai macam alasan menolak suguhan sarapan lontong pecel buatan Ibu yang tentunya sudah mempersiapkan itu sejak pagi buta atau ketika ada teman, rekan kerja atau bahkan salah-satu relasi yang dengan segala kegembiraannya mengajak saya hang out sekalian makan siang diluar.
Pernah suatu ketika seorang gadis manis yang sepertinya sedang terbius oleh pesona saya hingga kemudian kasmaran tak tertahankan mengajak saya makan malam disebuah restoran yang cukup ternama. Kebetulan ia sedang ulang tahun dan ingin mentraktir saya. Ia bahkan sengaja memilih restoran yang menyajikan menu favorit saya. Entah ia dapat informasi dari infotainment yang mana pula. Sialnya sebelum itu saya terlanjur menepati jadwal makan sore saya. Menurut aturan pola makan saya seharusnya saya tidak makan apa-apa lagi hingga esok pagi. Duh, Anda bisa bayangkan betapa beratnya perang batin yang harus saya hadapi ketika itu. Duduk menemani seorang gadis yang sedang bahagia, entah karena sedang ulang tahun entah karena sedang jatuh cinta, Tepat didepan kami bergelimpangan makanan dan minuman enak kesukaan saya. Aromanya berebutan seakan hendak mencakar-cakar pikiran saya. Ya, ya ... kadang cinta itu memang kejam tapi saya tidak menyangka akan sampai sekejam itu ....
Entahlah, Lama-lama saya mulai merasa tidak nyaman lagi dengan hidup saya. Hanya untuk bisa sedikit lebih langsing saja agar terlihat keren dan awet muda saya terpaksa harus mengecewakan diri saya sendiri, mengecewakan orang-orang baik disekitar saya, saya bahkan terpaksa harus kehilangan begitu saja moment-moment terindah dalam kehidupan saya yang seharusnya bisa saya nikmati bersama-sama dengan mereka. Tidak jarang saya jadi begitu senewen merasa tiba-tiba seakan menjelma jadi seorang agen rahasia yang sedang dalam misi penyamaran yang harus hidup dengan segudang kebohongan dan tega melihat orang-orang lain kecewa. Lama saya menimbang-nimbang, duduk sendirian saat malam larut dalam keheningan dan angin yang bertiup perlahan-lahan, sementara disana langit bertabur dengan bintang dan sepotong bulan muda yang terlihat kusam. Tiba-tiba saya mendapat wangsit untuk segera menjadi nabi em, maksud saya segera menghentikan omong-kosong itu.
Saya sudah terbiasa tampil apa-adanya lalu kenapa saya harus belingsatan hanya karena seorang teman tidak suka dengan penampilan saya sekarang? Toh menjadi gemuk itu bukan sebuah kesalahan dan sama-sekali bukan dosa. Menikmati rejeki yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita jsutru adalah bentuk dari rasa syukur yang nyata. Selagi masih sehat dan tidak berlebihan kenapa harus dipersoalkan? Saya jadi ingat betapa selang sekian tahun yang lalu saya juga pernah begitu uring-uringan karena masalah berat badan. Betapa dulu pola makan saya benar-benar berantakan. Maklum ketika itu saya hanyalah seorang perantauan yang kerja serabutan. Ya, Kalau ada rejeki saya bisa makan enak. Tapi seringnya justru makan seadanya bahkan lebih sering lagi hanya makan mie instan saja. Itu pun kadang harus ditunda-tunda dulu sampai benar-benar lapar. Hm, Ingatkah engkau kepada embun pagi yang bersahaja yang menemani sebelum cahaya .....
Nico Surya, Padang, Februari 2008
Terus-terang saya memang sedang bermasalah dengan berat badan. Akhir-akhir ini berat badan saya melonjak hingga tiga-empat kilo. Saya jadi terlihat gemuk, gendut dan tambun. Tapi bukan berarti saya telah menjadi seorang yang sukses dan bahagia. Jika ukuran sukses dan bahagia adalah seorang yang punya banyak uang dan bisa melakukan apa saja yang ia inginkan. Saya jelas bukan bagian dari orang sukses itu. Saya hanya seorang pemuda biasa dengan penghasilan seadanya. Bahkan hidup saya jauh lebih sederhana dari sebelum-sebelumnya yang cenderung lebih ekstravaganza. Hanya saja sekarang saya merasa lebih menikmati hidup dan kehidupan saya dengan segala keterbatasan-keterbatasannya. Jika itu ukuran sukses dan bahagia, ya, saya memang sedang sukses dan bahagia.
Soal penampilan saya yang katanya terlihat lebih tua dan lebih buruk, siapapun tentunya tidak akan suka dengan keadaan itu. Termasuk saya. So, pasca obrolan dengan teman lama itu saya mulai sibuk memikirkan cara praktis dan mudah mengembalikan kondisi tubuh saya seperti semula. Cara paling masuk akal tentulah dengan sering berolah raga dan mengatur pola makan. Sayangnya sejak dahulu kala saya termasuk orang yang sangat enggan berolahraga. Meskipun saya bisa bercerita panjang lebar tentang Real Madrid Tim sepak bola favorit saya atau Casey Stoner pembalap pujaan saya. Tapi bukan berarti saya tertarik untuk mencoba menjadi seperti mereka. Adalah seorang teman yang kebetulan memiliki Gym pribadi dirumahnya, kami sepakat untuk latihan dua kali seminggu dan kesepakatan itu pun hanya bertahan selama dua minggu. Bahkan setiap kali pertemuan waktu efektif saya berolahraga paling hanya setengah jam saja. Itu pun sudah cukup membuat saya tersengal-sengal dan banjir dengan keringat. Walhasil setiap kali habis olahraga saya selalu melampiaskannya dengan tidur sepuas-puasnya. Tentu saja hal itu tidak akan memberi pengaruh apa-apa terhadap tumpukan lemak ditubuh saya ....
Selanjutnya saya lebih fokus pada pengaturan pola makan. Ternyata mengatur nafsu makan ini sama saja beratnya dengan berolahraga. Malah terkadang terasa jauh lebih berat. Jika sebelumnya saya bebas saja menyantap apapun yang saya temukan. Sekarang saya harus pandai-pandai menahan diri. Susah-payah saya berlagak tidak kenal lagi dengan semua pedagang gerobak yang sering lewat didepan rumah saya. Meskipun beberapa diantara mereka yang mungkin karena ketidaktahuannya masih saja berhenti dan bersorak-sorak didepan pagar rumah saya berharap saya akan keluar dengan membawa sebuah mangkok kosong seperti biasa. Belakangan saya juga sering merasa amat sangat bersalah ketika harus berbohong dengan berbagai macam alasan menolak suguhan sarapan lontong pecel buatan Ibu yang tentunya sudah mempersiapkan itu sejak pagi buta atau ketika ada teman, rekan kerja atau bahkan salah-satu relasi yang dengan segala kegembiraannya mengajak saya hang out sekalian makan siang diluar.
Pernah suatu ketika seorang gadis manis yang sepertinya sedang terbius oleh pesona saya hingga kemudian kasmaran tak tertahankan mengajak saya makan malam disebuah restoran yang cukup ternama. Kebetulan ia sedang ulang tahun dan ingin mentraktir saya. Ia bahkan sengaja memilih restoran yang menyajikan menu favorit saya. Entah ia dapat informasi dari infotainment yang mana pula. Sialnya sebelum itu saya terlanjur menepati jadwal makan sore saya. Menurut aturan pola makan saya seharusnya saya tidak makan apa-apa lagi hingga esok pagi. Duh, Anda bisa bayangkan betapa beratnya perang batin yang harus saya hadapi ketika itu. Duduk menemani seorang gadis yang sedang bahagia, entah karena sedang ulang tahun entah karena sedang jatuh cinta, Tepat didepan kami bergelimpangan makanan dan minuman enak kesukaan saya. Aromanya berebutan seakan hendak mencakar-cakar pikiran saya. Ya, ya ... kadang cinta itu memang kejam tapi saya tidak menyangka akan sampai sekejam itu ....
Entahlah, Lama-lama saya mulai merasa tidak nyaman lagi dengan hidup saya. Hanya untuk bisa sedikit lebih langsing saja agar terlihat keren dan awet muda saya terpaksa harus mengecewakan diri saya sendiri, mengecewakan orang-orang baik disekitar saya, saya bahkan terpaksa harus kehilangan begitu saja moment-moment terindah dalam kehidupan saya yang seharusnya bisa saya nikmati bersama-sama dengan mereka. Tidak jarang saya jadi begitu senewen merasa tiba-tiba seakan menjelma jadi seorang agen rahasia yang sedang dalam misi penyamaran yang harus hidup dengan segudang kebohongan dan tega melihat orang-orang lain kecewa. Lama saya menimbang-nimbang, duduk sendirian saat malam larut dalam keheningan dan angin yang bertiup perlahan-lahan, sementara disana langit bertabur dengan bintang dan sepotong bulan muda yang terlihat kusam. Tiba-tiba saya mendapat wangsit untuk segera menjadi nabi em, maksud saya segera menghentikan omong-kosong itu.
Saya sudah terbiasa tampil apa-adanya lalu kenapa saya harus belingsatan hanya karena seorang teman tidak suka dengan penampilan saya sekarang? Toh menjadi gemuk itu bukan sebuah kesalahan dan sama-sekali bukan dosa. Menikmati rejeki yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita jsutru adalah bentuk dari rasa syukur yang nyata. Selagi masih sehat dan tidak berlebihan kenapa harus dipersoalkan? Saya jadi ingat betapa selang sekian tahun yang lalu saya juga pernah begitu uring-uringan karena masalah berat badan. Betapa dulu pola makan saya benar-benar berantakan. Maklum ketika itu saya hanyalah seorang perantauan yang kerja serabutan. Ya, Kalau ada rejeki saya bisa makan enak. Tapi seringnya justru makan seadanya bahkan lebih sering lagi hanya makan mie instan saja. Itu pun kadang harus ditunda-tunda dulu sampai benar-benar lapar. Hm, Ingatkah engkau kepada embun pagi yang bersahaja yang menemani sebelum cahaya .....
Nico Surya, Padang, Februari 2008
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar