ANTARA AKU DAN SI TUKANG CUKUR
Ini adalah sebuah kisah yang terjadi disatu bagian masa lalu saya. Sebuah kisah yang mungkin terkesan biasa dan sederhana. Namun setidaknya saya telah belajar sesuatu dari peristiwa itu. Mudah-mudahan kisah ini juga bias memberi inspirasi kepada Anda semua.
Alkisah pada suatu ketika saya bubaran kerja agak telat karena harus menyelesaikan laporan bulanan yang harus saya pertanggungjawabkan esok pagi. Sementara saya juga berkepentingan untuk memperbaiki penampilan saya agar tidak terkesan kacau saat rapat perusahaan nanti. Berhubung malam sudah mulai larut. Saya tidak punya banyak pilihan bahkan untuk sekedar potong rambut. Akhirnya saya memutuskan untuk potong rambut dimana saja tempat pangkas rambut yang masih buka. Setelah menyusuri seperempat wajah kota akhirnya saya menemukan juga sebuah tempat pangkas yang masih buka. Sebuah tempat yang sangat sederhana dengan sejumlah potongan kaca dan poster model rambut jaman beheula. Sama seperti kebanyakan tempat potong rambut yang biasa kita temukan dipinggir-pinggir jalan. Kebetulan Si tukang cukur juga sedang bermalas-malas sambil menyaksikan tayangan televise 14 incinya yang parker disalah-satu sudut ruangan. Setelah berbasa-basi sebentar saya langsung saja memintanya merapikan rambut saya yang sudah mulai panjang dan awut-awutan.
Seperti biasa sambil melaksanakan tugasnya si Tukang Cukur mengajak ngobrol dengan satu-dua pertanyaan yang tentunya saya tanggapi sebagaimana mestinya. Namun pada menit-menit selanjutnya si Tukang Cukur mulai menarik obrolan itu semakin dekat dengan kehidupan pribadinya. Berawal dari biaya hidup yang semakin tinggi sementara penghasilannya masih jauh dari memadai. Sementara ia tidak punya sumber penghasilan lain selain menjadi tukang cukur. Itu pun masih harus dibagi dengan si pemilik tempat. Lama-lama obrolan itu lebih terkesan seperti curahan hati alias curhat. Tapi saya tetap mendengarkannya. Apalagi yang bias saya dengarkan saat suasana malam itu mulai sepi sementara kepala saya masih dalam genggamannya. Meskipun pada awalnya saya sempat dibuat terkantuk-kantuk mendengarkan kisahnya namun pada akhirnya saya justru jadi tertarik dan berusaha memancingnya untuk bercerita lebih banyak lagi.
Si Tukang Cukur yang ternyata masih sedikit lebih muda dari saya, meskipun tentunya saya sendiri juga masih cukup muda, ternyata punya latar belakang yang cukup memadai. Setidaknya ia menyandang predikat sarjana muda dari sebuah akademi swasta yang tidak terlalu ternama. Awalnya ia telah mencoba untuk mencari pekerjaan yang sesuai namun setiap lamaran yang ia kirimkan selalu berakhir dengan tanda-tanya sebesar dunia. Pernah sekali ia bekerja sebagai tenaga marketing disebuah penerbitan buku namun karena pengalaman dan bakat bisnisnya yang sangat terbatas ia sering gagal mencapai target yang ditetapkan perusahaan hingga komisi yang ia dapatkan pun tidak lebih dari sekedar uang transport. Sementara sepeda motor yang terlanjur ia kredit dengan DP ringan akhirnya harus beralih tangan alias over credit. Masalah ternyata tidak selesai sampai disana. Pacar yang dinikahinya setahun setelah diwisuda itu melahirkan putra mereka yang pertama. Namun karena kurangnya biaya persalinan mereka terpaksa meminjam pada saudara yang pada akhirnya justru memicu sikap-sikap yang tidak simpatik dan melecehkan. Tidak tahan dengan semua tekanan dan sindiran itu mereka memutuskan untuk merantau kekota hingga kemudian ia hidup sebagai tukang cukur.
Terus-terang saya tidak tahu kenapa si Tukang cukur itu mau begitu terbuka bercerita kepada saya. Saya juga tidak yakin dia akan menceritakan kehidupan pribadinya itu pada setiap orang yang bercukur padanya. Yang saya tahu ia begitu senang bisa menceritakan masalahnya kepada saya. Meskipun saya tidak memberikan solusi apa-apa menanggapi masalahnya itu tapi sepertinya ia cukup senang saya telah mendengarkannya. Bahkan ketika saya selesai bercukur dan menyerahkan selembar sepuluh ribuan diluar dugaan si Tukang cukur justru menolaknya. Saya tahu meskipun hanya sepuluh ribu tapi ia sangat membutuhkan itu. Tapi ada yang sepertinya saya kurang tahu ketika itu bahwa ia sedang butuh didengarkan. Kebutuhan yang tidak mengenal status dan strata social. Saya yakin dan percaya semua kita pernah merasa butuh untuk benar-benar didengarkan. Hingga ketika ada seseorang yang mau mendengarkan kita sepertinya sebagian dari beban yang sedang kita tanggung seakan berkurang. Dan itu cukup membuat kita merasa sedikit lebih nyaman.
Jika setiap orang memiliki kecenderungan untuk ingin didengarkan maka kita bisa saja dekat dengan siapapun yang kita inginkan jika kita bisa jadi seorang pendengar yang baik. Demikian lah kenapa banyak orang sukses mengatakan bahwa menjadi seorang pembicara yang baik sama pentingnya dengan jadi seorang pendengar yang baik. Dengan menjadi seorang pendengar yang baik dan sungguh-sungguh maka kita berkesempatan untuk dekat secara emosional dengan orang-orang disekitar kita. So, meskipun berat sepertinya tidak ada salahnya jika kita mulai belajar untuk bisa mendengarkan.
Nico Surya, Padang, Fabruari 2008
Alkisah pada suatu ketika saya bubaran kerja agak telat karena harus menyelesaikan laporan bulanan yang harus saya pertanggungjawabkan esok pagi. Sementara saya juga berkepentingan untuk memperbaiki penampilan saya agar tidak terkesan kacau saat rapat perusahaan nanti. Berhubung malam sudah mulai larut. Saya tidak punya banyak pilihan bahkan untuk sekedar potong rambut. Akhirnya saya memutuskan untuk potong rambut dimana saja tempat pangkas rambut yang masih buka. Setelah menyusuri seperempat wajah kota akhirnya saya menemukan juga sebuah tempat pangkas yang masih buka. Sebuah tempat yang sangat sederhana dengan sejumlah potongan kaca dan poster model rambut jaman beheula. Sama seperti kebanyakan tempat potong rambut yang biasa kita temukan dipinggir-pinggir jalan. Kebetulan Si tukang cukur juga sedang bermalas-malas sambil menyaksikan tayangan televise 14 incinya yang parker disalah-satu sudut ruangan. Setelah berbasa-basi sebentar saya langsung saja memintanya merapikan rambut saya yang sudah mulai panjang dan awut-awutan.
Seperti biasa sambil melaksanakan tugasnya si Tukang Cukur mengajak ngobrol dengan satu-dua pertanyaan yang tentunya saya tanggapi sebagaimana mestinya. Namun pada menit-menit selanjutnya si Tukang Cukur mulai menarik obrolan itu semakin dekat dengan kehidupan pribadinya. Berawal dari biaya hidup yang semakin tinggi sementara penghasilannya masih jauh dari memadai. Sementara ia tidak punya sumber penghasilan lain selain menjadi tukang cukur. Itu pun masih harus dibagi dengan si pemilik tempat. Lama-lama obrolan itu lebih terkesan seperti curahan hati alias curhat. Tapi saya tetap mendengarkannya. Apalagi yang bias saya dengarkan saat suasana malam itu mulai sepi sementara kepala saya masih dalam genggamannya. Meskipun pada awalnya saya sempat dibuat terkantuk-kantuk mendengarkan kisahnya namun pada akhirnya saya justru jadi tertarik dan berusaha memancingnya untuk bercerita lebih banyak lagi.
Si Tukang Cukur yang ternyata masih sedikit lebih muda dari saya, meskipun tentunya saya sendiri juga masih cukup muda, ternyata punya latar belakang yang cukup memadai. Setidaknya ia menyandang predikat sarjana muda dari sebuah akademi swasta yang tidak terlalu ternama. Awalnya ia telah mencoba untuk mencari pekerjaan yang sesuai namun setiap lamaran yang ia kirimkan selalu berakhir dengan tanda-tanya sebesar dunia. Pernah sekali ia bekerja sebagai tenaga marketing disebuah penerbitan buku namun karena pengalaman dan bakat bisnisnya yang sangat terbatas ia sering gagal mencapai target yang ditetapkan perusahaan hingga komisi yang ia dapatkan pun tidak lebih dari sekedar uang transport. Sementara sepeda motor yang terlanjur ia kredit dengan DP ringan akhirnya harus beralih tangan alias over credit. Masalah ternyata tidak selesai sampai disana. Pacar yang dinikahinya setahun setelah diwisuda itu melahirkan putra mereka yang pertama. Namun karena kurangnya biaya persalinan mereka terpaksa meminjam pada saudara yang pada akhirnya justru memicu sikap-sikap yang tidak simpatik dan melecehkan. Tidak tahan dengan semua tekanan dan sindiran itu mereka memutuskan untuk merantau kekota hingga kemudian ia hidup sebagai tukang cukur.
Terus-terang saya tidak tahu kenapa si Tukang cukur itu mau begitu terbuka bercerita kepada saya. Saya juga tidak yakin dia akan menceritakan kehidupan pribadinya itu pada setiap orang yang bercukur padanya. Yang saya tahu ia begitu senang bisa menceritakan masalahnya kepada saya. Meskipun saya tidak memberikan solusi apa-apa menanggapi masalahnya itu tapi sepertinya ia cukup senang saya telah mendengarkannya. Bahkan ketika saya selesai bercukur dan menyerahkan selembar sepuluh ribuan diluar dugaan si Tukang cukur justru menolaknya. Saya tahu meskipun hanya sepuluh ribu tapi ia sangat membutuhkan itu. Tapi ada yang sepertinya saya kurang tahu ketika itu bahwa ia sedang butuh didengarkan. Kebutuhan yang tidak mengenal status dan strata social. Saya yakin dan percaya semua kita pernah merasa butuh untuk benar-benar didengarkan. Hingga ketika ada seseorang yang mau mendengarkan kita sepertinya sebagian dari beban yang sedang kita tanggung seakan berkurang. Dan itu cukup membuat kita merasa sedikit lebih nyaman.
Jika setiap orang memiliki kecenderungan untuk ingin didengarkan maka kita bisa saja dekat dengan siapapun yang kita inginkan jika kita bisa jadi seorang pendengar yang baik. Demikian lah kenapa banyak orang sukses mengatakan bahwa menjadi seorang pembicara yang baik sama pentingnya dengan jadi seorang pendengar yang baik. Dengan menjadi seorang pendengar yang baik dan sungguh-sungguh maka kita berkesempatan untuk dekat secara emosional dengan orang-orang disekitar kita. So, meskipun berat sepertinya tidak ada salahnya jika kita mulai belajar untuk bisa mendengarkan.
Nico Surya, Padang, Fabruari 2008
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar