AKU CINTA KAU dan DIA
Saya punya teman namanya sebut saja Rudi. Pertama saya mengenalnya Rudi hanyalah seorang sarjana yang kerja serabutan. Tapi saya melihat ada kemauan yang keras didirinya untuk menjadi seorang pekerja professional. So, kebetulan waktu itu saya juga sedang berada dalam posisi yang cukup strategis dan punya cukup jaringan kerja maka saya merekomendasikan dia untuk bekerja disalah-satu perusahaan keuangan. Awalnya Rudi menolak karena merasa bekerja sebagai seorang marketing bukanlah pekerjaan idamannya. Ia juga merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang sarjana tekhnik. Namun setelah aku yakinkan bahwa ini adalah peluang untuk memulai sesuatu yang besar maka ia pun mau mencobanya. Setelah tentunya butuh waktu untuk belajar dan membiasakan diri dengan profesi barunya itu akhirnya Rudi mulai bisa mengoptimalkan kemampuannya. Terbukti ia mulai bisa menyelesaikan setiap tugas yang dibebankan kepadanya.
Suatu ketika Rudi dapat tawaran baru dengan iming-iming pendapatan dan fasilitas yang lebih baik dari yang didapatkannya saat itu. Sebagai seorang pekerja muda yang sedang giat-giatnya mengejar kemapanan maka Rudi pun tidak menyia-nyiakan peluang emas itu. Ia kemudian memutuskan untuk jadi seorang pekerja ganda. Tentu saja dengan demikian potensi pendapatannya akan bertambah dua kali lipat bahkan lebih. Tapi beban tugas dan tanggung jawab yang harus dia tanggung juga melonjak drastic. Apalagi Rudi melakukan hal itu secara diam-diam alias tanpa seizin dari perusahaan-perusahaan dimana ia bekerja.
Bulan-bulan pertama semuanya masih bisa atasi. Meskipun untuk itu Rudi harus pintar-pintar membagi waktu dan pintar-pintar mencari alasan jika sewaktu-waktu keberadaannya dipertanyakan. Namun lama-lama Rudi merasa jengah juga karena hari-harinya tidak pernah lepas dari kebohongan. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu masing-masing perusahaan menambah beban tugasnya hingga ia pun semakin kerepotan untuk membagi waktu, tenaga dan pikirannya. Bahkan semakin kesini semakin banyak tugas yang tidak terlaksanakan dengan baik. Seperti pepatah lama mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Rudi pun tidak bisa mengelak ketika tiba-tiba ia dipergoki tengah melakukan pekerjaan lain saat harus mengerjakan tugas penting dari perusahaan. Akhirnya Rudi pun harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan salah-satu dari pekerjaannya. Rudi kemudian mencoba focus dengan pekerjaan lainnya. Hanya saja ternyata pekerjaan itu tidak senyaman pekerjaannya semula. Meskipun dari pekerjaan itu ia mendapatkan lebih tapi ia sama-sekali tidak menemukan suasana kebatinan yang bisa membuat ia bekerja dengan semangat dan suka cita.
Ternyata pekerjaan itu sama saja dengan pacaran. Setiap kita punya klasifikasi pekerjaan atau pacar idaman masing-masing. Namun tidak serta merta kita bisa mendapatkan pekerjaan dan pacar seperti yang kita inginkan. Seringkali kita justru dipertemukan dengan pekerjaan dan pacar yang jauh berbeda dari apa yang selama ini kita idam-idamkan. Hingga kemudian kita harus lebih banyak sengsara daripada bahagia. Tapi hakikatnya dalam pekerjaan atau pun pacaran sama-sama dibutuhkan keseriusan dan kemauan untuk saling memahami. Jika pekerjaan atau pacaran dijalani sekedar iseng atau coba-coba maka kita pasti akan tetap memiliki kecenderungan untuk selingkuh alias mendua. Kita juga akan tetap memiliki kecenderungan untuk tergoda pada sesuatu yang terlihat lebih menarik.
Jadi pekerjaan itu sama saja seperti pacaran. Sebaiknya dalam memilih pekerjaan atau pun memilih pacar kita tidak melulu melihat dari kesannya atau kemasannya saja. Sesuatu yang terlihat bagus belum tentu baik untuk kita. Seperti halnya pacaran dalam pekerjaan kita juga bisa putus berkali-kali karena sudah tidak ada lagi kecocokan. Hingga kemudian kita dipertemukan dengan sesuatu yang memang sudah jadi bagian dari takdir hidup kita. So, pada akhirnya saya ingin mengatakan bekerja lah dengan penuh cinta, ketulusan dan keikhlasan semoga pekerjaan itu akan membawa kebahagiaan untuk kita hingga kemudian maut memisahkan … Amien
Nico Surya, Padang, Februari 2008
Saya punya teman namanya sebut saja Rudi. Pertama saya mengenalnya Rudi hanyalah seorang sarjana yang kerja serabutan. Tapi saya melihat ada kemauan yang keras didirinya untuk menjadi seorang pekerja professional. So, kebetulan waktu itu saya juga sedang berada dalam posisi yang cukup strategis dan punya cukup jaringan kerja maka saya merekomendasikan dia untuk bekerja disalah-satu perusahaan keuangan. Awalnya Rudi menolak karena merasa bekerja sebagai seorang marketing bukanlah pekerjaan idamannya. Ia juga merasa pekerjaan itu tidak sesuai dengan latar belakangnya sebagai seorang sarjana tekhnik. Namun setelah aku yakinkan bahwa ini adalah peluang untuk memulai sesuatu yang besar maka ia pun mau mencobanya. Setelah tentunya butuh waktu untuk belajar dan membiasakan diri dengan profesi barunya itu akhirnya Rudi mulai bisa mengoptimalkan kemampuannya. Terbukti ia mulai bisa menyelesaikan setiap tugas yang dibebankan kepadanya.
Suatu ketika Rudi dapat tawaran baru dengan iming-iming pendapatan dan fasilitas yang lebih baik dari yang didapatkannya saat itu. Sebagai seorang pekerja muda yang sedang giat-giatnya mengejar kemapanan maka Rudi pun tidak menyia-nyiakan peluang emas itu. Ia kemudian memutuskan untuk jadi seorang pekerja ganda. Tentu saja dengan demikian potensi pendapatannya akan bertambah dua kali lipat bahkan lebih. Tapi beban tugas dan tanggung jawab yang harus dia tanggung juga melonjak drastic. Apalagi Rudi melakukan hal itu secara diam-diam alias tanpa seizin dari perusahaan-perusahaan dimana ia bekerja.
Bulan-bulan pertama semuanya masih bisa atasi. Meskipun untuk itu Rudi harus pintar-pintar membagi waktu dan pintar-pintar mencari alasan jika sewaktu-waktu keberadaannya dipertanyakan. Namun lama-lama Rudi merasa jengah juga karena hari-harinya tidak pernah lepas dari kebohongan. Apalagi seiring dengan berjalannya waktu masing-masing perusahaan menambah beban tugasnya hingga ia pun semakin kerepotan untuk membagi waktu, tenaga dan pikirannya. Bahkan semakin kesini semakin banyak tugas yang tidak terlaksanakan dengan baik. Seperti pepatah lama mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Rudi pun tidak bisa mengelak ketika tiba-tiba ia dipergoki tengah melakukan pekerjaan lain saat harus mengerjakan tugas penting dari perusahaan. Akhirnya Rudi pun harus menerima kenyataan bahwa ia telah kehilangan salah-satu dari pekerjaannya. Rudi kemudian mencoba focus dengan pekerjaan lainnya. Hanya saja ternyata pekerjaan itu tidak senyaman pekerjaannya semula. Meskipun dari pekerjaan itu ia mendapatkan lebih tapi ia sama-sekali tidak menemukan suasana kebatinan yang bisa membuat ia bekerja dengan semangat dan suka cita.
Ternyata pekerjaan itu sama saja dengan pacaran. Setiap kita punya klasifikasi pekerjaan atau pacar idaman masing-masing. Namun tidak serta merta kita bisa mendapatkan pekerjaan dan pacar seperti yang kita inginkan. Seringkali kita justru dipertemukan dengan pekerjaan dan pacar yang jauh berbeda dari apa yang selama ini kita idam-idamkan. Hingga kemudian kita harus lebih banyak sengsara daripada bahagia. Tapi hakikatnya dalam pekerjaan atau pun pacaran sama-sama dibutuhkan keseriusan dan kemauan untuk saling memahami. Jika pekerjaan atau pacaran dijalani sekedar iseng atau coba-coba maka kita pasti akan tetap memiliki kecenderungan untuk selingkuh alias mendua. Kita juga akan tetap memiliki kecenderungan untuk tergoda pada sesuatu yang terlihat lebih menarik.
Jadi pekerjaan itu sama saja seperti pacaran. Sebaiknya dalam memilih pekerjaan atau pun memilih pacar kita tidak melulu melihat dari kesannya atau kemasannya saja. Sesuatu yang terlihat bagus belum tentu baik untuk kita. Seperti halnya pacaran dalam pekerjaan kita juga bisa putus berkali-kali karena sudah tidak ada lagi kecocokan. Hingga kemudian kita dipertemukan dengan sesuatu yang memang sudah jadi bagian dari takdir hidup kita. So, pada akhirnya saya ingin mengatakan bekerja lah dengan penuh cinta, ketulusan dan keikhlasan semoga pekerjaan itu akan membawa kebahagiaan untuk kita hingga kemudian maut memisahkan … Amien
Nico Surya, Padang, Februari 2008
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar