Selasa, 15 Januari 2008

- KIAMAT SUDAH DEKAT -

KIAMAT SUDAH DEKAT
By Nico Surya



Judul sinetron garapan Dedi Mizwar ini pernah popular sekali selang beberapa waktu lalu. Begitu populernya sampai-sampai keluarga President RI Susilo Bambang Yodhoyono pun menggemarinya. Bahkan dalam berbagai kesempatan Dedi sering diperlakukan dengan sangat hormat oleh masyarakat yang ia temui hanya karena perannya sebagai kiyai disinetron itu. Meskipun judulnya terkesan cukup bombastis namun sebenarnya sinetron itu tidak lah setragis dan sedramatis yang dibayangkan. Seperti kebanyakan karya Dedi Mizwar lainnya sinetron ini lebih merupakan sebuah sinetron drama komedi yang mengangkat potret kehidupan social masyarakat kita.

Mungkin sudah agak basi membahas sinetron itu setelah sekian tahun berlalu. Tapi judulnya masih relevan untuk kita renungkan. Kiamat Sudah Dekat. Kebanyakkan umat manusia yang memiliki agama dan keyakinan akan Tuhan mempercayai adanya hari terakhir atau kiamat. Bahkan dalam agama-agama yang memiliki pengikut terbesar didunia seperti Kristen, Islam dan Yahudi diajarkan tentang tanda-tanda alam menjelang datangnya kiamat. Diantaranya semakin sulit membedakan antara pria dan wanita karena mereka terlihat sama saja. Emansipasi salah-kaprah, keseteraan gender salah-kaprah, hak asasi manusia salah-kaprah. Tanda lainnya semakin panasnya dunia hingga matahari terasa seakan-akan sejengkal diatas kepala kita. Global Warming, Menipisnya lapisan ozon, perubahan iklim. Munculnya Lucifer atau Dajjal, makhluk turunan iblis dan manusia bermata satu yang memiliki kemampuan tipu daya luar biasa. Makhluk itu barangkali belum muncul tapi pahamnya sudah sngat terasa dalam kehidupan kita. Lahir dan berkembangnya neo jahiliyah yang menyebabkan nilai-nilai menjadi tergeser oleh banyak alasan Bahwa sesuatu yang baik terlihat buruk. Orang rajin ke Mesjid jadi aneh, orang pakai sorban atau jilbab dianggap asing, orang poligami jadi salah sementara selingkuh malah jadi budaya, zina dan maksiat jadi sesuatu yang biasa. Pornografi, pornoaksi dan pornografitti malah disukai karena alasan hak asasi dan kebebasan berekspresi. Bukankah Kiamat Sudah Dekat?

Merenung sendiri dipenghujung hari menyaksikan alam bersuka ria membuat hatiku semakin risau saja. Setelah kemarin panas terik membakar kulit lalu hujan turun rintik-rintik sesaat tenang tiba-tiba angin bertiup kencang bukan kepalang untuk kemudian kembali panas, hujan, …. Hh, benarkah kiamat sudah dekat? Musibah yang hilir-mudik membawa ketakutan, kecemasan dan perasaan yang sangat tidak nyaman. Disana banjir, disini kemarau, disana lumpur, disini gempa, disana air laut pasang, jangan-jangan tsunami pula? Lalu apa lagi urgensinya konferensi tingkat tinggi PBB tentang perubahan iklim yang berlangsung di Bali? Jika negara-negara didunia ini masih sibuk mementingkan diri mereka sendiri. Jika unsure bisnis masih saja dianggap jauh lebih penting dari keselamatan lingkungan ini. Jika hal-hal tentang keselamatan dunia hanya jadi tanggung-jawab negara-negara kecil sementara para raksasa itu lebih suka berpesta dengan ambisi-ambisi mereka jadi Tuhan kecil yang bisa mengatur dunia seperti yang mereka suka sepanjang hari bersorak tentang hak asasi manusia, tentang terorisme, tentang demokrasi, tentang prularisme, tentang sekularisme …. Negeriku, paru-paru dunia yang lupa diri, hutannya habis untuk bisnis, malingnya kabur entah kemana sementara pemerintahnya seperti orang sekarat digerogoti korupsi, keserakahan dan kemunafikan yang semakin kronis dari hari kehari ….. Apakah kita sedang menunggu kiamat yang semakin dekat saat dunia hancur oleh bencana akibat ulah kita sendiri? Naudzubillah Min Zalik!

Padang, 15 Januari 2008

KETIKA NICO PATAH HATI


KETIKA NICO PATAH HATI
Oleh Nico Surya



Adalah sejarah yang telah membuktikan betapa pertumbuhan ekonomi yang tinggi bisa jadi lumpuh dalam seketika karena dibangun dengan pola konglomerasi yang sarat dengan unsur-unsur korupsi, kolusi dan nepotisme. Negara besar yang dibangun dengan tetesan darah dan penderitaan panjang ini pun hampir saja bangkrut. Hampir saja tergadai kebandar-bandar kapitalis dunia. Untung lah saja masih ada kesadaran kaum muda kita untuk kembali berjuang menyelamatkan masa depan bangsa. Mereka bergerak dari kampus-kampusnya, membawa luka dan kepedihan ibu-bapaknya, rakyat Indonesia, untuk kemudian bersatu menjadi gelombang pergerakkan yang solid dan utuh. Segala ketakutan yang mengukung selama berpuluh-puluh tahun akhirnya runtuh juga dalam satu kata “ Reformasi”.

Nyaris sepuluh tahun setelah lonceng reformasi itu berdentang telah pula banyak kebebasan yang kita dapatkan. Meskipun terkadang jadi boomerang karena letupan euphoria kebebasan salah-kaprah. Salah-satu dari amanat reformasi yang masih jadi sorotan hingga saat ini adalah penegakan supremasi hukum, pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme termasuk mengadili mantan president soeharto beserta kroni-kroninya. Namun sayang seribu sayang, pak tua sudah terlalu tua hingga jadi pelupa. Hanya saja, sejarah tentunya tidak akan pernah lupa. Ternyata memang tidak lah mudah untuk mengurai benang yang terlanjur kusut-masai. Tidak lah mudah menyembuhan penyakit yang terlanjur akut. Tidak juga mudah mengikis budaya yang terlanjur jadi tabiat. Korupsi, kolusi dan nepotisme ternyata masih saja terjadi disetiap bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara. Keserakahan itu kini menjelma dalam berbagai rupa. Jika dulu korupsi, kolusi dan nepotisme masih jadi monopoli orang-orang tertentu sekarang sudah semakin merata hingga kelingkungan-lingkungan terkecil sekalipun. Seorang pegawai rendah dikantor lurah atau petugas jaga disamsat bahkan merasa bodoh jika tidak ikut memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk sekedar menambah penghasilan meskipun dengan memakan riba ….

Sementara hukum yang diharapkan bisa jadi panglima dinegeri ini masih saja sempoyongan kesana-kemari. Seperti makhluk yang setengah teller. Terkadang bahkan seperti penari kuda lumping yang entah kemasukkan apa jingkrak-jingkrak tidak jelas. Sekian banyak kasus korupsi yang terungkap sekian banyak pula yang mengendap. Sebagian terus bergulir dengan proses yang hilir-mudik, carut-marut dan bertele-tele. Lalu kita, rakyat Indonesia pemilik sah negeri ini disuguhi dengan kenyataan-kenyataan yang menyakitkan. Menteri Hukum dan HAM bergantian terindikasi kasus korupsi. Pimpinan Komisi Pemberantas Korupsi bahkan ada yang jadi tersangka korupsi. Sementara seorang oknum Jenderal polisi juga diduga korupsi. Calon hakim agung kemudian dianggap korupsi. Belum lagi oknum-oknum Hakim dan jaksa didaerah yang ikut-ikut korupsi. Gubernur, Bupati, walikota serta anggota DPRD hingga muncul pula istilah korupsi berjamaah. Sementara kaum opportunis yang kenyang makan uang rakyat tenang-tenang saja di Macau atau Singapura tanpa tersentuh hukum sedikit pun. Alhasil republic Indonesia yang kita cintai ini nyaris tidak pernah punya prestasi apa-apa selain bertahan sebagai Negara terkorup didunia. Entahlah apa sebenarnya yang jadi masalah, apakah persoalan hukum kita atau perangkat hukum kita atau penegak hukum kita atau justru ketiga-tiganya ….

Tentunya kita tidak menginginkan suatu saat nanti dipagi buta saat kita lelap dalam mimpi sayup-sayup terdengar suara pengumunan dari mesjid yang mengatakan … “ Cek .. Cek … Hallo …. Ehem, … Innalillahi wa inalillahi rojiun … Telah berpulang ke Rahmatullah supremasi hukum dinegeri kita … karena telah uzur dan lanjut usia … hidup sejak zaman colonial Belanda …. Mohon segala kesalahan dan kekhilafan beliau semasa hidup dapat dimaafkan …. Terima kasih …“

Padang, 15 Januari 2008

FROM PADANG WITH LOVE

FROM PADANG WITH LOVE
by : Nico Surya

Ini kisah fiktif tentang seorang pemuda
bernama Ujang Palangkin. Meskipun
namanya terkesan aneh tapi Ujang
Palangkin merupakan sosok seorang anak
nagari yang sangat menjunjung nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam
filosofi Padang Kota Tercinta Kujaga
dan Kubela. Hari kehari Ujang Palangkin
selalu menyibukkan dirinya mengikuti
informasi tentang perkembangan kota.
Bahkan jika sehari terlewatkan karena
sesuatu dan lain hal maka Ujang
Palangkin pun akan tunggang-tunggik
mencari tahu apa yang telah terjadi.
Tidak ada sedikit pun tentang kota
Padang yang lepas dari pengetahuannya.
Mulai dari rendahnya kinerja aparat
pemerintahan yang menyebabkan turunnya
pencapaian target PAD hingga kota
Padang yang sekali lagi dianugerahi
penghargaan tingkat nasional karena
dianggap memiliki system drainase
terbaik. Meskipun terancam gagal
mempertahankan Adipura justru karena
drainase yang buruk. Bahkan jika
seandainya Ujang Palangkin
berkesempatan berdialog langsung dengan
Walikota Padang maka ia pasti akan
memaksa sang Walikota batanggang
samalam suntuak mendengarkan seribu
satu keluhan, kritikan dan gagasannya.
Semua karena Ujang Palangkin sangat
mencintai Kota Padang jauh melebihi
cintanya pada Upiak Banun, gadis
pujaannya yang telah lama pergi
merantau kenegeri orang karena sejak
lulus kuliah dan jadi sarjana ekonomi
tidak juga kunjung dapat pekerjaan
dikota Padang. Padahal Upiak Banun
termasuk satu diantara ratusan gadis
lainnya yang rajin bagaluntun puntun
dikantor pos dan di kantor disnaker
untuk mencari lowongan pekerjaan. Namun
apa daya rejekinya memang ada dinegeri
orang. Maka dapat dibayangkan betapa
sedihnya Ujang Palangkin melepas
kepergian gadis sibiran tulangnya
diterminal bis bingkuang yang lengang
dan mulai lapuk dimakan waktu. Ketika
itu hanya ada dia, hatinya yang luka
dan seekor jawi yang digembalakan
penduduk disekitar termina itu yang
katanya terminal termegah disumatera .

Bekerja sebagai seorang tenaga
marketing disebuah perusahaan otomotif
abal-abal telah membuat Upiak Banun
menjelma jadi seorang gadis metropolis
yang sok melek tekhnologi dan sok gaul.
Ujang Palangkin hampir pingsan demi
melihat foto yang dikirimkan Upiak
Banun dengan wajahnya yang penuh bedak,
mascara, rambut pirang seperti
terpanggang matahari serta pakaian
ketat yang menyembulkan kemolekkan
tubuhnya dari mulai bagian paling atas
hingga kebagian paling bawah. Setiap
kali menelpon pun Upiak Banun asik
berciloteh tentang gaya hidupnya yang
extravaganza, dengan sesekali diselingi
istilah-istilah ala selebriti ibu kota.
Capeek deeh …. Pernah sekali Upiak
Banun mengajak Ujang Palangkin bervideo
call dengan fasilitas 3G agar kangennya
bisa lebih terobati namun Ujang
Palangkin terpaksa berdusta karena
handphonenya memang hanya bisa untuk
menelpon dan berkirim pesan saja.
Akhirnya Ujang Palangkin lebih suka
melimpahkan segenap perhatiannya pada
perkembangan kota Padang yang ia cintai
daripada mengurusi si buah hati yang
justru membuatnya semakin makan hati.

Suatu ketika Ujang Palangkin begitu
bersemangat setelah mendengar program
dialog interaktif di Radio Pronews FM.
Kebetulan pagi itu sedang mengangkat
topic tentang kota Padang kedepan.
Acara itu dibawakan oleh presenter
kondang idolanya Nico surya dengan
pembicara dari pemerintah kota Padang.
Saking bersemangatnya Ujang Palangkin
pun ingin ikut berinteraksi
menyampaikan gagasan-gagasannya yang
selama ini hanya jadi perbincangan
orang-orang dilapau One Winar saja.
Namun sayang untung tak dapat diraih
malang tak dapat ditolak pulsanya yang
tinggal tujuh ribu seratus lima puluh
rupiah itu ternyata sudah habis masa
aktifnya. Dengan berat hati terpaksa
Ujang Palangkin manggut-manggut didepan
pesawat radio yang telah turun temurun
hingga lima generasi itu. Hingga acara
itu selesai Ujang Palangkin tidak
sekalipun keluar dari kamarnya.

Sekali keluar Ujang Palangkin langsung
berkoar tentang program-program
pemerintah untuk menjadikan kota Padang
sebagai salah-satu pusat ekonomi,
industri dan niaga di Sumatera. Ia
bercerita tentang rencana pemerintah
melakukan revitalisasi pelabuhan teluk
bayur, pembangunan terowongan di bungus
teluk kabung, pembangunan jalan dua
arah di By Pass, Peremajaan pasar-pasar
tradisional jadi pasar semi modern,
optimalisasi terminal bis bingkuang,
pembangunan sentra niaga penggrosiran
disekitar terminal, pemindahan kantor-
kantor pemerintahan serta pembangunan
pusat layanan terpadu, pembangunan
jalan layang ke Bandara Minangkabau,
pembangunan ring road sepanjang pantai
padang, pembangunan sentra wisata
bahari dengan berbagai fasilitas
seperti hotel, resort, restoran,
pertokoan, apartemen dan wahana bermain
keluarga dipantai muaro. Namun emaknya
yang baru saja pulang dari berbelanja
dipasar raya hanya diam saja. Wajahnya
yang mulai menua tampak basah dengan
keringat. Terbayang dibenaknya harga
kebutuhan harian yang mulai naik lagi.
Suasana pasar raya yang sumpek, panas,
bau dan becek. Angkutan kota yang
hangar-bingar dengan dentuman musik
yang membuatnya sakit kepala. Tumpang-
tindih tidak beraturan. Bahkan dalam
perjalanan pulang sopirnya yang masih
ingusan berkali-kali hampir tabrakan
karena lampu merah banyak yang tidak
berfungsi. Belum lagi perjalanan
mereka terpaksa melambat karena
dihadang oleh genangan air sisa hujan
semalam karena drainase yang buruk.
Banyaknya parkir liar hampir
disepanjang pinggir jalan. Namun PAD
tetap saja kurang Pengemis, Anank
jalanan. Pengangguran, kemisikinan Kota
ini punya banyak masalah yang tak
kunjung terselesaikan sementara kita
masih asik bermimpi lalu keletihan
menunggu mimpi itu jadi nyata …

Ujang tidak berpatah arang ia masih
terus saja berciloteh tentang negeri
impian yang baru saja ia dengar. Ia pun
bersiap untuk menggelar mimbar bebas
dilapau one Winar. Ini pesan yang harus
disampaikan. Semua harus tahu. Tentang
rencana indah kota Padang kedepan.
Meskipun terdengar seperti alunan rabab
pasisia ditengah malam buta sayup-sayup
dibawa oleh angin laut yang basah
sementara kita lelap tertidur …..

Padang, New Year 2008 ......