by : Nico Surya
Ini kisah fiktif tentang seorang pemuda
bernama Ujang Palangkin. Meskipun
namanya terkesan aneh tapi Ujang
Palangkin merupakan sosok seorang anak
nagari yang sangat menjunjung nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam
filosofi Padang Kota Tercinta Kujaga
dan Kubela. Hari kehari Ujang Palangkin
selalu menyibukkan dirinya mengikuti
informasi tentang perkembangan kota.
Bahkan jika sehari terlewatkan karena
sesuatu dan lain hal maka Ujang
Palangkin pun akan tunggang-tunggik
mencari tahu apa yang telah terjadi.
Tidak ada sedikit pun tentang kota
Padang yang lepas dari pengetahuannya.
Mulai dari rendahnya kinerja aparat
pemerintahan yang menyebabkan turunnya
pencapaian target PAD hingga kota
Padang yang sekali lagi dianugerahi
penghargaan tingkat nasional karena
dianggap memiliki system drainase
terbaik. Meskipun terancam gagal
mempertahankan Adipura justru karena
drainase yang buruk. Bahkan jika
seandainya Ujang Palangkin
berkesempatan berdialog langsung dengan
Walikota Padang maka ia pasti akan
memaksa sang Walikota batanggang
samalam suntuak mendengarkan seribu
satu keluhan, kritikan dan gagasannya.
Semua karena Ujang Palangkin sangat
mencintai Kota Padang jauh melebihi
cintanya pada Upiak Banun, gadis
pujaannya yang telah lama pergi
merantau kenegeri orang karena sejak
lulus kuliah dan jadi sarjana ekonomi
tidak juga kunjung dapat pekerjaan
dikota Padang. Padahal Upiak Banun
termasuk satu diantara ratusan gadis
lainnya yang rajin bagaluntun puntun
dikantor pos dan di kantor disnaker
untuk mencari lowongan pekerjaan. Namun
apa daya rejekinya memang ada dinegeri
orang. Maka dapat dibayangkan betapa
sedihnya Ujang Palangkin melepas
kepergian gadis sibiran tulangnya
diterminal bis bingkuang yang lengang
dan mulai lapuk dimakan waktu. Ketika
itu hanya ada dia, hatinya yang luka
dan seekor jawi yang digembalakan
penduduk disekitar termina itu yang
katanya terminal termegah disumatera .
Bekerja sebagai seorang tenaga
marketing disebuah perusahaan otomotif
abal-abal telah membuat Upiak Banun
menjelma jadi seorang gadis metropolis
yang sok melek tekhnologi dan sok gaul.
Ujang Palangkin hampir pingsan demi
melihat foto yang dikirimkan Upiak
Banun dengan wajahnya yang penuh bedak,
mascara, rambut pirang seperti
terpanggang matahari serta pakaian
ketat yang menyembulkan kemolekkan
tubuhnya dari mulai bagian paling atas
hingga kebagian paling bawah. Setiap
kali menelpon pun Upiak Banun asik
berciloteh tentang gaya hidupnya yang
extravaganza, dengan sesekali diselingi
istilah-istilah ala selebriti ibu kota.
Capeek deeh …. Pernah sekali Upiak
Banun mengajak Ujang Palangkin bervideo
call dengan fasilitas 3G agar kangennya
bisa lebih terobati namun Ujang
Palangkin terpaksa berdusta karena
handphonenya memang hanya bisa untuk
menelpon dan berkirim pesan saja.
Akhirnya Ujang Palangkin lebih suka
melimpahkan segenap perhatiannya pada
perkembangan kota Padang yang ia cintai
daripada mengurusi si buah hati yang
justru membuatnya semakin makan hati.
Suatu ketika Ujang Palangkin begitu
bersemangat setelah mendengar program
dialog interaktif di Radio Pronews FM.
Kebetulan pagi itu sedang mengangkat
topic tentang kota Padang kedepan.
Acara itu dibawakan oleh presenter
kondang idolanya Nico surya dengan
pembicara dari pemerintah kota Padang.
Saking bersemangatnya Ujang Palangkin
pun ingin ikut berinteraksi
menyampaikan gagasan-gagasannya yang
selama ini hanya jadi perbincangan
orang-orang dilapau One Winar saja.
Namun sayang untung tak dapat diraih
malang tak dapat ditolak pulsanya yang
tinggal tujuh ribu seratus lima puluh
rupiah itu ternyata sudah habis masa
aktifnya. Dengan berat hati terpaksa
Ujang Palangkin manggut-manggut didepan
pesawat radio yang telah turun temurun
hingga lima generasi itu. Hingga acara
itu selesai Ujang Palangkin tidak
sekalipun keluar dari kamarnya.
Sekali keluar Ujang Palangkin langsung
berkoar tentang program-program
pemerintah untuk menjadikan kota Padang
sebagai salah-satu pusat ekonomi,
industri dan niaga di Sumatera. Ia
bercerita tentang rencana pemerintah
melakukan revitalisasi pelabuhan teluk
bayur, pembangunan terowongan di bungus
teluk kabung, pembangunan jalan dua
arah di By Pass, Peremajaan pasar-pasar
tradisional jadi pasar semi modern,
optimalisasi terminal bis bingkuang,
pembangunan sentra niaga penggrosiran
disekitar terminal, pemindahan kantor-
kantor pemerintahan serta pembangunan
pusat layanan terpadu, pembangunan
jalan layang ke Bandara Minangkabau,
pembangunan ring road sepanjang pantai
padang, pembangunan sentra wisata
bahari dengan berbagai fasilitas
seperti hotel, resort, restoran,
pertokoan, apartemen dan wahana bermain
keluarga dipantai muaro. Namun emaknya
yang baru saja pulang dari berbelanja
dipasar raya hanya diam saja. Wajahnya
yang mulai menua tampak basah dengan
keringat. Terbayang dibenaknya harga
kebutuhan harian yang mulai naik lagi.
Suasana pasar raya yang sumpek, panas,
bau dan becek. Angkutan kota yang
hangar-bingar dengan dentuman musik
yang membuatnya sakit kepala. Tumpang-
tindih tidak beraturan. Bahkan dalam
perjalanan pulang sopirnya yang masih
ingusan berkali-kali hampir tabrakan
karena lampu merah banyak yang tidak
berfungsi. Belum lagi perjalanan
mereka terpaksa melambat karena
dihadang oleh genangan air sisa hujan
semalam karena drainase yang buruk.
Banyaknya parkir liar hampir
disepanjang pinggir jalan. Namun PAD
tetap saja kurang Pengemis, Anank
jalanan. Pengangguran, kemisikinan Kota
ini punya banyak masalah yang tak
kunjung terselesaikan sementara kita
masih asik bermimpi lalu keletihan
menunggu mimpi itu jadi nyata …
Ujang tidak berpatah arang ia masih
terus saja berciloteh tentang negeri
impian yang baru saja ia dengar. Ia pun
bersiap untuk menggelar mimbar bebas
dilapau one Winar. Ini pesan yang harus
disampaikan. Semua harus tahu. Tentang
rencana indah kota Padang kedepan.
Meskipun terdengar seperti alunan rabab
pasisia ditengah malam buta sayup-sayup
dibawa oleh angin laut yang basah
sementara kita lelap tertidur …..
Padang, New Year 2008 ......
bernama Ujang Palangkin. Meskipun
namanya terkesan aneh tapi Ujang
Palangkin merupakan sosok seorang anak
nagari yang sangat menjunjung nilai-
nilai luhur yang terkandung dalam
filosofi Padang Kota Tercinta Kujaga
dan Kubela. Hari kehari Ujang Palangkin
selalu menyibukkan dirinya mengikuti
informasi tentang perkembangan kota.
Bahkan jika sehari terlewatkan karena
sesuatu dan lain hal maka Ujang
Palangkin pun akan tunggang-tunggik
mencari tahu apa yang telah terjadi.
Tidak ada sedikit pun tentang kota
Padang yang lepas dari pengetahuannya.
Mulai dari rendahnya kinerja aparat
pemerintahan yang menyebabkan turunnya
pencapaian target PAD hingga kota
Padang yang sekali lagi dianugerahi
penghargaan tingkat nasional karena
dianggap memiliki system drainase
terbaik. Meskipun terancam gagal
mempertahankan Adipura justru karena
drainase yang buruk. Bahkan jika
seandainya Ujang Palangkin
berkesempatan berdialog langsung dengan
Walikota Padang maka ia pasti akan
memaksa sang Walikota batanggang
samalam suntuak mendengarkan seribu
satu keluhan, kritikan dan gagasannya.
Semua karena Ujang Palangkin sangat
mencintai Kota Padang jauh melebihi
cintanya pada Upiak Banun, gadis
pujaannya yang telah lama pergi
merantau kenegeri orang karena sejak
lulus kuliah dan jadi sarjana ekonomi
tidak juga kunjung dapat pekerjaan
dikota Padang. Padahal Upiak Banun
termasuk satu diantara ratusan gadis
lainnya yang rajin bagaluntun puntun
dikantor pos dan di kantor disnaker
untuk mencari lowongan pekerjaan. Namun
apa daya rejekinya memang ada dinegeri
orang. Maka dapat dibayangkan betapa
sedihnya Ujang Palangkin melepas
kepergian gadis sibiran tulangnya
diterminal bis bingkuang yang lengang
dan mulai lapuk dimakan waktu. Ketika
itu hanya ada dia, hatinya yang luka
dan seekor jawi yang digembalakan
penduduk disekitar termina itu yang
katanya terminal termegah disumatera .
Bekerja sebagai seorang tenaga
marketing disebuah perusahaan otomotif
abal-abal telah membuat Upiak Banun
menjelma jadi seorang gadis metropolis
yang sok melek tekhnologi dan sok gaul.
Ujang Palangkin hampir pingsan demi
melihat foto yang dikirimkan Upiak
Banun dengan wajahnya yang penuh bedak,
mascara, rambut pirang seperti
terpanggang matahari serta pakaian
ketat yang menyembulkan kemolekkan
tubuhnya dari mulai bagian paling atas
hingga kebagian paling bawah. Setiap
kali menelpon pun Upiak Banun asik
berciloteh tentang gaya hidupnya yang
extravaganza, dengan sesekali diselingi
istilah-istilah ala selebriti ibu kota.
Capeek deeh …. Pernah sekali Upiak
Banun mengajak Ujang Palangkin bervideo
call dengan fasilitas 3G agar kangennya
bisa lebih terobati namun Ujang
Palangkin terpaksa berdusta karena
handphonenya memang hanya bisa untuk
menelpon dan berkirim pesan saja.
Akhirnya Ujang Palangkin lebih suka
melimpahkan segenap perhatiannya pada
perkembangan kota Padang yang ia cintai
daripada mengurusi si buah hati yang
justru membuatnya semakin makan hati.
Suatu ketika Ujang Palangkin begitu
bersemangat setelah mendengar program
dialog interaktif di Radio Pronews FM.
Kebetulan pagi itu sedang mengangkat
topic tentang kota Padang kedepan.
Acara itu dibawakan oleh presenter
kondang idolanya Nico surya dengan
pembicara dari pemerintah kota Padang.
Saking bersemangatnya Ujang Palangkin
pun ingin ikut berinteraksi
menyampaikan gagasan-gagasannya yang
selama ini hanya jadi perbincangan
orang-orang dilapau One Winar saja.
Namun sayang untung tak dapat diraih
malang tak dapat ditolak pulsanya yang
tinggal tujuh ribu seratus lima puluh
rupiah itu ternyata sudah habis masa
aktifnya. Dengan berat hati terpaksa
Ujang Palangkin manggut-manggut didepan
pesawat radio yang telah turun temurun
hingga lima generasi itu. Hingga acara
itu selesai Ujang Palangkin tidak
sekalipun keluar dari kamarnya.
Sekali keluar Ujang Palangkin langsung
berkoar tentang program-program
pemerintah untuk menjadikan kota Padang
sebagai salah-satu pusat ekonomi,
industri dan niaga di Sumatera. Ia
bercerita tentang rencana pemerintah
melakukan revitalisasi pelabuhan teluk
bayur, pembangunan terowongan di bungus
teluk kabung, pembangunan jalan dua
arah di By Pass, Peremajaan pasar-pasar
tradisional jadi pasar semi modern,
optimalisasi terminal bis bingkuang,
pembangunan sentra niaga penggrosiran
disekitar terminal, pemindahan kantor-
kantor pemerintahan serta pembangunan
pusat layanan terpadu, pembangunan
jalan layang ke Bandara Minangkabau,
pembangunan ring road sepanjang pantai
padang, pembangunan sentra wisata
bahari dengan berbagai fasilitas
seperti hotel, resort, restoran,
pertokoan, apartemen dan wahana bermain
keluarga dipantai muaro. Namun emaknya
yang baru saja pulang dari berbelanja
dipasar raya hanya diam saja. Wajahnya
yang mulai menua tampak basah dengan
keringat. Terbayang dibenaknya harga
kebutuhan harian yang mulai naik lagi.
Suasana pasar raya yang sumpek, panas,
bau dan becek. Angkutan kota yang
hangar-bingar dengan dentuman musik
yang membuatnya sakit kepala. Tumpang-
tindih tidak beraturan. Bahkan dalam
perjalanan pulang sopirnya yang masih
ingusan berkali-kali hampir tabrakan
karena lampu merah banyak yang tidak
berfungsi. Belum lagi perjalanan
mereka terpaksa melambat karena
dihadang oleh genangan air sisa hujan
semalam karena drainase yang buruk.
Banyaknya parkir liar hampir
disepanjang pinggir jalan. Namun PAD
tetap saja kurang Pengemis, Anank
jalanan. Pengangguran, kemisikinan Kota
ini punya banyak masalah yang tak
kunjung terselesaikan sementara kita
masih asik bermimpi lalu keletihan
menunggu mimpi itu jadi nyata …
Ujang tidak berpatah arang ia masih
terus saja berciloteh tentang negeri
impian yang baru saja ia dengar. Ia pun
bersiap untuk menggelar mimbar bebas
dilapau one Winar. Ini pesan yang harus
disampaikan. Semua harus tahu. Tentang
rencana indah kota Padang kedepan.
Meskipun terdengar seperti alunan rabab
pasisia ditengah malam buta sayup-sayup
dibawa oleh angin laut yang basah
sementara kita lelap tertidur …..
Padang, New Year 2008 ......
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar