Senin, 29 Desember 2008

IT'S MOTHERS DAY


I Love You Mom



Sebelumnya aku tidak begitu peduli dengan perayaan hari ibu. Aku bahkan hampir lupa kapan perayaan hari ibu itu. Hingga kemudian aku ditugaskan untuk menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan perayaan hari ibu. Ada dua kegiatan yang harus aku laksanakan, pertama sebuah seminar tentang perempuan yang mampu memberi inspirasi bagi lingkungannya yang akan menghadirkan ibu gubernur dan sejumlah tokoh perempuan. Meskipun sempat terkendala berkali-kali bahkan hingga menit-menit terakhir Alhamdulillah akhirnya kegiatan itu terlaksana juga dengan baik. Kegiatan kedua adalah perayaan hari ibu di sebuah mal dipusat kota Pekanbaru yang menyajikan berbagai acara hiburan untuk ibu dan anak serta kunjungan dari seorang artis ibu kota. Acara itu pun berlangsung dengan semarak dihadiri oleh ratusan warga kota Pekanbaru. Minggu itu benar-benar merupakan minggu yang sibuk untukku.


Seperti yang selalu terjadi, pesta berakhir begitu cepat. Kemeriahan itu pun susut begitu saja. Segala kesibukan, hingar-bingar, hiruk-pikuk dan gelak-tawa pada akhirnya bermuara dikesunyian belaka. Tidak peduli betapa berat dan panjangnya perjuangan menciptakan pesta tersebut. Yang tersisa hanya lah sampah dan setangkup kenangan yang sepenuhnya jadi milik masa lalu. Aku kembali keduniaku. Sendiri dalam sunyi dan malam yang selalu kelam. Hingga kemudian aku terseret pada satu rasa yang begitu lekat dan dalam. Rasa rindu yang menyayat ruang kalbuku. Begitu dahsyatnya hingga aku merasa seakan terdampar sendirian disatu negeri asing yang tak pernah kudatangi. Aku merinding. Aku nelangsa. Aku berkutat dalam perasaan yang luar biasa hebatnya ....


Jika kemudian dunia mengajarkan kita untuk selalu memuliakan seorang ibu, bahkan hingga menempatkan syorga berada dibawah telapak kaki ibu, bagiku itu merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dipersoalkan lagi. Mengingat kita yang diciptakan dari hasrat cintanya, lalu dirawat, dijaga dan dimanja sejak kita masih berupa janin belaka hingga kemudian kita tumbuh menjadi seorang manusia sempurna. Entah berapa kali ia mengorbankan keinginannya, kesenangannya, kebutuhannya bahkan jiwa-raganya hanya demi kita anak-anaknya. Bahkan setelah kita begitu durhaka mengkhianati kasih-sayangnya seperti hujaman belati carut-marut diwajahnya namun seorang ibu akan selalu menghabiskan sebanyak mungkin waktu untuk mendoakan segala yang terbaik untuk anak-anaknya. Mulai saat ini jika ada yang datang padaku dan bertanya tentang cinta maka cinta yang sejati hanya lah cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Cinta yang sama agungnya dengan cinta Tuhan kepada makhluk-makhluknya. Cinta yang begitu ikhlas dan suci tak ternoda ....


Mama, ... aku terkenang dengan perempuan itu. Wanita sederhana dan selalu sederhana dalam hidupnya. Sejak kecil ia telah hidup dengan ibu tiri dan telah merasakan begitu banyak kesengsaraan. Ia tetap bersyukur meskipun hanya bersuamikan seorang pegawai rendahan dengan penghasilan yang bahkan selalu kekurangan. Ia bahkan ikut menafkahi kami anak-anaknya dengan menjahit pakaian tetangga, membuka kedai kecil didepan rumah, bahkan menjual lontong dan kue kering yang selalu dipersiapkannya dimalam buta. Tapi dia tidak pernah lelah. Dia tidak pernah resah. Dia juga tidak pernah mengeluh. Justru kami yang selalu rewel mempersoalkan segala kekurangan itu hingga membuatnya harus bekerja lebih keras dan lebih giat lagi. Mama seperti lentera yang harus menerangi gelap malam sendirian dan berjuang untuk bisa tetap menyala diantara desau angin malam yang dingin dan basah.


Mengenang Mama membuatku jadi begitu emosional. Insya Allah aku bisa menanggung luka sepedih apapun jika setan paling terkutuk dari dasar neraka mencelakaiku dengan cakar-cakarnya. Namun aku bisa dengan mudah luruh dalam derai air mata hanya karena mengenang perempuan itu. Aku tidak pernah tahu apakah dia pernah bahagia. Yang aku tahu ia sudah menderita sejak masa kecilnya. Bahkan ketika aku tumbuh jadi seorang remaja aku juga ikut menyakitinya. Aku melakukan banyak hal yang membuat hatinya terluka dan lara. Aku mencari kesenanganku dalam uraian air matanya. Aku bahkan pernah meninggalkannya begitu saja hanya karena ingin mencumbui kesombonganku semata. Namun selalu terbukti dan tidak pernah tidak bahwa perempuan yang sama yang selalu aku panggil Mama itu selalu saja jadi malaikat pelindungku. Saat luka berdarah-darah memenuhi tubuhku, saat kemunafikan dunia akhirnya menghukumku, saat nafasku pun tingal satu-satu, saat itu lah dia hadir merentangkan kedua sayapnya dan memelukku dengan penuh cinta. Seketika tanpa diminta dia hadir membentengiku dengan kenyamanan. Meskipun untuk itu dia justru harus mengorbankan dirinya. Ah, ... sejauh mana pun aku pergi, sebanyak apapun manusia yang aku temui, rasanya tidak akan pernah ada kasih-sayang seindah itu. Ya TUHAN yang maha berkuasa jika Engkau berkenan izinkan kelak aku membuatnya bahagia! Meskipun aku yakin itu itu tidak akan pernah bisa mencicil sedikit pun hutang-hutangku kepadanya ......



In The End of 2008

Minggu, 28 Desember 2008

REFLECTION



Back To Work ...



Aku tercenung cukup lama menyadari betapa ramahnya Pekanbaru menyambutku kali ini. Hanya dalam hitungan hari saja aku sudah diterima bekerja disebuah perusahaan media yang cukup ternama. Pekerjaan yang aku sukai. Kebetulan aku memang memiliki bakat dan minat yang besar dibisnis media. Rasanya aku telah menghabiskan separuh dari masa mudaku sebagai seorang pekerja media. So, ketika kali ini aku harus kembali kedunia yang sama aku merasa jeda waktu yang sempat terlepas selama ini seakan tertebus kembali. Ya, aku jadi begitu exciting. Aku mulai bersemangat.


Sebagian orang berpendapat pekerjaan sebagai seorang penyiar radio atau wartawan koran adalah pekerjaan yang cukup bergengsi. Penyiar radio dan wartawan koran selama ini sering diidentifikasi sebagai sosok anak muda yang pintar, serba tahu dan punya banyak teman. Aku pernah jadi penyiar radio dan juga pernah jadi wartawan koran. Aku pernah merasa cukup dihargai karena profesiku itu. Aku pernah benar-benar menikmatinya. Hingga kemudian hidup menuntut lebih dari sekedar kesenangan dan kepuasan batin. Hidup butuh lebih dari sekedar eksistensi dan idealisme. Hidup memaksaku untuk melihat realitas yang ada. Ketika itu lah pekerjaan sebagai penyiar radio atau pun wartawan koran seperti kehilangan citranya dimataku dan dimata orang-orang disekitarku. Status sebagai seorang pekerja media kemudian menjadi sesuatu yang amat sangat biasa. Bahkan pada saat-saat tertentu bisa jadi terasa sebagai beban. Apalagi pada saat calon mertua mulai bertanya tentang penghasilan ....


Tidak bisa dipungkiri maraknya industri media didaerah, baik media elektronik maupun media cetak, sering tidak disertai dengan perencanaan dan penyelenggaraan bisnis yang baik. Akibatnya pekerjaan sebagai pekerja media seperti kehilangan auranya. Jika sebelumnya jadi pekerja media itu harus pintar maka sekarang pintar saja ternyata tidak cukup. Untuk bisa bertahan hidup layak ditengah hantaman tuntutan ekonomi seorang pekerja media tidak lagi bisa hanya sekedar pintar tapi harus pintar-pintar. Sebuah guyonan yang sangat umum dikalangan pekerja media didaerah. Menggelikan sekaligus menyedihkan. Tapi demikian lah kenyataannya. Bahwa banyak diantara mereka yang masih harus gali lobang tutup lobang untuk kehidupan sehari-hari mereka, itu lah kenyataannya. Bahwa banyak diantara mereka yang masih harus hidup sangat sederhana dirumah kontrakan atau nebeng dirumah mertua, itu lah kenyataannya. Bahwa mereka tetap harus bekerja dibawah tekanan dan target yang ketat, itu lah kenyataannya. Jadi, selalu ada alasan jika banyak diantara mereka yang kemudian memilih cara lain untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Bahkan dengan cara yang tidak seharusnya dilakukan sebagai seorang pekerja media. Sebuah ironi tapi sulit untuk dipungkiri.


Hal lain yang aku saksikan didunia media adalah tradisi yang tidak menguntungkan antara bidang produksi dan bidang bisnis. Selalu ada ego sektoral yang membuat sesuatu yang sederhana menjadi begitu rumit. Meskipun masing-masing sadar bahwa mereka bekerja demi kebesaran nama yang sama. Hal ini mungkin disebabkan perpektif yang berbeda dalam melihat suatu permasalahan. Bidang produksi dalam hal ini rekan-rekan redaksi biasa memandang masalah secara idealis sementara rekan-rekan dibisnis cenderung lebih pragmatis. Redaksi berpikir tentang apa yang bisa mereka berikan sementara bisnis berpikir tentang apa yang mereka bisa dapatkan. Keduanya memiliki landasan kepentingan yang sama kuatnya. Tentu saja akan sangat menyenangkan bila kedua bidang itu bisa saling memahami dan memilih untuk saling mendukung satu sama lain. Jika saja itu terjadi maka mereka akan menjadi sebuah kekuatan yang solid dan saling melengkapi.


Jika kemudian aku merasa tetap berminat bekerja diindustri media tentu bukan karena semua kenyataan itu. Aku tidak terlalu khawatir jika harus menemukan tekanan yang demikian kuat, tuntutan yang begitu tinggi dan hiruk-pikuk kepentingan yang selalu tumpang-tindih. Aku pernah mengalaminya dan alhamdulillah aku bisa bertahan. Jikapun kali ini tantangannya akan lebih dahsyat maka aku akan menguji diriku seberapa jauh aku bisa bertahan. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Segala sesuatu yang diniatkan dan dilaksanakan dengan baik sejatinya akan membuahkan hasil yang baik pula. Aku mungkin seorang yang cukup moderat dan berpikiran terbuka terhadap berbagai hal namun aku relatif masih cenderung konservatif terhadap nilai-nilai. Aku selalu merasa bahwa aku telah terlahir dengan sesuatu yang ada didalam diriku. Sesuatu yang disebut dengan berkah, pemberian, bakat atau apapun istilahnya, yang harus aku eksplorasi seoptimal mungkin sebagai bekal dalam mengarungi kehidupanku selanjutnya. Jika memang dibisnis media lah semua itu bisa aku wujudkan lalu kenapa tidak? Jalan ini adalah jalan yang aku mau. Jalan yang aku pilih dan telah dipilihkan untukku. Jalan ini akan senantiasa terang dan lapang jika saja aku bisa jadi seorang yang ikhlas dan penuh dengan rasa syukur ....




In The End Of 2008

Sabtu, 27 Desember 2008

NEO PROLOG Part Two



VINI, VIDI, VICI ....


Pekat malam menyambut kedatanganku di Pekanbaru. Aku memilih untuk turun dipinggir jalan Tuanku Tambusai dimana aku pernah menghabiskan banyak waktu sebelumnya. Sebenarnya ada cukup banyak teman yang bisa aku datangi tapi malam ini terlalu larut untuk bertamu. Setidaknya aku harus menunggu pagi untuk mengganggu kenyamanan istirahat mereka. So, aku tidak punya banyak pilihan, aku harus menghabiskan sisa malam ini dipinggir jalan itu.


Ah, rasanya seperti deja vu. Aku seperti melakoni adegan yang sama seperti apa yang dulu pernah aku lakukan. Nyaris sepuluh tahun yang lalu. Ketika pertama kali aku mendatangi kota itu. Hanya saja dulu aku memasuki kota itu bersama seorang sahabat yang sangat aku hormati. Kami adalah dua remaja belia yang bertekad akan menjadi perantau-perantau tangguh yang hanya akan kembali pulang dengan membawa nama besar. Kota Pekanbaru belum lah sehebat saat ini. Kota Pekanbaru masih sebuah kota yang tengah menggeliat membentuk dirinya. Saat itu sama sekali tidak ada kekawatiran apa-apa untuk menjadikannya sebagai sebuah medan perjuangan. Rasanya kami cukup memiliki bekal untuk bisa ikut berperang mempertaruhkan kehidupan kami disana.


Hanya saja kami keliru. Bahkan setelah begitu banyak musim berganti kami masih menemukan diri kami berkeliaran dipinggir jalan. Menjadi bagian dari kelompok orang yang berputar-putar ditempat yang sama, mengkais keping-keping kecil rupiah dan semakin jauh terseret pada ketidakpastian. Setiap kali kami mencoba untuk membangun harap setiap kali pula kami menemukan langkah kami justru semakin jauh dari apa yang kami harapkan. Akhirnya sang sahabat menyerah dan memilih untuk kembali pulang. Sementara aku meneruskan perang itu sendirian. Meskipun sebagian jiwaku sudah hampir mati terbunuh.


Menarik mengenang masa lalu. Selalu ada sesuatu yang membuat kita tertegun, tersenyum dan merasa miris. Tapi hidup memang berjalan kedepan. Waktu tidak pernah sedetik pun menunggu. Terlalu lama berdiam hanya akan membuat kita semakin jauh ketinggalan. Masa lalu dengan segala pesonanya tidak lebih dari sekedar bagian dari kehidupan yang telah jadi kenangan. Sesuatu yang pantas untuk dipelajari namun tentu bukan untuk ditangisi. Bukankah dunia telah tercipta sangat lama, selama itu pula telah terkubur berjuta-juta sejarah kehidupan manusia? Aku sadar begitu banyak dan begitu berat perjuangan yang harus aku hadapi nanti. Tapi pada akhirnya hidup memang menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Bahkan ketika kita tidak memilih pun itu sudah merupakan sebuah pilihan. Dan setiap pilihan tentu akan melahirkan resiko ....


Bissmillahi rahmanni rahim, seiring dengan menyingsingnya fajar dibalik belantara beton kota Pekanbaru yang katanya bertuah itu aku mulai menapaki jalan yang aku yakini. Insya Allah jalan ini adalah jalan yang diberkahi, jalan menuju kemasa depan yang lebih baik. Jawaban dari semua doa dan kerinduan yang selama ini aku panjatkan tanpa jemu. Ya, semoga aku diberikan kekuatan, kemampuan dan kesempatan untuk mewujudkan apapun yang jadi mimpi2, cita2 dan cintaku. Semoga aku selalu dilindungi! Semoga aku selalu diberkati! Amien!



In The End Of 2008

Rabu, 17 Desember 2008

NEO PROLOG Part One





Apa Kabar Pekanbaru ... ?


Perjalanan menuju Pekanbaru seperti perjalanan menuju kemasa lalu. Meskipun hanya selang dua tahun sejak aku meninggalkan kota itu namun ada banyak hal yang membekas dalam dibenak dan batinku. Mungkin karena jeda waktu yang tidak terlalu lama itu pula kenapa bekas-bekas itu masih kuat terasa.


Terus-terang aku tidak pernah berharap akan kembali lagi ke Pekanbaru. Aku telah datang kepadanya dengan segala kemudaanku nyaris sepuluh tahun yang lalu. Ketika itu aku begitu berharap akan ada sedikit keberuntungan yang akan merubah nasib burukku. Hari kehari, musimpun berganti, aku berjuang keras membunuh rasa frustasi dan bayangan setan yang selalu saja setia mengikuti. Tapi aku tidak pernah memilih untuk diam apalagi sampai berhenti. Dengan suluh yang semakin redup, pandangan semakin kabur dan tubuh yang semakin lesu aku tetap saja melangkah menyusuri jalan-jalan kecil yang panjang dan berliku. Tidak peduli jika harus jatuh, tersesat atau bahkan terjebak pada sesuatu yang tidak pernah aku inginkan. Kenyataannya aku masih saja terus melangkah. Membiarkan seluruh tubuhku penuh dengan tetesan keringat, darah dan air mata. Jika memang demikian lah harga yang harus aku bayar untuk sampai dinegeri yang begitu aku rindukan maka aku akan membayar semahal apapun itu.


Adalah pada suatu ketika, aku tidak lagi yakin dengan apa yang aku temukan. Dengan sedikit sentuhan yang romantis dan sentimental, Setan menghujamkan cakarnya tepat dijantungku. Begitu cepat, begitu hebat, hingga aku nyaris tidak menyadari apa yang sebenarnya tengah terjadi. Tiba-tiba saja aku sudah tersungkur dalam rasa pedih yang nyaris tak tertahankan. Ternyata Bidadari yang terlihat begitu indah dan terkesan begitu hangat adalah Setan yang terkutuk. Dia telah menuntaskan dendamnya kepadaku. Justru disaat aku mulai menapak jalan terang kenegeri yang selama ini aku dambakan. Ketika itu aku merasa telah kalah dengan sangat sempurna. Perjalanan panjang dan melelahkan yang selama ini telah aku tempuh akhirnya bermuara pada kesia-siaan belaka. Aku hanya menunggu detik-detik saja menjelang ajalku jika aku tidak segera memutuskan untuk kembali pulang kembali kekota asalku. Saat itu lah aku berjanji aku tidak akan kembali ke Pekanbaru, kota yang telah menaklukkanku dan menjadikanku seorang pecundang yang sejati.


Hampir subuh ketika mobil sewa yang aku tumpangi mulai memasuki Pekanbaru. Barisan pertokoan, lampu-lampu jalan, papan reklame dan warung tenda yang bertebaran, terkesan seperti sebuah parade penyambutan yang sendu. Ada sensasi yang berbeda yang aku rasakan. Ada gairah yang sulit untuk kukatakan. Seakan aku datang kesana untuk pertamakalinya. Memagut setangkup asa yang berkejaran dengan begitu banyak pertanyaan. Hmmm, Apa kabar, Pekanbaru? Aku datang kembali kepadamu! Mungkinkah kali ini aku akan mampu memetik bintang dilangitmu? Satu hal yang pasti aku telah banyak belajar dari masa lalu. Aku telah banyak meratap untuk itu. Kini saatnya aku menebus semua kekeliruan itu. Aku berjanji, sesaat saja setelah aku menyentuh lagi tanahmu maka aku akan segera berlari sejauh yang aku mampu, mengejar lagi semua mimpi-mimpiku yang sempat kau rebut .....


In The End Of 2008