Minggu, 10 Februari 2008

CATATAN NICO SURYA : SWEET CHILD O'MINE

SWEET CHILD O’MINE

Pada banyak kesempatan saya selalu dengan rasa penuh bangga bercerita pada teman-teman dekat saya betapa saya sangat mencintai masa kecil saya yang menurut saya sangat lah indah tiada tara. Setiap kali saya bercerita maka saya akan selalu merasa begitu bersemangat dan biasanya sulit untuk berhenti. Meskipun pada akhirnya saya tetap saja merasa hampa karena masa lalu itu telah terlalu jauh tertinggal dan tak mungkin lagi untuk ditemukan kembali.

Adalah sebuah desa yang begitu indah dan sejuk dengan nuansa alam perbukitan, lembah, sungai dan sawah yang terhampar luas berjenjang-jenjang. Kami menempati sebuah rumah kayu berbentuk rumah panggung dengan atap bergonjong layaknya rumah adat minangkabau yang banyak ditemukan didaerah-daerah. Setiap pagi hari saat kampung kami masih diliputi kabut embun dan sinar matahari masih samar-samar Ibu sudah sibuk menyiapkan sarapan berupa lontong atau bubur kacang hijau untuk Bapak yang akan berangkat kerja dan saya yang akan pergi sekolah. Saya sekolah disebuah SD Inpres atau isntruksi presiden yang pada saat itu banyak dibangun didaerah-daerah. Sekolah saya terletak dipuncak bukit hingga untuk bisa sampai kesana setiap hari saya harus melewati jalan berliku sepanjang hampir lima kilometer. Tapi biasanya kami lebih suka mengambil jalan pintas melalui dinding bukit yang terjal yang bisa menyingkat jarak hampir separuhnya. Hanya saja kalau sedang musim hujan kami sering tergelincir dan sampai disekolah dengan seragam yang penuh dengan lumpur. Tapi tidak seorang pun diantara kami yang disuruh pulang karena kotor sebab sebagian dari para guru pun sering sampai disekolah dalam keadaan berlumpur. Sekolah kami juga dilengkapi dengan sebuah kantin yang dikelola oleh keluarga penjaga sekolah. Jajanan kesukaan saya ketika itu adalah kerupuk dari ubi yang lebar berbentuk bulat pipih yang dilapisi kuah sate dan ditaburi mie putih. Saya harus membuka mulut saya lebar-lebar setiap kali akan memakan kerupuk itu agar mulut saya tidak belepotan dengan kuah sate. Hmm, lezat.

Siang sepulang sekolah saya biasanya menghabiskan waktu bermain bersama teman-teman disebuah kebun yang dipenuhi dengan pohon-pohon jati. Saya suka main perang-perangan dengan menggunakan pelepah pisang sebagai senjata dan daun bunga liar sebagai topi. Kadang-kadang kami nekat main hingga kepematang-pematang sawah. Kami berlarian dengan lincah meskipun ukuran pematang itu sangatlah kecil. Kami sering nonkrong lama-lama dipondok mungil ditengah sawah sambil menyelesaikan pe-er. Sesekali kami mengusir burung-burung punai yang ingin merusak padi dengan menggerak-gerakkan orang-orangan sawah. Ketika senja datang menjelang kami berebutan naik kepedati petani yang hendak pulang. Pedati itu ditarik seekor sapi yang jalannya amat lah pelan. Sebelum pulang kerumah kami singgah disebuah tempat pemandian berupa aliran sungai yang dibuatkan beberapa pancuran. Airnya sejuk sekali. Sesampai dirumah biasanya saya menemukan Ibu tengah menyuapi adik-adik sementara Bapak sibuk menyalakan lampu petromaks. Maklum ketika itu kampung kami memang belum dialiri listrik. Hingga untuk penerangan malam kami harus menggunakan lampu teplok dan lampu petromaks yang selalu dikerubuti laron-laron. Berhubung dulu belum ada televisi maka sejak maghrib saya sudah meninggalkan rumah menuju surau yang terletak disatu sudut kampung. Disana sudah menunggu teman-temanku yang lain yang juga mengenakan sarung, peci dan membawa buku juz amma. Kami selalu berebutan untuk menabuh beduk dan memekikkan adzan ketika waktu shalat tiba. Usai shalat Isya kami belajar mengaji dengan seorang ustad yang waktu itu begitu kami hormati. Pengajian itu berlangsung hampir setiap malam dan biasanya baru selesai menjelang tengah malam. Bahkan tidak jarang kemudian kami sekalian saja menginap disurau bersama teman-teman yang lain. Tapi biasanya disana kami jadi susah tidur karena asik bercanda dan bercerita. Kami baru bisa tidur setelah benar-benar kecapean. Hingga kemudian waktunya shalat subuh tiba. Kami pun tidak lagi berebut menabuh beduk atau meneriakkan azan karena semuanya masih pada ngantuk. Usai shalat subuh berjamah baru kemudian kami pulang kerumah masing-masing dan bersiap untuk kesekolah.

Pada saat-saat tertentu, ketika saya sedang sendirian, bosan dengan segala rutinitas hidup yang menyebalkan serta sedang ingin jeda dari semua kemunafikan dunia, saya sering hanyut dalam fragmentasi kehidupan masa lalu khususnya masa kecil saya itu. Betapa saya begitu merindukannya. Amat sangat merindukannya. Begitu rindunya hingga kadang-kadang saya ingin mengoyak kembali tabir waktu dan kembali seperti dulu. Ketika saya masih seorang bocah kecil yang bebas berlari, bermain, tertawa, menari bahkan menangis sesuka hati. Ketika semuanya hanyalah apa yang kita rasakan dan apa yang kita nikmati. Ketika semuanya masih begitu luhur, tulus dan sederhana sekali. Namun kenyataannya sekarang semua itu sudah jadi sesuatu yang mahal bahkan nyaris mustahil. Sekarang semua itu hanya mimpi. Dongeng penghantar tidur yang tak lagi memiliki arti. Hanya kenangan .....

Nico Surya , Padang, Februari 2008







Tidak ada komentar: