Sabtu, 07 Februari 2009

IT'S TIME FOR LUNCH ....



Makan Siang Bernilai Ibadah


Aku memanggilnya Bang Rul. Usianya sekitar empat puluh sekian. Sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu yang bekerja serabutan merenovasi rumah orang. Aku mengenalnya ketika ia bekerja selama hampir sebulan dirumah pamanku. Rencananya rumah yang baru saja dibeli dari pemilik lamanya itu akan segera disewakan. Agar tidak mengecewakan pamanku meminta Bang Rul merenovasi beberapa bagian serta memperbaiki sejumlah fasilitas yang mulai rusak. Sehari-hari aku disuruh mendiami rumah itu sekaligus membantu Bang Rul jika sewaktu-waktu ia membutuhkan sesuatu.


Berhubung rumah itu belum dilengkapi dengan perabotan dan perlengkapan rumah tangga lainnya maka aku terpaksa menikmati hidup dengan segala keterbatasan. Hanya ada dipan kecil untuk tempat tidurku dan sebuah televisi yang gambarnya mulai lari-lari. Tidak lupa pula dua benda yang selalu menjadi sahabat setiaku, play station dan notebook. Namun untuk urusan makan aku terpaksa harus menunggangi motor bututku kesebuah kedai nasi yang terletak hampir setengah kilo dari lokasi rumah pamanku itu.


Setiap minggu pamanku memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan aku disana. Termasuk uang makanku dan uang makan Bang Rul. Semestinya aku memang membeli dua bungkus nasi setiap kali aku kekedai nasi itu. Tapi Bang Rul lebih memilih uang mentahnya saja karena sehari-hari ia sudah dibekali istrinya dengan rantangan dari rumah. Tentu saja itu bukan masalah. Mungkin itu caranya agar bisa lebih berhemat. Untuk Bang Rul yang hidup serba kekurangan itu uang senilai sepuluh ribu rupiah sehari itu sudah sangat berarti. Dengan uang itu ia bisa sekaligus memberi makan istri dan ketiga anaknya meskipun dengan lauk yang sangat sederhana.


Suatu saat aku menemukan bang Rul baru akan membuka rantangan makan siangnya setelah menjelang sore. Hampir dua setengah jam dari jadwal biasanya. Ketika aku tanya ia mengatakan kalau tadi ia harus mengerjakan beberapa bagian yang cukup sulit hingga ia memilih menyelesaikan dulu tugasnya itu baru beristirahat. Hal itu pun tentunya bisa dimaklumi. Namun aku sedikit terganggu ketika melihat isi rantangannya yang ternyata sudah mulai basah. Nasi dari beras murah itu tampak sudah berair. Dua potong terung dan sepotong telur itu pun sudah tidak lagi terlihat gurih. Tapi dia tetap bersemangat hendak menyantap makanan dingin itu. Terbujuk oleh rasa kasihan aku menawarkan untuk membelikannya nasi bungkus saja tanpa mengurangi uangnya hari itu. Aku rasa tidak ada salahnya juga sesekali ia menikmati makanan yang sedikit lebih baik. Tapi Bang Rul berkeras menolak tawaranku itu. Ia tetap saja menyantap makanan dinginnya dengan lahap.

Usai makan kami pun terlibat obrolan sambil menikmati sisa kopi dan asap rokok. Saat itu lah aku belajar banyak tentang sesuatu yang sebelumnya aku tidak tahu dari seorang tukang kayu sederhana bernama Bang Rul itu. Ia mengatakan bahwa istrinya biasa bangun dipagi buta untuk menanak nasi dan memasak lauk-pauk. Istrinya telah meninggalkan kenikmatan tidur malamnya demi mempersiapkan bekal untuknya bekerja. Tidak jarang ia menemukan istrinya tengah berusaha keras menahan kantuk demi melaksanakan kewajibannya itu. Bang Rul percaya bahwa istrinya melakukan semua itu dengan tulus dan ikhlas. Bang Rul juga yakin bahwa setiap butir nasi yang ditanak istrinya itu akan menjadi persembahan yang mulia dimata TUHAN. Sama mulianya dengan setiap titik keringat yang ia teteskan selama melakukan pekerjaannya sehari-hari.


Jadi demikianlah alasannya kenapa Bang Rul tidak pernah mau menyia-nyiakan bekal yang telah dipersiapkan istrinya itu. Ia berharap dengan menikmati bekal makanan buatan istrinya itu maka ibadah istrinya akan jadi bekal dihari hisab nanti. Diam-diam aku merasa begitu terharu mendengar penuturan lelaki paruh baya itu. Betapa cinta kasih diantara mereka begitu agung dan indah. Bahkan dalam kesederhanaan hidup yang demikian mereka masih saling membekali. Sesuatu yang mungkin mulai jarang kita lakukan ditengah pola dan gaya hidup serba praktis seperti sekarang ini. Dalam hati aku berharap jika kelak tiba masanya aku dan siapapun yang kelak beruntung jadi istriku bisa berbuat sama mulianya seperti apa yang mereka lakukan. Mungkin tidak tiap hari tapi mudah-mudahan selalu ada waktu untuk itu. Semoga TUHAN selalu mengingatkanku .... Insya Allah!



Early Februari 2009


2 komentar:

Anonim mengatakan...

Yup, benar mas, kegiatan makanpun bisa bernilai ibadah

Anonim mengatakan...

Pak Ekaaa... Gabung di blogger bertuah yuk... kunjungi blog aku atau ke bloggerbertuah.blogspot.com